Cinta Rese’

Ada anekdot Jawa berupa dialog antara pasutri yang sudah lama menikah. Si suami tidak yakin dengan umur istrinya apakah sudah lima puluh atau belum. Sang isteri bertanya balik kenapa kok menanyakannya, apakah mau membuat pesta khusus untuk lima puluh tahun itu. Si suami menjawab,”Bukan, kalau memang sudah lima puluh, mau kutukar dengan yang 25-an dua saja.”

Pelecehan terhadap perempuan? Bergantung cara melihatnya. Bisa juga dilihat sebagai pelecehan terhadap laki-laki dengan stereotyping mata buaya atau mata keranjang seolah-olah semua laki-laki seperti itu dan perempuan tak seperti itu. Hahaha… jurus bela diri ya, Rom? Ya enggaklah, kan dah saya bilang, Yesus gak perlu dibela… loh.

Yang namanya pondasi tentulah sesuatu yang kokoh supaya bisa menopang bangunan di atasnya. Kalau pondasi goyah, bisa dibayangkan bagaimana bangunan di atasnya akan ikut ke sana kemari. Akan tetapi, barangkali nih, saya awam dalam ilmu teknik sipil, sekarang bisa dimengerti suatu jenis pondasi bangunan yang ramah terhadap gempa, yang tak bisa dimengerti seperti pondasi dalam arti ‘tradisional’, entah bagaimana itu diistilahkan. Imaji itu yang muncul di kepala saya ketika membaca dua teks hari ini.

Surat Paulus menyinggung soal rooted and grounded pada cinta dan celakanya cinta yang diacu Paulus itu adalah cinta yang membakar semua dan berisiko membawa pemisahan karena dari setiap orang yang tersengat cinta ini mesti mengambil sikap. Tak hanya itu, seperti pondasi tahan gempa itu, cinta yang dikobarkan Tuhan dalam hati orang itu senantiasa mengusiknya untuk senantiasa bergerak, bergeser, berubah. Ini cinta yang rese’, yang takkan membiarkan orang berdiam diri karena merasa sudah berada di tempat yang nyaman.

Cinta begini ini adalah cinta yang tidak disukai oleh mereka yang bermental ‘tua’: ya sudah begini saja, tidak usah repot-repot, tak usah macam-macam, tak usah ke mana-mana, sudah capek-capek membangun, dan sebagainya. Lah, bukankah itu wajar saja, Mo? Yesus juga mentalnya tak pernah tua karena dia sendiri mati muda; coba kalau dia hidup sampai tua renta thuyuk thuyuk, pasti dia juga mentalnya tua!

Yakin dengan argumentasi deterministik macam begitu? Pernah dengar orang menempuh studi doktoral pada umur 70 tahun? Pernah lihat pria bungkuk bertongkat dan jalannya susah tapi giliran tiba di tempat orang-orang berjoget lantas dia juga berjoget? Pernah lihat manula yang masih rutin jogging 10km?

Ini bukan wacana tentang kekuatan fisik, yang bisa menurun, melainkan refleksi atas jiwa yang berkobar-kobar, yang senantiasa menemukan cara untuk mengekspresikan dirinya tanpa kenal batas selain titik darah penghabisan. Jadi ingat pesan Santa Teresa: mengerjakan hal kecil dengan cinta yang besar.

Tuhan, semoga nyala api cinta-Mu senantiasa hidup dalam diri kami. Amin.


KAMIS BIASA XXIX
20 Oktober 2016

Ef 3,14-21
Luk 12,49-53

Posting Kamis Biasa XXIX B/1 Tahun 2015: Konflik tapi Damai
Posting Kamis Biasa XXIX Tahun 2014: Benci tapi Kok Cinta Ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s