Agama Topeng Monyet

Saya tak begitu paham mengapa orang bernalar begini: daripada jadi orang beragama malah munafik, lebih baik tak usah beragama, yang penting moralnya baik. Implikasinya terwujud dalam tindakan juga: orang enggan mendirikan salat lima waktu, malas ke gereja setiap minggu, atau sama sekali tak memedulikan yang tabu. Alasannya pun wagu: daripada munafik! Padahal, kalimat lengkapnya sebenarnya berbunyi: daripada munafik, lebih baik tidak munafik. Lha, kalau dengan alasan tak mau munafik dan yang penting moralnya baik lantas orang tidak ke gereja atau salat lima waktu (misalnya), ia malah menunjukkan kemunafikannya. Kenapa? Alasan sebenarnya malas (yang dalam Gereja Katolik dimengerti sebagai salah satu dari tujuh dosa pokok), tetapi tamengnya diganti: dari agama jadi moralitas.

Orang beriman tahu benar bahwa beragama memang bukan syarat mutlak moralitas dan ia beragama untuk sesuatu yang lebih kompleks daripada moralitas. Mengingkari hal ini membuat orang jatuh dalam kemunafikan. Lihatlah hidup mereka yang punya agama KTP tapi tidak sungguh-sungguh mewarnai hidupnya dengan relasi pribadinya dengan Allah: mereka beragama supaya memberi kesan baik. Motivasi itu tentu tidak cukup. Akan tetapi, karena iman juga sifatnya dinamis, seturut kesadaran umat berimannya sendiri, bisa saja ia jatuh ke dalam dosa, dalam kemunafikan. Tebusan dosa itu bukanlah menghilangkan agama (n.b. yang sama sekali berbeda dari menghapus agama dalam kolom KTP), melainkan membersihkan motivasi dangkal untuk beragama.

Gus Dur pernah mengatakan kurang lebih begini: kalau tembokmu kotor penuh coretan, bersihkanlah coretan itu, jangan merobohkan temboknya! Membersihkan coretan itu berarti kembali pada motivasi yang luhur, berdiam dalam relasi yang mendalam dengan Allah. Merobohkan tembok berarti malah menghancurkan kemungkinan relasi personal dengan Allah: karena pada pokoknya agama mengundang orang untuk kembali ‘mengikatkan’ diri dengan yang primordial dari segala yang primordial, yaitu Allah Pencipta.

Teks Injil hari ini menyodorkan kritik Yesus terhadap penghayatan agama yang terlepas dari iman dan melulu memakai agama sebagai tameng moralitas. Begitulah, orang beriman sewajarnya bergerak dari dalam ke luar (menurut kategori pemikiran Stephen R. Covey), tidak malah ribut dengan yang ‘luaran’ saja. Santo Paulus merumuskannya sebagai kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman” (Rm 1,17 ITB). Maka, Anda yang beragama tak perlu sewot kalau ada orang sinis mencibir: kebaikan tak membutuhkan agama. Yang penting justru Anda memberi kesaksian bahwa agama toh juga memberi kontribusi pada kebaikan (tanpa menutup mata terhadap banyaknya orang munafik yang menjadikan agama sebagai tameng). Kesaksian ini muncul dari ‘hidup oleh iman’ yang terbina dalam agama.

Tuhan, berilah rahmat pertobatan untuk jadi pribadi yang transparan di hadapan-Mu dan sesama. Amin.


HARI SELASA BIASA XXVIII B/1
13 Oktober 2015

Rm 1,16-25
Luk 11,37-41

Posting Tahun Lalu: Legislator Oke, Legalistik No

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s