Mbok Sabar

Saya kembali lagi ke contoh hari Minggu lalu sebagai kerangka untuk memahami bacaan hari ini [janjane sih karena malas mencari contoh lain gegara mesti nggarap pe er]. Ini kejadian yang dialami tetangga saya. Pada satu malam ia memacu kendaraannya dengan kecepatan standar 40 km/jam dan karena kondisi jalan yang lurus searah tanpa persimpangan dan sepi, ia paculah kendaraannya sampai 70 km/jam. Tak berapa lama polisi mengejar dan menghentikan lajunya. “Bapak tahu batas kecepatan dalam kota 40 km/jam?” Jawab tetangga saya,”Saya tahu, Pak.” “Lalu kenapa Bapak memacu kendaraan sampai hampir dua kali lipat dari batas kecepatan itu?” Polisi menyodorkan surat tilangnya.

Begitulah kiranya yang dibuat kepala rumah ibadat dalam bacaan hari ini. Ia sangat gusar karena si Yesus itu menyembuhkan orang sakit di hari Sabat. Ampun deh si Yesus ini: ada enam hari lain dan hukum Sabat jelas melarang bekerja pada hari Sabat, apa ya gak bisa menyembuhkan orang di hari lain sih?

Bukan soal kemendesakan penyembuhannya, melainkan soal perlakuan orang terhadap hukum itulah yang pantas diperhatikan. Katakanlah, sebetulnya perempuan yang 18 tahun sakit itu belum kritis kondisinya, masih bisa disembuhkan lain waktu, gak harus pada hari Sabat ini. Persis itulah persoalannya! Aturan Sabat dianggap lebih penting daripada kesembuhan orang sakit akut, yang bahkan dalam kultur Yahudi saat itu dimengerti sebagai invasi roh jahat! Tak cukup roh jahat itu menginvasi perempuan bungkuk itu, tetapi juga kepala rumah ibadat yang pikirannya cupet, menempatkan aturan di atas kepentingan manusia yang semestinya diabdi oleh aturan itu.

Untuk menanggapi kegusaran kepala rumah ibadat itu, Yesus tidak memakai argumentasi suci, mengutip ajaran teologi, mengambil ayat Kitab Suci, tetapi menunjukkan naluri akal budi [sebetulnya sih cuma biar berakhiran ‘i’ aja]. Ini common sense saja: kamu itu orang munafik, apa pada hari Sabat juga kamu membiarkan lembu atau keledaimu berpuasa pada hari Sabat?

Dulu banget saya sewot banget kalau ada orang menerobos lampu merah menyalip saya yang memperlambat kendaraan. Orang itu tak tahu aturan! Lama-lama ya capek sendiri toh kalau memandang mereka dengan kesewotan. Jadi saya andaikan saja mereka ini orang penting yang mesti buru-buru sampai tujuan demi kepentingan seluruh warga dunia. Kalau nanti di depan kecelakaan menimpanya ya hitung-hitung buat pengalamanlah, mungkin baik juga buat orang penting itu, hahahaha…

Ya Tuhan, semoga kami semakin mengerti yang utama dalam hidup kami bersama. Amin.


HARI SENIN BIASA XXX A/1
30 Oktober 2017

Rm 8,12-17
Luk 13,10-17

Senin Biasa XXX C/2 2016: Semua Karena Cinta? 
Senin Biasa XXX B/1 2015: Takut Kebebasan?
Senin Biasa XXX A/2 2014: Kebahagiaan Tanpa Objek

6 replies

  1. Saya mencoba memahami kebencian umat Yahudi saat itu terhadap tindakan Yesus. Apa itu ada kaitan dengan para tabib yang umumnya saat itu meminta bayaran? Dan meski Yesus tak memungut biaya tetap saja dianggap sama oleh umat Yahudi itu?

    Like

    • Barangkali salah satunya begitu ya Mas, tetapi kebencian itu terutama dipicu oleh konflik kepentingan dari pemuka agama Yahudi, bukan umat Yahudinya sendiri. Rasa saya begitu.

      Like

  2. Romo … apakah tulisan /tindakan di atas berdasar apa yang di lakukan Yesus (menyembuhkan di hari sabat yg melampaui peraturan yg ada) bisa di katakan semacam “diskresi _ignatian_” ??? apakah diskresi itu bisa mengandung subjektifitas? tentu pemahaman sya trbatas.. apakah ada link yg bisa sya buka atau romo berkenan menanggapi… Trimakasih bila berknan membantu…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s