Orang Merdeka Tak Mengancam

Kalau kritik pedas Yesus terhadap orang Farisi berlaku juga bagi ahli Taurat, tentu masih terasa pedas juga bagi orang zaman sekarang, sejauh orangnya tak gagal paham. Perseteruan antara Yesus dan pemuka-pemuka agama ini bermula ketika Yesus diundang makan orang Farisi dan jebulnya ia tidak cuci tangan dulu seperti kebiasaan orang Yahudi. Saya tak tahu detail persisnya bagaimana karena waktu itu saya kondangan di tempat lain. Pada teks hanya disebutkan Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Ia heran bukan karena Yesus itu jorok, gak cuci tangan sebelum makan roti, melainkan karena ia tidak mengikuti praktik kultural yang dihidupi orang-orang Yahudi. Saya juga tak tahu apakah sebelum masuk ke rumah orang Farisi itu ia sudah mencuci tangannya sekalian. Pokoknya, orang Farisi itu heran karena Yesus tidak mengikuti tata cara kultur Yahudi.

Memang sih dalam Kitab Perjanjian Lama disebutkan aturan itu (Kej 18,4; Hak 19,21) tetapi tak ada detail juklaknya soal kapan dan bagaimana cuci tangan itu. Lagipula, praktik kultural itu lebih mengakomodasi kekhawatiran mereka mengenai problem kenajisan (Im 11,31-38), yang disinggung juga oleh Yesus: yang menajiskan itu bukan yang masuk, melainkan yang keluar dari pikiran cabulmu, dari mulut kotormu, dan hati korupmu (bdk. Mat 5,11). Itulah problemnya. Orang Farisi diam-diam mengkritik, menghakimi Yesus dengan praktik kultural yang tentu saja bukan merupakan Undang-Undang Dasar! Mereka mau memberhalakan praktik kultural itu, dan dengan demikian menjungkirbalikkan sarana dan tujuan.

Janjane, sebetulnya, kebiasaan cuci tangan itu ya baik. Dengan asumsi bahwa semua orang menginginkan kebaikan, apa yang dipraktikkan orang Farisi itu tidak buruk. Secara medis juga bisa dipertanggungjawabkan. Akan tetapi, sumonggo mari please kita pahami bahwa dari yang deskriptif tidak bisa diambil kesimpulan normatif. Mohon tidak membiasakan penalaran-penalaran yang tidak lurus itu supaya juga kalau mau beriman, orang juga beriman secara lurus. Cuci tangan seperti yang dilakukan orang Farisi itu baik, higienis, dan sebagainya. Akan tetapi, itu tidak berarti bahwa semua orang harus cuci tangan seperti yang dilakukan orang Farisi itu! Ada cara cuci tangan yang lain. Ada cairan pencuci tangan yang cuma setetes bisa membasmi kuman sebelanga. Ada trik cuci tangan yang tidak bikin ribet, dan sebagainya.

Dugaan saya, kalau menilik kritik Yesus terhadap orang Farisi dan ahli Taurat itu, orang cenderung memutlakkan aturan remeh temeh karena ia sendiri tidak melaksanakan yang remeh temeh itu secara tulus, secara ikhlas. Masuk akal dong, sekurang-kurangnya dari tinjauan psikologi, untuk melaksanakannya itu ya berat je, jadi orang lain itu ya mesti merasakan betapa beratnya disiplin, tekun, setia, dan sebagainya yang baik-baik itu. Hahaha… mesakke alias kasian, manusia cari teman untuk kesusahannya dan lupa kawan untuk kesenangannya sendiri! Dari hati yang merdeka, hidup orang membebaskan. Dari hati yang penuh keterpaksaan, hidup orang menebar ancaman. 

Tuhan, mohon rahmat ketulusan hati supaya kami menjadi manusia merdeka. Amin.


RABU BIASA XXVIII
12 Oktober 2016

Gal 5,18-25
Luk 11,42-46

Posting Rabu Biasa XXVIII B/1 2015: Beriman = Bermain
Posting Rabu Biasa XXVIII A/2 2014: Iman City Tour

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s