Pastor Kok Malas

Ini curcol jujur seorang pastor Katolik yang membacakan intensi misa (ibadat perjamuan, atau apalah namanya) dengan nama-nama arwah yang begitu banyak (padahal bukan misa arwah) dan namanya mirip semua (karena memang itu nama keluarga mulai dari cucu canggah sampai simbah canggah). Pastor ini malas, dan mungkin juga bosan dan tak suka, lantas dibacanya daftar itu secara ringkas: untuk keluarga besar a*****n. Jangan tanyakan nama pastor Katolik itu ya, please.

Bacaan hari ini juga memuat daftar, yaitu daftar nama murid yang dipilih oleh seorang guru bernama Yesus dari Nazaret. Cukup variatif nama-namanya, jadi tak begitu membosankan. Apakah ini daftar nama kering seperti daftar silsilah pada awal Injil Matius? Rupanya tidak. Ini insight lama: sebagai tanda bahwa bagi Allah, kita manusia ini bukanlah bilangan, angka, jumlah, deret ukur, dan sebagainya. Bagi Allah tidaklah penting berapa jumlah orang beragama A, mana mayoritas pemeluk agama dunia, dan sejenisnya. Itu kepentingan politik identitas manusia saja.

Daftar nama di sini mengindikasikan bahwa Tuhan memanggil setiap pribadi seturut namanya masing-masing: unik. Saya percaya, itulah yang diidamkan Allah: keragaman pribadi, meskipun masing-masing mengklaim ‘aku’, ‘saya’, ‘kula’, dan sebagainya seperti saya bagikan dalam halaman Saat Tuhan Tiada. Kumpulan pribadi bernama yang dipilih Yesus itu disebut rasul. Dua belas jumlahnya, tetapi sekali lagi, bukan angkanya yang penting, karena dalam kultur Yahudi angka itu bermakna simbolis juga, melainkan sifat personal dari panggilan Tuhan sendiri. Ini punya konsekuensi bagi bagaimana orang menjalani hidupnya.

Kerap orang menyatakan bahwa ia tak punya panggilan untuk status hidup tertentu, apapun status hidup itu: jomblo forever, married sebentar, jandu, biarawan, pertapa, dosen, pejabat publik, dan sebagainya. Bolehlah sekali-sekali ditanyakan: apa memang panggilan itu bisa dimiliki? Apakah panggilan itu suatu objek yang bisa direngkuh lantas dilepaskan? Ataukah orang lebih baik belajar menyatakan diri dari waktu ke waktu: aku adalah panggilanku?

Artinya, identitas orang akhirnya ditentukan oleh bagaimana dia dari waktu ke waktu menentukan pilihan demi pilihan. Itulah yang menentukan panggilannya, alih-alih menyatakan bahwa ia tak punya panggilan untuk ABCDE. Selama ia happy, konsolasi dengan pilihan-pilihannya, orang benar-benar menghidupi panggilannya sebagai rasul Allah, sebagai murid Tuhan, dan apalah namanya. Otherwise, altrimenti, orang tak bisa happy, tidak di sini, tidak di sana, tidak di mana-mana.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami senantiasa memilih yang terbaik bagi hidup kami bersama: kehendak-Mu sendiri dalam hidup kami. Amin.


PESTA S. SIMON DAN YUDAS
(Jumat Biasa XXIX A/1)
28 Oktober 2017

Ef 2,19-22
Luk 6,12-19

Posting Tahun 2016: Agama Pilihan
Posting Tahun 2015: Sumpah Pelupa
Posting Tahun 2014: Sedikit Yang Dipilih? Gombal!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s