Sensi Itu Ada Gunanya

Sekarang saya tidak tahu lagi siapa yang waras: Yesus, penulis Injil Matius, atau saya. Bisa juga sih kami sama-sama gila. Pokoknya, saya jadi ragu-ragu setelah membaca perumpamaan mengenai undangan pesta dalam Injil Matius ini. Kenapa? Soalnya pada penutup dinyatakan: banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih.

Kalimat itu sering dipakai untuk mengatakan bahwa banyak orang yang dipanggil untuk hidup sebagai kaum religius, biarawan/wati atau imam, tetapi sedikit yang akhirnya dipilih. Ini seolah-olah dibenarkan oleh kenyataan bahwa yang mendaftar ke seminari 100 orang, nanti akhirnya yang jadi imam cuma 10 orang. Yang 90 orang itu tak dipilih Tuhan! Wah wah wah, njuk Tuhan dibawa-bawa gitu.

Ada cara lain untuk memahami parabola mengenai pesta perjamuan itu. [Btw, menurut ahli tetangga sebelah, dalam Injil Matius, undangan disampaikan untuk perjamuan makan siang pesta nikah anak raja. Ini lebih resmi sifatnya dan tujuannya bukan seperti makrab mahasiswa baru. Hadirin diajak ikut menjadi saksi peristiwa itu dan justru merekalah yang memungkinkan pesta itu benar-benar menjadi pesta. Tanpa mereka, pesta menjadi hambar.]

Salah satu caranya ialah dengan menggunakan metafora lainnya: stasiun pemancar radio dan antena penerima gelombang radio. Gelombang itu sudah dipancarkan ke kiri kanan depan belakang atas bawah. Akan tetapi, soal apakah radio menangkapnya dengan baik atau tidak, itu bergantung pada sensibilitas antena radio itu sendiri. Dibutuhkan sensibilitas terhadap pancaran gelombang radio itu.

Maka dari itu, bahkan tidaklah cukup sekadar hadir dalam pesta, sekadar punya antena; antena itu sungguh mesti punya keterbukaan atau sensibilitas, bagaimanapun caranya, terhadap gelombang yang dipancarkan, alias toh orang mesti berpakaian pesta. Sensibilitas ini kelihatan jika orang berada dalam kebersamaan: apakah ia membangun pesta, atau membangun peperangan.


MINGGU BIASA XXVIII A/2
12 Oktober 2014

Yes 25,6-10a
Flp 4,12-14,19-20
Mat 22,1-14

2 replies

  1. ada teman yang gampang izin melayat..beberapa hari lalu aku panggil dia..tak aja ngomong “Panjenengan kalo tidak hadir layat, jenazahnya tetep dikebumikan ndak?” Jawabnya “Lah, iyo tho Pak..” “Nah, kalo kamu tidak masuk kerja..kerjaanmu beres nggak?”…Jawabnya “Kula tak tanglet Rm.Setyawan riyin nggih..”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s