Pemimpin Kafir

Ayat suci memang bisa menyebabkan gaduh ranah publik. Bukan ayat sucinya sendiri yang menggaduhkan, melainkan disposisi batin orang yang menangkapnya. Ayat suci menuntun orang supaya kembali kepada jalan Allah juga meskipun terdengar keras, sadis, dan lain-lain; ia mesti ditangkap dalam keseluruhan konteks (juga dengan melihat ayat-ayat suci lainnya) sedemikian rupa sehingga orang semakin membuka diri pada Allah yang berbelas kasih, yang hendak merangkul umat manusia seluruhnya tanpa kecuali. Syukur bahwa ada orang muda di negeri ini yang bersuara lantang: hentikan penggunaan ayat suci untuk kepentingan politik.

Ajakan itu layak diperhatikan karena dengan begitu orang menghindarkan hidupnya dari kemunafikan. Soal alur berpikirnya masih bisa diperdebatkan, tetapi ajakannya itu penting. Kalau tidak diindahkan, tanpa sadar orang masuk dalam kegaduhan yang digambarkan seperti pada kalimat terakhir teks hari ini: orang berusaha memancing Yesus supaya mereka bisa menangkapnya berdasarkan sesuatu yang diucapkannya! Begitulah, orang mendengarkan bukan untuk membangun kerangka pemahaman, memperkokoh tabayun, melainkan untuk menghancurkan orang lain. Lha gimana mau mbangun desa atau bangsa kalau kuda-kudanya seperti itu? Siapapun pemimpinnya, kalau modal awalnya adalah eksklusivisme, ya gak bakal ke mana-mana bangsa ini, terus saja gaduh meributkan kepentingan dan keselamatannya sendiri-sendiri!

Ada tokoh lain yang mendefinisikan ulang kata ‘pemimpin’ dengan membongkar sesat paham orang yang menjuluki pejabat fungsional, manajer, ketua lembaga sebagai pemimpin. Semua itu tidak perlu diberi atribut pemimpin karena pada prinsipnya mereka adalah ‘pembantu rumah tangga’ dalam skala tertentu (provinsi, negara, kota, dll)! Jadi, naif juga kalau meributkan ‘pembantu rumah tangga’ itu atas dasar SARA. Yang penting kan kompeten dalam bidangnya dan bisa menjalankan fungsi yang diinginkan mereka yang dibantu toh? Itulah tugas manajer (yang mungkin diidam-idamkan banyak orang).

Tugas seorang pemimpin, dari perspektif Kristiani, ialah membantu orang untuk menerima dan menghidupi rencana keselamatan Allah. Tanggung jawabnya sirius: mereka punya kunci pengetahuan akan rencana Allah itu dan membantu orang mengakses kunci itu. Itu mengapa Yesus mengkritik keras para ahli Taurat. Mereka punya kunci, tetapi menghalang-halangi orang lain untuk mengaksesnya, malah menambahi beban orang lain dengan ‘aturan tambahan’ mereka sendiri. 

Maka, otoritas pemimpin berlaku dalam ranah tuntunan hidup yang menumbuhkan orang dalam relasi dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan sesama, dan semesta. Untuk itu memang diperlukan manajer juga, tetapi seorang pemimpin, leader, tidak wajib mengambil alih fungsi manajer. Seorang dokter tentu bisa jadi manajer, tetapi kalau ia berkualitas sebagai pemimpin, ia akan menginspirasi pasiennya. Seorang pastor bisa jadi event organizer, tetapi apakah ia punya karakter pemimpin, itu bergantung dari kualitas hidup yang ditularkannya kepada orang lain. Seorang guru tentu saja mampu membuat rancangan pembelajaran, tetapi apakah ia bisa dipandang sebagai pemimpin, itu bergantung dari bagaimana hidupnya inspiratif. Dengan demikian, setiap orang dalam aneka posisinya punya potensi sebagai pemimpin.

Benarlah. Sebaiknya tidak memilih pemimpin kafir, karena pemimpin macam ini tak inspiratif, bahkan menyesatkan! Tak heranlah, pemuka-pemuka agama ‘yang bersumbu pendek’ naik pitam atas pembongkaran ideologi yang dilakukan Yesus.

Tuhan, semoga kami semakin terarah pada-Mu tanpa terbutakan oleh kotak-kotak kami sendiri. Amin.


KAMIS BIASA XXVIII
13 Oktober 2016

Ef 1,1-10
Luk 11,47-54

Kamis Biasa XXVIII B/1 2015: Is Conscience Dead?
Kamis Biasa XXVIII A/2 2014: Bisnis Edan Kerajaan Allah.

2 replies

  1. Rom, kafir itu sebuah konsep yang harus dibedah lagi. Karena bisa menimbulkan disposisi pada batin orang. Hehehe… Tapi saya telah menangkap maksud tulisan Romo ini. Terima kasih Rom.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s