Hello, Farisi

Menjadi manusia merdeka tak berarti jadi orang besar di dunia ini, bebas dari sesama, bebas dari Allah. Menjadi merdeka terutama berarti bebas dari diri sendiri, dari tipu daya yang membuat orang percaya diri sebagai pusat dunia, bebas dari kebencian yang menyorongkan orang untuk memusnahkan ciptaan Allah. Singkatnya, menjadi manusia merdeka berarti bebas dari diri sendiri demi ‘yang lain’. Wes ngono ae, gak usah lanjut baca.

Itu konon yang mengatakan ialah Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Lutheran abad lalu. Refleksinya itu bisa dipakai sebagai kerangka untuk memahami kotbah Paulus hari ini, tetapi juga baik untuk memahami teks Injil hari ini dan besok-besok. Hari ini Yesus seperti mengkritik orang-orang Farisi secara super pedas karena mereka tak percaya pada tanda-tanda yang jelas dia buat di tengah-tengah hidup mereka. Akan tetapi, kritik ini tentu tidak bersifat mutlak untuk semua orang Farisi, apalagi orang Yahudi. Kekeliruan melihat konteks Kitab Suci macam inilah yang menjadi kontribusi besar bagi holocaust yang terjadi pada abad lalu. Antisemitis benar-benar jadi mimpi buruk di siang berlubang alias bolong. Alih-alih pengikut Yesus menuding orang Farisi pada masa hidup Yesus, kiranya lebih baik orang menelisik batinnya: jangan-jangan kualitas yang dikritik Yesus dalam diri orang-orang Farisi itu ada juga dalam diri sendiri!

Dalam buku yang lain, Injil Markus, dilukiskan bagaimana Yesus menghela nafas sewaktu orang-orang Farisi berbantah-bantahan mengenai tanda yang disodorkan Yesus. Barangkali Yesus skeptis terhadap lawan-lawannya: kalau dasarnya orang tak percaya, sampai kapan pun takkan melihat tanda itu. Begitulah. Untuk mereka yang tak percaya, bukti apapun tak diterima, sementara bagi mereka yang percaya, bukti tak diperlukan. Maka dari itu, kata Yesus, cuma ada tanda Yunus yang berlaku bagi mereka yang tak percaya. Hal yang lebih besar dari itu, wafat dan kebangkitan Yesus, takkan mereka perhitungkan. Tak hanya itu, mereka membuat propaganda untuk menyangkalnya dan tentu saja berhasil karena peristiwa Yesus itu bukan mukjizat yang bisa dilihat mata.

Memang, yang memungkinkan transisi dari ketidakpercayaan menuju kepercayaan bukanlah aneka mukjizat. Mukjizat malah rentan penyalahgunaan, apalagi kalau sudah berhubungan dengan duit, bikin seluruh jenjang pendidikan ambrol keblinger! Yang memungkinkan transisi itu justru adalah kesaksian hidup orang. Orang-orang Farisi yang dikritik Yesus adalah mereka yang tidak memberi kesaksian sebagai manusia merdeka. Hidupnya terkungkung kungkung kungkung… Hidup macam ini, pasti tidak eksklusif milik orang Farisi dong; atau mungkin lebih tepat dikatakan bahwa setiap orang dalam dirinya punya potensi sebagai orang Farisi itu.

Tuhan, semoga dengan rahmat-Mu kami menjadi saksi manusia merdeka; bebas dari ego kami sendiri demi kemuliaan-Mu dalam perjumpaan dengan sesama. Amin.


SENIN BIASA XXVIII
10 Oktober 2016

Gal 4,22-24.26-27.31;5,1
Luk 11,29-32

Posting Senin Biasa XXVIII B/1 Tahun 2015: Agama Apapun
Posting Senin Biasa Tahun 2014: Roh Apa Yang Bergentayangan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s