Robot Cinta Eaaa

Sudah sejak lama di negeri tercinta ini Allah diseret masuk dalam panggung politik. Itu menjijikkan. Teks hari ini menyajikan upaya orang banyak supaya Yesus dari Nazareth itu intervensi dalam politik bagi-bagi warisan. Ini juga menjijikkan. Saya sendiri takut kepada orang yang secara lantang menyeret Tuhan dalam keputusan yang dia ambil sendirian. Ini menakutkan, arahnya sama juga: menjijikkan. Bukan apa-apa, pun kalau orang sudah berusaha melakukan suatu pembedaan roh, ia tak bisa mengobjekkan roh itu di bawah pikirannya sendiri. Itu mengapa juga ungkapan insha’ Allah penting bagi umat beriman. Memastikan bahwa yang dikatakan dan dilakukan seseorang adalah kehendak Allah sendiri justru membawa suatu kesombongan rohani tingkat dewa.

Lha, bagaimana dengan Paulus yang menegaskan bahwa ia hidup bukan lagi dia sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup dalam dirinya (Gal 2,20)? Sombong banget dia!
Saya gak punya kepentingan membela Paulus [untuk apa juga] atau menghakiminya, tetapi memang pernyataannya perlu dibaca secara utuh dan tidak diperkosa seturut takhayul yang kita miliki. Hidup dalam Allah, hidup dalam Kristus, ‘hanya’ berarti hidup seturut Sabda-Nya. Lha, Sabda itu kan adanya dalam pencarian terus menerus, juga dalam dialog dengan sesama yang hendak mencari Sabda Allah juga. Mengklaim diri sebagai pemilik kebenaran Allah secara sepihak berarti memutus rantai pencarian itu dan, dengan sendirinya, malah membuktikan yang sebaliknya: ia hanya memuja kepentingannya sendiri.

Salah satu momen yang menggugah dalam film Freedom Writers ialah saat Erin Gruwell (diperankan Hilary Swank) sebagai guru baru menantang murid-muridnya untuk melihat ulang bagaimana respek dibangun. Para murid sepakat bahwa dunia ini pasti lebih baik kalau tak ada kelompok yang tak mereka sukai. Tidak, Nak. Nafsu untuk membasmi mereka yang berbeda itu justru membuatmu kehilangan respek, baik sebelum maupun setelah kematianmu. Kamu cuma jadi anggota pasukan nasi bungkus yang takkan dikenang orang, kecuali kalau kamu berhasil menjadi monster eliminator sesungguhnya: dikenang karena notorious, dan itu bukan respek.

Kehormatan manusia tak terletak pada superioritasnya dalam materialisme dan kekuasaan yang dibangun di atasnya. Sebaliknya, kehormatan manusia ada pada kemampuannya untuk menapaki jalan-jalan berliku, bukan shortcut, untuk kembali pada penciptanya bersama dengan yang lain: sesama dan semesta. Tak ada gunanya membangun jalan tol yang dipakai untuk menguburkan hidup yang penuh persahabatan dengan alam. Tak ada faedahnya mengembangkan suatu teknologi yang cuma membuat manusia jadi robot. Robot tak mengenal cinta.

Konon, penjualan emotional robot begitu laris manis. Apa artinya? Artinya bisnis sukses, break-even point jauh terlampaui, tapi orang lupa bahwa itu juga berarti ada problem dalam relasi antarmanusia, yang seolah-olah hendak dipecahkan dengan kehadiran robot. Kembali lagi, respek manusia tidak diperoleh dari teknologi pembunuh massal atau teknologi tata kota, sistem transportasi, dan sebagainya (yang tolok ukurnya material) tetapi dari kualitas relasi antarpribadi yang autentik. Relasi antarpribadi tak pernah satu arah sebagaimana dimanifestasikan pada emotional robot. Itu mengapa cinta bertepuk sebelah tangan untuk sebagian orang menyakitkan, justru karena orang maunya searah: mengarah pada dirinya sendiri.

Tuhan, ajarilah kami mencinta agar tak tenggelam dalam ideologi materialisme.


SENIN BIASA XXIX
17 Oktober 2016

Ef 2,1-10
Luk 12,13-21

Senin Biasa XXIX B/1 2015: Need or Greed?
Senin Biasa XXIX A/2 2014: Berenang-renang Dahulu, Bersenang-senang Kemudian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s