Artis Kesepian

Saya ingat suatu pemandangan di balik panggung yang memberi kesan nelangsa. Seorang artis duduk sendirian dan kelihatan seperti melamun, tak ada sisa senyum kegembiraan yang meliputi dirinya beberapa menit sebelumnya, saat ia menyapa penggemar, saat para penggemar mengelu-elukannya. Suasananya tampak kontras tetapi sebetulnya ada unsur yang sama-sama menyertai dua pemandangan baik di panggung maupun di balik panggung itu: tak ada relasi pribadi.

Di balik panggung, halnya jelas: tak ada orang lain. Di panggung ada banyak orang lain, bisa ada ribuan bahkan puluhan ribu penggemar, tetapi situasinya sama saja: masing-masing hidup dalam dunianya sendiri. Si artis berupaya agar performance-nya memukau penggemarnya, sementara para penggemar tentu menantikan pertunjukan yang mereka sukai. Penonton dalam arti tertentu menentukan bagaimana si artis menyajikan karyanya. Selera pasar menentukan kinerja artis, dan pasar tak peduli atas dinamika batin dalam diri artis, sebagaimana artis tak punya kemampuan untuk menyelami dinamika batin semua penggemarnya selain ‘asal penonton senang’.

Di situ tampaknya ada relasi, tetapi tidak personal sifatnya. Komunikasi yang terjalin bersifat instrumental: masing-masing atau salah satu pihak mengejar tujuannya sendiri dengan bantuan pihak lain, entah disadari atau tidak. Bisa jadi relasinya saling menguntungkan tetapi toh bersifat instrumental. Tindakan yang ada dalam relasi macam itu bukanlah tindakan komunikatif, melainkan tindakan instrumental. Sehalus apapun rumusannya, itu tetaplah relasi ‘memperalat’.

Teks Injil hari ini kerap ditangkap sebagai persoalan susahnya orang kaya masuk surga. Seorang yang berharta banyak tergopoh-gopoh menghampiri Yesus dan bertanya apa yang harus dibuatnya supaya bisa memperoleh nikmat surgawi. Yesus menyodorkan yang basic: ikuti saja perintah-perintah agama itu. Ternyata itu sudah dijalankan sejak masa mudanya. Oh my, kasihan juga. Berarti sejak mudanya ia menjalankan perintah agama dengan sikap instrumentalis tadi: berbuat baik dengan memenuhi perintah-Nya supaya mendapat suatu ganjaran! Bisa dimengerti betapa sepinya orang macam itu: memenuhi apa saja yang datang dari luar, sementara di kedalaman dirinya, kosong.

Injil tidak menyajikan kebenaran-kebenaran akademis yang jadi objek kajian teologi atau malah sains, tetapi kebenaran yang muncul dari suatu relasi personal. Jika orang kaya tadi memang sudah memenuhi seluruh perintah agama, tidak otomatis tindakannya itu bisa mengisi ruang hampa dalam hidupnya. Ruang hampa itu hanya bisa diisi oleh suatu relasi personal, bukan hanya dengan sesama, melainkan juga terutama relasi personal dengan Allah sendiri, yang dalam keyakinan iman Kristiani dimediasi oleh Yesus Kristus. Saran Yesus kepada orang kaya itu sedikit lebih maju dari perintah agama: jual saja harta milikmu, lalu bagikanlah pada orang miskin.

Pada saran itu tak ada nuansa bahwa kekayaan harus ditolak. Orang hanya diminta untuk berbagi hasil kekayaannya itu dengan orang miskin yang tentu membutuhkannya. Orang kaya itu tak bisa memenuhi permintaan Yesus karena hartanya begitu banyak. Lha ya sudah, yang basic-intermediate saja tak diindahkannya, bagaimana ia mau mengejar kualitas surgawi?
Tapi kenapa Yesus tidak langsung saja mengatakan supaya orang itu mengikutinya tanpa saran untuk menjual hartanya dan berbagi dengan orang miskin?

Gampang sekali: tak ada orang yang bisa mengabdi dua tuan (Mat 6,24). Jika orang tak bisa berbagi hidup dengan orang miskin, bagaimana mungkin ia bisa mengikuti Kristus? Jika orang terlekat pada harta kekayaannya, pada kecondongan narsisnya, tak mungkin ia mengikuti Kristus karena mengikuti Kristus tak pernah merupakan tindakan instrumental untuk mendapatkan sesuatu. Ini soal membangun relasi pribadi dengan Allah dan dari bangunan relasi itulah aneka macam tindakan bisa muncul. Yang sering terjadi ialah dinamika kebalikannya: orang memilih tindakan yang disukainya, lalu mencari-cari alasannya pada Kitab Suci dan bla bla bla.

Tuhan, semoga aku semakin akrab dengan-Mu dalam setiap hiruk pikuk hidupku. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXVIII B/1
11 Oktober 2015

Keb 7,7-11
Ibr 4,12-13
Mrk 10,17-30

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s