Semua Karena Cinta?

Orang baik pada umumnya tidak gemar mencari musuh, tetapi orang bijak menimba makna bahkan dari musuhnya. Kepala rumah ibadat yang diceritakan hari ini kurang lebih adalah orang baik, tetapi ia kurang bijak. Ia gusar hatinya karena ada orang yang menyembuhkan perempuan yang sudah 18 tahun sakit. Loh, wong ada orang menyembuhkan orang sakit kok malah gusar? Ya justru itulah problemnya: karena penyembuhan itu terjadi di hari Sabat. Hukum tidak mengizinkan orang untuk bekerja pada hari Sabat.

Dia benar dan maksudnya juga baik untuk menjaga supremasi hukum. Bayangkan saja bagaimana hidup ini tanpa supremasi hukum: dari zaman jebot sampai sekarang kira-kira ya kejadiannya seperti kehancuran di wilayah Timur Tengah itu. Memang aturan hari Sabat dibuat supaya, seperti konon Allah saja beristirahat, orang-orang yang takut akan Allah itu membebaskan diri dari cengkeraman hiruk pikuk duniawi sehingga memberi kondisi yang cukup untuk mendengarkan Sabda Allah dan bersama umat beriman lainnya mengungkapkan syukur dalam ritual tertentu.

Kalau saja kepala rumah ibadat itu mau belajar dari orang yang dianggapnya sebagai pelanggar hukum Sabat, ia mendapatkan kebijaksanaan yang tak diperolehnya dari fokus menjaga tradisi (yang seolah-olah setiap bentuknya harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan). Bagaimana ia dapat belajar dari si pelanggar hukum itu?

Ini lagi-lagi soal terjemahan. Yesus tidak mengatakan “Hai Ibu, penyakitmu telah sembuh” [lagian, mosok penyakit telah sembuh?], tetapi “ἀπολέλυσαι τῆς ἀσθενείας σου” (engkau terlepaskan/terbebaskan dari kelemahanmu). Tentu saja dia tak berbahasa Yunani dan bukan itu yang dikatakannya, tetapi maksud saya, ini bukan soal yang bisa disederhanakan sebagai kesembuhan dari sakit. Faktanya sama: perempuan itu sembuh dari sakit yang ditanggungnya selama 18 tahun, tetapi perspektif yang dibawa Yesus lebih mencerahkan. [Barangkali baik juga dibaca kembali Some Notes on Healing]

Bukankah justru dengan pembebasan perempuan dari beban hidupnya selama 18 tahun itu dia menegaskan semangat atau roh dari hukum Sabat sendiri: kebebasan manusia untuk memuliakan Allah dengan kepenuhan hidupnya? Yesus memberi makna sejati kepada hukum Sabat yang begitu dihormati oleh kepala rumah ibadat. Norma hukum Sabat tentu penting, tetapi pribadi-pribadi manusia yang ditatanya tentu lebih penting lagi. Ini bukan soal setiap orang dengan seenak-enaknya melanggar hukum, yang justru pelecehan terhadap kemanusiaan sendiri. Ini soal mengembalikan hukum kepada  fungsi asalinya: menjamin kebebasan manusia di hadapan Allah.

Bruder Roger yang dulu memimpin suatu komunitas lintas agama konon mengingatkan: kita bisa saja melakukan pekerjaan dan tindakan yang begitu heroik dan awesome dan memperoleh aplaus atau jempol dari ratusan ribu atau jutaan orang, tetapi cuma satu hal yang membuat aneka tindakan dan pekerjaan itu berarti. Di penghujung hidup ini, oleh Allah dan manusia, kita akan dihakimi dengan tolok ukur seberapa jauh cinta Allah itu kita salurkan. Jujurkah orang ketika melantunkan tembang bahwa semua ini karena cinta? Atau sebetulnya ia mau mengklaim cinta untuk kepentingan dirinya sendiri (gengsi, nama baik, harga diri, popularitas, kesalehan sempit)?

Tuhan, mampukanlah kami menimba cinta-Mu yang membebaskan kami dari belenggu ideologi kami sendiri.


SENIN BIASA XXX
24 Oktober 2016

Ef 4,32-5,8
Luk 13,10-17

Posting Senin Biasa XXX B/1 Tahun 2015: Takut Kebebasan?
Posting Senin Biasa XXX Tahun 2014: Kebahagiaan Tanpa Objek