Dua Model PDKT

Beberapa orang membutuhkan trik untuk mendekati pujaan hati mereka karena berulang kali mencoba ternyata selalu untuk mengalah alias kandas di tengah jalan. Padahal sudah keluar banyak uang untuk kampanye! Saya tak yakin bahwa yang diperlukan adalah suatu trik atau teknik lebih daripada pancaran karakter seseorang untuk menarik simpati seorang pribadi. Sudah terlalu banyak kasus yang terjadi karena orang terjebak oleh teknik pdktYesus menyodorkan dua model pdkt yang direpresentasikan oleh seorang Farisi dan pemungut cukai.

Orang Farisi yang dijadikan contoh model pdkt itu adalah orang yang sangat concern pada kehendak Allah, dan pencariannya jujur, tidak dilandasi suatu kebohongan. Orang Farisi memang berusaha mencapai kesempurnaan dalam mengikuti kehendak Allah. Maka, sebetulnya yang dia doakan adalah sesuatu yang indah. Ini bukan doa orang-orang modern yang hendak mendikte Allah supaya menyelesaikan proyek ini dan itu, memuluskan perizinan bangunan, mengubah undang-undang, dan sebagainya. Bukan! Doa orang Farisi itu adalah ungkapan syukur nan jujur.

Syukurlah bahwa aku, berkat usaha menaati Taurat, tidak jadi garong, orang lalim, penipu, dan sejenisnya. Syukurlah karena ketaatan pada hukum-Mu, aku tidak jatuh dalam dosa berzinah. Syukurlah karena menyimak pelajaran, aku mengerti mana yang baik untuk kujalankan seturut kehendak Allah. Ini sungguh-sungguh doa yang indah dan karenanya orang Farisi itu tak bisa dicap sombong. Lha, trus dari mana bisa dinalar bahwa dia ini meninggikan dirinya? Dia mengungkapkan kebenaran secara jujur bahwa dia memang mensyukuri diri karena tak jatuh dalam aneka dosa. Mosok ini disebut sombong alias meninggikan diri? Gimana nalarnya, jal?

Mari lihat bagaimana orang Farisi itu berdoa. Ia berdiri (posisi standar) dan berdoa pada dirinya sendiri! Ini problem awal peninggian dirinya. Sepengetahuan saya yang terbatas oleh kamus, πρὸς ἑαυτὸν ταῦτα προσηύχετο berarti dia berdoa kepada dirinya sendiri (ἑαυτὸν: kata ganti orang ketiga tunggal refleksif) dan saya tak mengerti mengapa dalam terjemahan bahasa Indonesia dikatakan ‘berdoa dalam hatinya’. Mboh.

Saat orang menempatkan diri di hadapan Tuhan (versodio) dan malah berdoa kepada dirinya sendiri, ia berada di ambang kesesatan narcisisme. Ungkapan “Syukur ya Tuhan karena aku bukan orang lalim” itu tak tertuju pada Allah, melainkan pada kekuatannya sendiri: karena aku taat aturanlah maka aku tak jadi penjahat, karena aku rajin berdoalah maka aku tak sempat berpikir untuk mencuri. Kalau acuannya diri sendiri, njuk ngapain bersyukur pada Tuhan dongGada relasi dengan Tuhan (karena sibuk dengan teknik atau trik).

Problem berikutnya ialah orang Farisi menempatkan dirinya dalam konfrontasi dengan pribadi lain. Sebetulnya cukuplah dia mengatakan “Syukur aku tidak jadi pemungut cukai.” Sayangnya, ia menyatakannya dengan penghakiman moral terhadap pemungut cukai di belakangnya. Ia tak berelasi baik dengan pemungut cukai itu sudah sejak dalam sikapnya: diskriminatif.

Bisakah orang bersyukur atas hidupnya tanpa menghakimi orang lain? Mungkinkah orang berusaha keras mencari kehendak Allah tanpa mendiskriminasi mereka yang kesulitan untuk melakukannya? Tanpa model pdkt seperti itu, hidup ini isinya cuma perang: perang agama, politik, ekonomi, dan sebagainya.

Si pemungut cukai merepresentasikan model pdkt yang berbeda: sadar diri bahwa hatinya sudah terlalu jauh dari Allah dan sesama. Doanya singkat: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.


MINGGU BIASA XXX C/2
Hari Minggu Misi
23 Oktober 2016

Sir 35,12-14.16-18
2Tim 4,6-8.16-18

Luk 18,9-14

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s