Selektif Mendengarkan

Beberapa orang sangat selektif dalam mendengarkan. Suara yang masuk ke telinga disaring dengan kategori suka atau tidak suka. Kalau yang didengar itu tidak mengenakkan hati, ia takkan berusaha memahaminya; kalau suara atau nadanya menyenangkan, ia membelalakkan mata dan berusaha mendengarkan lanjutan suara yang didengarnya. Ini masih lanjutan cerita kemarin dulu: ahli Taurat yang mendengar kata-kata keras Yesus tentang ritualisme kaum Farisi tersinggung juga. Ia menangkap bahwa dengan kritiknya terhadap kaum Farisi, Yesus juga menyerang dirinya dan orang-orang sebangsa ahli Taurat ini.

Dengan reaksi begitu si ahli Taurat justru menunjukkan bahwa ia mendengar kritik Yesus dengan kuda-kuda arogan, dengan sikap mereka yang hendak mempertahankan posisi, bukan dengan sikap pribadi yang memerlukan bantuan orang lain. Sabda Allah, begitu kata Paulus, itu seperti pedang bermata dua yang menghunjam tepat pada sumsum dan tidak membiarkan orang jadi indifferent saja.

Dalam kacamata Ignasius dari Loyola, sikap lepas bebas adalah modal dasar manusia untuk mengambil posisi yang lebih mengarahkannya pada rencana Allah bagi dirinya. Orang perlu indifferent tetapi tak perlu jatuh pada indiferentisme, yang paralel dengan relativisme, apa-apa saja terserah, suka-suka orangnya mau gimana karena gak ada kebenaran universal.

Tindak mendengarkan dengan modal arogansi dan merasa diri sudah cukup dan tak butuh yang lain (self-sufficiency) cenderung membangun filter sedemikian rupa sehingga masukan atau undangan dari yang lain diterima pertama-tama sebagai serangan berbahaya, bukan ajakan untuk mengubah hati. Kalau orang jadi budak arogansi ini, mbok sebaik apapun masukan atau bahkan ayat suci, semuanya akan dipelintir seturut apa yang dia maui, bahkan dengan mengerahkan komentar-komentar ‘ahli’, yang tentu kualitasnya kurang lebih ya mirip dengan orang yang dibelanya (bukan dibelainya ya – meskipun bisa juga sih dibelai-belainya biar tetep bodoh dan arogan).

Budak arogansi cenderung hendak membungkam suara kenabian; membekap jeritan kaum lemah yang memohon keadilan, dan upaya ini kerap terwujudkan dalam aneka bentuk kekerasan, dari yang halus sampai yang kasar. Maka, silakan memberi tanda kurung jika ada orang mengklaim dirinya beriman, tetapi senjatanya adalah kekerasan. Kunci untuk masuk dalam rahasia Kitab Suci ialah mendengarkan dengan sikap rendah hati.

Ya Tuhan, mengapa begitu susah untuk rendah hati?


JUMAT BIASA XXVIII
14 Oktober 2016

Ef 1,11-14
Luk 12,1-7

Posting Jumat Biasa XXVIII B/1 2015: Transparan Lebih Asik
Posting Jumat Biasa XXVIII A/2 2014: Isis Vatikan

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s