Doa Menyinyirkan Keadilan

Duluuuuu banget, ketika jauh lebih bego’ dari sekarang, saya memahami frase ‘berdoa dengan tidak jemu-jemu’ dengan kerangka kuantitatif. Artinya, berdoa terus menerus, tiada henti, sesering mungkin, baru berhenti berdoa kalau mau mandi, makan, nonton bal-balan, belajar, dan sebagainya. Memang betul begitu, kan? Namanya tidak jemu-jemu ya gak bosen-bosen. Kalau gak bosen ya terus menerus, sebagaimana mesin, teratur sesuai jam dan gak kenal rasa bosan! Gak salah-salah amat sih, tapi gak inspiratif karena cuma menekankan frekuensi, bukan isi.

Teks Injil yang disodorkan hari ini bisa membuat orang salah fokus. Ayat pertamalah yang bikin gara-gara: Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Logisnya, perumpamaan yang disajikan tentu dimaksudkan supaya orang paham pentingnya ‘berdoa dengan tidak jemu-jemu’, bukan? Akan tetapi, isi perumpamaan justru tak berhubungan dengan tempat-tempat orang berdoa. Setting kisahnya adalah sebuah kota, tempat hidup seorang hakim yang gak peduli dengan soal-soal ketuhanan dan seorang janda yang terus menerus mendatangi hakim itu supaya membela haknya. Di mana doanya? Mungkin lebih tepatnya, apa itu doa?

Senantiasa tinggal dalam kontak dengan ‘pikiran Allah’, dengan Sabda-Nya (yang ditunjukkan juga oleh Kitab Suci) di hadapan kenyataan hidup yang serba tak pasti ini, untuk membangun dunia baru, itulah doa. Hakim yang disebutkan dalam perumpamaan ini dipersonifikasikan sebagai hakim kafir, yang tak punya kepentingan dengan keadilan yang dimohon oleh si janda. Memperjuangkan keadilan sebetulnya adalah tugas hakim itu, tetapi karena dia arogan dan tak takut kepada Allah, perjuangan keadilan itu cuma soal kepentingan pribadi belaka. Kalau akhirnya dia memenuhi permintaan si janda, itu semata karena kepentingannya, supaya reputasinya tak pudar karena kasus kecil ini!

Begitulah kenyataan sehari-hari: orang mengejar kepentingan pribadi dan akibatnya di sana-sini mesti ada orang lain yang mengalami ketidakadilan. Yang hidup dengan ateisme-praktis beruntung dan yang menghidupi nasihat Kitab Suci malah buntung. Terus saja begitu. Di hadapan kenyataan ‘kekal’ seperti ini, orang beriman bisa jatuh dalam godaan: daripada ancur, mending sekali-sekali ikut judilah. Ia tak membangun hidup baru, tetapi melanggengkan pola pikir lama yang dihidupi banyak hakim kafir tadi. Yang bisa menangkalnya adalah ‘doa dengan tidak jemu-jemu’ tadi.

Pada kamus Kitab Suci saya, kata μὴ ἐγκακεῖν (yang dialihbahasakan sebagai ‘tidak jemu-jemu’) diartikan sebagai not to lose heart. Kata tetangga saya di Italia, nuansa catatan Yesus itu ialah supaya orang tidak ikut-ikutan ‘menjadi jahat’. Maklum, kalau orang terus menerus hidup di lingkungan yang nyinyir, jahat, tak adil, lama-lama ya rasanya ingin membalas mereka dengan kejahatan, minimal sejahat mereka! Nah, kalau begitu, gak ada kebaruan, ketidakadilan dilanggengkan.

Perumpamaan ini bicara soal keadilan yang perlu disuarakan terus menerus supaya memperbarukan hidup manusia sendiri. Penyuaraan itu paralel dengan doa untuk mewujudkan kemurahan hati Allah dalam hidup kita sendiri, bukan doa yang dimaksudkan sebagai paksaan kepada Allah supaya merealisasikan apa yang kita inginkan.

Tuhan, semoga aku semakin menemukan peran yang paling tepat dalam proyek-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXIX C/2
Hari Minggu Evangelisasi
Hari Pangan Sedunia
16 Oktober 2015

Kel 17,8-13
2Tim 3,14-4,2
Luk 18,1-8

Posting Minggu Biasa XXIX B/1 Tahun 2015: Beriman – Tut Wuri
Posting Minggu Biasa XXIX A/2 Tahun 2014: Jadi Revolusi Mental Gak Ya?

Categories: Daily Reflection

Tagged as: , , ,

6 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s