Tiada Ampun bagimu

Yang privat tidak selalu personal, apalagi yang publik. Begitu masuk ranah publik, orang berhadapan dengan sesuatu yang impersonal: struktur, sistem, ideologi, conditionings, prasangka, asumsi, dan sebagainya. Contoh sederhana ialah rasa grogi seseorang yang hendak menampilkan dirinya di depan publik. Di kamarnya sendiri ia bisa menghadapi cermin untuk berorasi dengan berapi-api, ia bisa mengekspresikan dirinya dengan sangat baik. Akan tetapi, begitu berada di hadapan lima ribu orang, bisa jadi ia cuma gemetar dan seluruh skenarionya jadi amburadul. Ia tidak sedang berhadapan dengan lima ribu pribadi, tetapi dengan prasangkanya sendiri tentang lima ribu pribadi itu. Ia menghadapi kekuatan impersonal.

Pribadi adalah subjek sadar yang berkemampuan untuk secara merdeka mengkomunikasikan dirinya. Allah dalam beberapa agama dipahami sebagai pribadi, sebagai person, yang dengan-Nya orang dapat menjalin relasi timbal balik. Ini bukan kekuatan impersonal penata semesta yang abstrak, yang cuma hidup di kepala orang, melainkan pribadi atau person yang komunikatif. Dalam istilah teknis agama, komunikasi diri Allah yang personal ini disebut wahyu. Allah yang begini ini tak mungkin dikenali oleh manusia ideologis, pun kalau manusia itu beragama atau bahkan jadi pemuka agama sekalipun!

Kenapa? Karena ideologi memang tak pernah bersifat personal. Ideologi NKRI misalnya. Gak ada orang yang berkomunikasi dengan burung garuda di wilayah NKRI. Para founding fathers pun tidak. Komunikasi antarpribadi terjadi dalam lingkaran founding fathers: mereka mengkomunikasikan keprihatinan, harapan, cita-cita tentang bangsa yang hendak mereka bangun. Artinya, mereka berkomunikasi dalam upaya melibatkan diri untuk pembangunan bangsa. Tentu mereka bertukar pikiran dan dengan demikian membangun suatu ideologi tertentu bagi pondasi bangsa ini, tetapi tanpa relasi pribadi di antara mereka, perang ideologi takkan kunjung usai.

Ayat yang jadi skandal bagi saya hari ini berbunyi: Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Anak Manusia tentu merujuk Yesus dari Nazaret yang oleh orang Kristiani disebut Kristus. Jadi, rupanya hujatan terhadap Yesus Kristus ini tidak sefatal hujatan terhadap Roh Kudus; bisa dimaklumi, bisa juga diampuni, tak perlu meributkan aneka olok-olok terhadap Yesus dari Nasaret itu dan tak masuk akallah orang membangun suatu Tim Pembela Yesus Kristus. Dia bisa membela dirinya sendiri.

Nah, menghujat Roh Kudus itu yang saya gak dhong. Tetapi barangkali paragraf awal halaman ini bisa dipakai sebagai kerangka pemahaman. Roh Kudus adalah basic element dari pribadi Allah yang hendak mengkomunikasikan Diri dengan manusia lewat Yesus Kristus. Tanpa Roh Kudus itu, wahyu gak jalan. Tanpa Roh Kudus itu, Kitab Suci gak mungkin inspiratif. Tanpa Roh Kudus itu juga tak mungkin manusia menangkap komunikasi Allah, yang ditangkap cuma ideologi tentang Allah. 

Maka, kalau orang menyangkal Roh Kudus ini, tentu dia kehilangan unsur dasar sebagai seorang pribadi. Tak mungkinlah muncul pertobatan [mau bertobat dari dan untuk apa, jal?]. Kalau tak ada pertobatan, apa perlunya orang minta maaf atau ampun? Kalau tidak minta ampun, bagaimana ampun bisa diberikan?

Ya Tuhan, semoga kami waspada terhadap kecenderungan ideologis kami yang menempatkan-Mu sebagai objek pikiran belaka. Amin.


HARI SABTU BIASA XXVIII
Pesta Wajib S. Teresia Kanak-kanak Yesus
15 Oktober 2016

Ef 1,15-23
Luk 12,8-12

Posting Tahun Lalu: Agama Ateis

2 replies

  1. Ya Rom, saya juga terus belajar dan berdoa mencari Allah yang di luar pikiran, melampaui pikiran… tapi saya belum berhenti juga karena belum bertemu. Tetapi anehnya, lucu juga kalau dipikirkan, mengapa saya mencari ya….???

    Like

    • Hola, justru itulah karakter pribadi kita ya: ingin mengkomunikasikan diri… maka kita mencari. Ini kiranya proyek pencarian seumur hidup seperti direfleksikan S. Augustinus: hatiku tak pernah beristirahat sampai aku beristirahat dalam Tuhan… Semoga kita senantiasa mencari-Nya sekaligus membiarkan diri dicari-Nya juga. Amin.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s