Mending Jadi Kafir?

Hari ini Gereja Katolik memperingati seorang tokoh jadul bernama Lukas, salah seorang kontributor kompilasi Injil, yang tak terbilang dalam dua belas rasul [dulu waktu masih terlalu bego’ saya mengira dia adalah salah satu dari 12 rasul], tetapi bisa dimasukkan dalam kelompok ‘tujuh puluh murid yang lain’ (karena angka tujuh puluh itu praktis menunjukkan seluruh bangsa manusia). Dante Alighieri menyebut Lukas scriba mansuetudinis Christi: penulis kelembutan Kristus. Masuk akal. Dari tulisan Lukaslah didapatkan lukisan keren dari tema-tema tobat dan pengampunan. Dari tulisan dia juga didapati kesan positif terhadap orang kafir.

Beberapa waktu lalu kita dapati cerita tentang sepuluh orang sakit kusta yang disembuhkan dan cuma satu yang datang kembali untuk berterima kasih: justru dia yang dianggap kafir oleh orang Yahudi. Perumpamaan the good Samaritan juga mengungkapkan hal yang sama: orang kafirlah yang menjadi sesama bagi orang tertimpa bencana. Bisa dimaklumi, Lukas sendiri kiranya punya latar belakang sebagai orang kafir; dia bukan orang Yahudi. Nuansa tulisannya terasa: lewat orang kafir pun, Allah bisa menyatakan pesan-Nya.

Bagaimana kok lewat orang kafir malah Tuhan menyampaikan pesan-Nya? Ya mending jadi kafir aja kalau gitu mah, gak usah beragama, gak usah ke gereja, masjid, dll; gak usah puasa, gak perlu monogami, gak perlu bawel dengan urusan ritual yang bikin keributan antarumat sendiri, dan sebagainya. Tentu kesimpulannya gak lurus. Lagi ya, dari premis deskriptif tak bisa disimpulkan sesuatu yang normatif. Dari yang deskriptif ya simpulkan yang deskriptif dong. Maka bahwa Allah bisa menggoreskan kemuliaan-Nya juga melalui orang kafir, sama sekali tak berarti bahwa jadi kafir pun gapapa

Lagipula, bisa dilihat paradoksnya juga: begitu si kafir melihat kemuliaan Allah itu dan menyatakannya, pada saat itu ia tidak kafir lagi. Tambahan lagi, antara kafir dan gak kafir itu tak bisa ditarik batas keras hitam putih. Setiap orang punya kadar kekafirannya sendiri-sendiri. Jadi udah sampai sini aja ya soal kafir mengkafirkan.

Yang relevan dari tulisan-tulisan Lukas untuk situasi sekarang ini kiranya atribut yang diberikan Dante Alighieri tadi: scriba mansuetudinis Christi. Kalau orang beragama tak memperhatikan hal ini, apapun agamanya, ia takkan berhasil ‘membela agama’-nya. Tulisan Lukas bisa saja dipakai orang yang rasis untuk membasmi bangsa Yahudi (karena dari tulisannya didapati kesan yang menyudutkan bangsa Yahudi atas kematian Yesus – meskipun tak sekuat kesan dalam Mat 27,25), tetapi itu terjadi ketika orang memperkosa teks.

Keseluruhan teks Lukas menyodorkan gambaran Allah yang lembut, maha pengampun, maharahim, mahamurah. Ini tidak compatible dengan aneka kekerasan, perusakan lingkungan, penindasan orang kecil, perendahan martabat manusia. Dari Lukas, orang dari bangsa kafir itu, kita mendapat gambaran Allah yang berbelas kasih. Betapa kontrasnya gambaran Allah ini dengan foto-foto demonstrasi yang mengatasnamakan agama tertentu dan di situ ada anak-anak beringas yang sejak kecil sudah diajari berbuat kasar.

Itu sebetulnya pelecehan agama yang menjijikkan, sudah terjadi sejak sebelum Perang Salib. Njuk ngopo, Mo? Ya sekurang-kurangnya tulis aja, siapa tahu aparat negara membacanya dan terketuk hatinya untuk menangani hal ini karena yang punya otoritas untuk menindaknya adalah negara.

Tuhan, mohon kelembutan hati sebagaimana pantas bagi kami. Amin.


PESTA S. LUKAS
(Sabtu Biasa XXVIII C/2)
18 Oktober 2016

2Tim 4,10-17b
Luk 10,1-9

Posting Tahun 2014: Semakin Beriman, Semakin ngArtis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s