Maafkan Ayat Suci

Salah satu perbedaan mencolok film Ben Hur yang baru direlease tahun ini dari film Ben Hur produksi tahun 1959 ialah peran Yesusnya. Mas R. Santoro dalam film baru ini lebih artikulatif dan terlibat dalam wacana daripada mister Claude Heater. Maklum, senior Mas Santoro itu seorang penyanyi opera, njuk apa hubungannya….

Saya terganggu oleh subtitle bahasa Indonesianya. Memang tak mudah menerjemahkan, tetapi kali ini bukan terjemahannya yang saya persoalkan, melainkan keyakinan ‘ideologis’ yang ditampilkan pada layar lebar itu. Betul, film ini adalah adaptasi novel Lew Wallace yang berjudul Ben-Hur: A Tale of the Christ. Penulisnya orang Kristen dan ia menuturkan kisah manusia yang melibatkan sosok Yesus dari Nazaret, tetapi dia menuliskannya bukan hanya untuk orang Kristen.

Persis di situlah saya gagal paham mengapa terjemahan bahasa Indonesia memakai huruf kapital untuk kata ganti bagi sosok Yesus ini.
+ Loh, gimana sih, Rom? Memang dalam pedoman EYD huruf awal kata ganti untuk Tuhan itu kan ditulis dengan huruf kapital toh?
– Betul! Tapi yang bilang Yesus Tuhan itu siapa? Orang Hindu, Buddha, Islam, Kong Hu Cu?
+ Orang Kristenlah (baik Katolik maupun Protestan)!
– Lha itu film dibuat supaya ditonton siapa? Orang Kristen doang?+ Ya bukan, Rom!
– Kalau gitu kenapa mesti pakai huruf kapital segala?
+ Ya kan Yesus itu Tuhan?
– Kata siapa?
+ Ya kata saya, kata Romo juga, kan?
– Persis, itu karena kamu yang menyatakannya Kristen dan saya yang mendengarnya Kristen! Bisa kamu bayangkan kalau yang mendengarnya orang bukan Kristen?
+ Ya biar saja toh mereka mendengarnya, biar tahu bahwa Yesus itu Tuhan!
– Mereka sudah tahu: menurut orang Kristen, Yesus itu Tuhan. So what?
+ Ya biar mereka bertobat toh, Rom?
– Bertobat mbahmu!

Novel dan film Ben Hur bukanlah Kitab Suci. Keduanya bisa dibaca oleh siapa saja untuk menggali makna misteri hidup manusia. Maka dari itu, meskipun penulisnya punya keyakinan ideologis tertentu, ia menyodorkan sosok pribadi manusia, yang terbuka bagi semua saja, bukan karakter yang sudah dikungkung dalam ideologi Kristen.

Justru tulisan macam Ben Hur itu bisa jadi medium supaya orang Kristen sendiri menangkap bagaimana kualitas hidup manusia itu memiliki sifat keilahian, bukan sebaliknya: dengan keyakinan ideologis, apa-apa saja diilahikan. Orang Kristen seperti ini bisa jadi malah tak mengerti kenapa ia memercayai Allah Tritunggal, mengapa Yesus disebut Tuhan, dan sebagainya. Pokoknya dibilang gitu, ya ngikut aja. Ngapain juga repot-repot mikirinnya?

Untuk orang seperti ini, baik didengarkan teks hari ini: Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Kita tidak sedang meributkan unsur luar (sebutan Yesus sebagai Tuhan), melainkan ‘memberikan isi’ dengan kualitas kemanusiaan kita sendiri, supaya yang luar itu pun jadi bersih, berbunyi nyaring daripada berkoar-koar bahwa Yesus itu Tuhan. Justru dengan memaknai kemanusiaanlah orang dapat menemukan jalan keilahian.

Begitulah, suatu ayat disebut suci justru ketika ia menuntun orang pada Allah yang berbelas kasih dan terbuka bagi semua, bukan Allah yang pilih kasih dan demen murka.

Tuhan, semoga hari ini kami semakin mampu mewujudkan belas kasih-Mu. Amin.


SELASA BIASA XXVIII
11 Oktober 2016

Gal 4,31b-5,6
Luk 11,37-41

Posting Selasa Biasa XXVIII B/1 Tahun 2015: Agama Topeng Monyet
Posting Selasa Biasa XXVIII Tahun 2014: Legislator Oke, Legalistik No

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s