Anytime Now

Orang fanatik atau fundamentalis pada umumnya adalah korban indoktrinasi atau propaganda. Fanatisme makanan tidak sebahaya fanatisme agama, yang selain menjijikkan, berpotensi menghancurkan. Ini tak terbatas pada relasi antaragama, tetapi juga intraagama sendiri bisa muncul fanatisme. Kenapa ya? Tentu saja karena orang-orangnya! Fanatisme bukan persoalan agama, ras, suku, bahasa, melainkan soal orang-orangnya yang cara merasa dan berpikirnya sesat. Lah, mosok cara merasa bisa sesat, Mo? Lha ya jelas bisalah! Contoh basi: “Bajumu bagus” njuk orang yang dikomentari bajunya itu jadi besar kepala (kalo’ cuma besar sih gapapa). Yang dikomentari bajunya kok yang besar kepala orangnya.

Loh, kan memang you are what you wear, Mo? Baju yang kita pakai itu kan kita pakai karena kita memilih, menimbang-nimbang, jadi mencerminkan siapa diri kita. Kalau kita memilih baju yang bagus, itu mencerminkan diri kita yang bagus. Preeeet. Itu malah sekaligus contoh bagus untuk sesat merasa dan berpikir! Orang bisa jatuh pada pandangan deterministik: yang bajunya bagus orangnya pasti bagus. Cobalah verifikasi dulu halnya dengan mereka yang hidup di slums dan begitu keluar dari gubuknya tampak menor mewangi. Anda bilang bajunya bagus, dan apa yang dirasakan orang itu? Masih yakin dengan you are what you wear tanpa curiga bahwa di situ ada kepentingan ideologis (baik pemakai maupun pebisnisnya)?

Teks hari ini omong soal pengetahuan akan kehendak Tuhan. Kata ‘tahu’ itu sendiri sudah langsung menunjuk pada dimensi kognitif, informatif. Kalau kita tahu hukum gravitasi, itu artinya kita punya pikiran, imajinasi bagaimana buah mangga jatuh dari pohon karena gravitasi. Entah kita pernah melihat mangga jatuh dari pohon atau tidak, pokoknya hukum gravitasi memang begitu. Mau bikin percobaan untuk membuktikan hukum itu ya sumonggo saja, tetapi secara kognitif itu jelas bisa kita tangkap dengan kapasitas kognitif kita.

Sayangnya, ‘tahu kehendak Tuhan’ beda dari ‘tahu hukum gravitasi’ itu. Ini bukan pengetahuan karena membaca buku-buku teologi, petuah guru rohani, atau blog versodio (dengan ideologi ‘a pathway to God’-nya). Dalam bahasa Kitab Suci (Ibrani), mengetahui itu lebih dekat dengan gambaran seperti mencicipi makanan, ada unsur rasa merasanya. Maka ada Mazmur berbunyi ‘cecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu’. Pengetahuan bukan spekulasi rasio yang melelahkan (dan kerap malah mbundhet), melainkan dialog tiada henti dengan kehidupan.

Saya tak tahu kapan Tuhan datang, tetapi Dia bisa datang kapan saja sekarang ini. Absurd? Tidak: kalau Dia datang, kronos jadi kairos. Jadi, gak usah risau dengan kapannya kronos, fokus saja pada kairos: memaknai riak kehidupan dalam terang iman, bukan dalam terang egosentrisme.

Diperlukan suatu olah rasa yang dikawal rasionalitas yang sehat. Orang cenderung bosan pada rutinitas dan hendak lari daripadanya. Ironisnya, lari pada rutinitas lainnya. Ia mau mengganti pola pikir kronos dengan kronos lainnya. Satu hari sama dengan 24 jam. Padha bae’. Mekanisme ini menuntun orang pada kedangkalan. Rutinitas tak hilang, dan kebosanan menjadi-jadi.

Kabar baiknya, kehendak Allah tidak monoton, bahkan dalam rutinitas hidup orang, selalu ada dalam dialog: what can I do for you, Lord


RABU BIASA XXIX
19 Oktober 2016

Ef 3,2-12
Luk 12,39-48

Posting Rabu Biasa XXIX B/1 Tahun 2015: Gak Ngerti Mau Ngapain
Posting
Rabu Biasa XXIX Tahun 2014: Jangan Lupa Bernafas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s