Roh Apa Yang Bergentayangan?

Lanjutan surat Paulus dalam bacaan pertama masih menyinggung soal hukum dan roh. Cakrawala manusiawi lebih accessible daripada horison rohani. Ini lumrah. Orang cenderung berpatokan pada hal-hal yang kelihatan, yang pasti, yang langsung tampak hasilnya dan sebagainya. Wajarlah orang menuntut kepastian hukum, baik dalam rumusan maupun pelaksanaannya. Tanpa kepastian hukum, mau ke mana bangsa ini?

Meskipun demikian, horison rohani rupanya jauh lebih luas daripada cakrawala manusiawi tadi. Karena itu, cakrawala rohani lebih sulit dipahami dan diterima orang. Kerohanian merambah aneka wilayah hidup manusiawi, sebagaimana kebebasan pun bisa merasuki hidup narapidana di balik jeruji. Bayangkanlah tukang tambal ban miskin yang mengalami keterbatasan fisik dan ekonomi. Secara manusiawi bisa dikalkulasi sedemikian rupa sehingga tukang tambal ban ini bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai selesai studi tingkat universitas. Bagaimana caranya? Dengan struktur “hukum” yang kondusif. Misalnya, ia dipaksa menabung dengan sistem sedemikian rupa sehingga akhirnya bisa melampaui keterbatasan ekonomisnya.

Memang tukang tambal ban ini menaati “hukum” menabung sehingga ia bisa keluar dari kesulitan ekonominya. Akan tetapi, di balik itu ada roh yang bekerja, yang menggerakkan, yang bisa menahan tukang tambal ban ini dari kebiasaannya main judi, misalnya. Jadi, yang kelihatan memang ia taat “aturan”, “hukum” dan sebagainya, tetapi yang sebenarnya terjadi ialah bahwa ia dituntun oleh kenyataan rohani yang memungkinkannya untuk memelihara harapan, mengalahkan nafsu judinya, mengendalikan keinginan-keinginan liar konsumerisme, dan sebagainya.

Abraham, dengan hitung-hitungan manusiawi akhirnya memiliki anak dari Hagar (karena Sara mandul). Padahal, Allah sendiri sudah menjanjikan kepada Abraham mengenai keturunannya yang banyak. Pemenuhan janji Allah justru dilaksanakan oleh Sara di usia senjanya: horison yang tak terpahami. Mandul, tua, kok ya bisa punya anak.

Memang, horison rohani seolah tak terjangkau pikiran manusia. Kenyataan rohani itu mengandaikan campur tangan roh yang gentayangan: kesabaran, kesetiaan, harapan, iman, kasih, kerja keras, kreativitas, kebebasan, dan bla bla bla deh. Tanpa roh-roh macam itu, manusia memaksakan rancangan pribadinya dan sulit bekerja sama dengan Allah.


SENIN BIASA XXVIII
13 Oktober 2014

Gal 4,22-24.26-27.31;5,1
Luk 11,29-32

1 reply

  1. Tanpa roh-roh macam itu, manusia memaksakan rancangan pribadinya dan sulit bekerja sama dengan Allah.<–itulah mas Brow..GUSTI memang terlalu baik untuk..menunggu dan menemani manusia bertobat..toh demi si manusia sendiri tho…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s