Cinta Berbudi

Adakah aroma harum bunga mawar muncul dari semprotan obat nyamuk yang diisi esens mawar? Atau adakah ibu-ibu yang baru melahirkan terus menerus dibombardir oleh dokter, perawat, orang tuanya sendiri supaya ia mencintai bayinya? Mungkin untuk beberapa kasus ada, tetapi pada umumnya aroma bunga dan cinta mahmud pada anaknya muncul dari dalam, dari kealamiahan, bukan karena rekayasa orang atau intervensi dari luar. Itu bukan insight baru, tetapi untuk membuat sinkronisasi dengan hidup sehari-hari, lain cerita.

Hari ini Yesus dijebak dengan pertanyaan yang lebih dipersiapkan (daripada saat penjebaknya bertanya soal boleh tidaknya bayar pajak kepada Kaisar). Maka, baiklah pembaca memperhatikan secara hati-hati pertanyaannya itu: Hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?

Pertanyaan itu bisa saja ditangkap orang dengan asumsi bahwa Taurat itu memuat 613 ayat/aturan yang terdiri dari 365 larangan (negatif) dan 248 perintah (positif) dan dari sekian ratus itu mana yang paling utama. Asumsi ini tidaklah tepat karena memang pertanyaan ahli Taurat itu tidak dimaksudkan untuk membuat hirarki peraturan hukum Taurat. Orang Yahudi tahu benar bahwa hukum Sabat itu adalah hukum terpenting karena menyangkut relasi manusia dan Allah. Tetapi si ahli Taurat itu, karena ingin menjebak Yesus, sudah mempersiapkan tanggapan agresif kalau si Yesus bilang hukum terutama itu hukum Sabat (karena Yesus kadang tak menaati aturan hukum Sabat). Blaik. Jebulnya Yesus tidak menjawab seperti yang diharapkan!

Kemarin dulu saya tiba di perempatan jalan yang macet dan saya berhenti di baris agak depan karena memang pas lampu merah. Kemacetan terurai, tetapi saya lihat tak ada satu kendaraan pun yang bergerak maju dari tiga arah lainnya. Saya amati tidak ada polisi di sudut pos kantor polsek mereka [jelas toh di aturan lalin kalau ada polisi yang mengatur arus, dia lebih otoritatif dari lampu lalu lintas] dan ndelalahnya saya lihat di kejauhan sepertinya ada teknisi yang sedang memperbaiki kelistrikan di perempatan itu. Jadi melengganglah saya dengan permisi pada pengendara motor di depan saya karena ia tak mau maju. Saya menerobos lampu merah dan melewati perempatan nan lengang. Sampai di lampu merah berikut saya amati dari spion tak ada satu kendaraan pun yang mengikuti saya (meskipun saya dengar klakson-klakson berbunyi). Hahaha…. dasar ndeso! [Jangan bilang siapa-siapa ya saya bilang begitu]

Dalam imajinasi saya untuk bacaan hari ini, bisa saja tahu-tahu polisi menghentikan saya dan bertanya: Bapak tahu kesalahan Bapak? Akan saya jawab,”Tahu, Pak.” Saya melanggar lampu merah, tetapi….
Nah, bagian tetapinya itulah yang dihidupi Yesus dengan hukum Sabatnya. Sebetulnya dia menaati hukum Sabat, tetapi dengan cara yang bukan seperti orang ndeso tadi, sebagaimana saya menaati peraturan lalu lintas juga di perempatan itu, tetapi dengan cara berbeda. Mosok iya mesti mematung di perempatan menunggu teknisi menyelesaikan pekerjaan mereka atau menantikan kedatangan polisi dengan rindu sementara berpanas ria di perempatan?

Jawaban Yesus tak terdugai oleh ahli Taurat itu dan jawaban itulah yang saya pakai juga: mencintalah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budimu! Gombal amohlah orang mencinta tanpa pakai akal budi.

Tuhan, bantulah kami menangkap panggilan cinta-Mu dari kedalaman hati dan budi kami. Amin.


MINGGU BIASA XXX A/1
29 Oktober 2017

Kel 22,21-27
1Tes 1,5c-10

Mat 22,34-40

Minggu Biasa XXX A/2 2014: Seberapa Abadi Cintamu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s