Apapun Agamanya…

Sewaktu hendak memutuskan untuk masuk seminari atau SMA ‘biasa’, saya benar-benar mencari petunjuk dari Tuhan sendiri, melalui bola basket: three point lebih dari lima dalam sepuluh kali lemparan berarti saya masuk seminari. Karena lima lemparan pertama tidak ada yang masuk, lantas saya ganti parameternya: empat three point dari lima lemparan; bukankah itu lebih tinggi prosentasenya daripada lima dari sepuluh tadi? Memang benar, empat dari lima lemparan three point masuk, tetapi kemudian saya mengerti bahwa itulah takhayul, dan takhayul mereduksi Allah sebagai objek inderawi belaka.

Bacaan Injil hari ini menyoal tanda yang diminta dari Yesus, bahwa ia adalah utusan Allah sendiri, tetapi Yesus menegaskan bahwa tak ada tanda heboh selain Nabi Yunus yang konon ditelan ikan selama tiga hari sebelum dimuntahkan kembali. Orang kristen mungkin akan segera mengaitkan peristiwa Yunus itu dengan kematian dan kebangkitan Yesus. Akan tetapi, kalau dilihat lebih teliti teks Injil hari ini, orang tak perlu terburu-buru ke sana karena memang Yesus tidak hendak membandingkan dirinya dengan Yunus. Ia merujuk pada pewartaannya.

Yang dibandingkan dalam perikop Injil itu ialah kebijaksanaan ‘Sabda Allah’ dan sikap pertobatan di hadapannya. Bunyi perbandingannya kira-kira: wong Ratu dari selatan saja jauh-jauh datang untuk mendengar hikmat Salomo, wong orang Niniwe saja bertobat setelah mendengarkan pewartaan Yunus, sewajarnyalah generasi ini mempertimbangkan hikmat Sabda Allah dalam diri Yesus dan sikap tobat yang lebih radikal karena hikmat Sabda Allah itu lebih dahsyat dari hikmat Salomo maupun pewartaan tobat Yunus.

Alih-alih mencari tanda dengan takhayul, umat beriman diundang untuk mendengarkan warta pertobatan dalam masyarakat superfisial ini. Tentu, pertobatan itu, sekali lagi, bukan soal mencari kesalahan atau kapok melakukan kesalahan, melainkan soal merealisasikan solidaritas hidup kita pada proyek keselamatan Allah sendiri. Alih-alih sibuk mencari tanda kiamat dengan suara sangkakala atau menanti terbitnya matahari dari barat, jauh lebih berbuah jika umat beriman mengakrabi lika-liku hidup yang menandakan emmanuel: Allah beserta kita, entah sukses atau gagal, entah kelebihan atau kekurangan, entah gembira atau sedih. 

Tuhan, tolonglah supaya aku dapat merasakan kehadiran-Mu dalam segalanya agar aku sungguh hidup dari iman. Amin.


HARI SENIN BIASA XXVIII B/1
12 Oktober 2015

Rm 1,1-7
Luk 11,29-32

Posting Tahun Lalu: Roh Apa Yang Bergentayangan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s