Agama Pilihan

Otomatisasi memudahkan orang untuk merealisasikan keinginan dalam benaknya. Bayangkan kalau Anda ingin ke Paris dan otomatis mak cling Anda sudah di Paris; atau andaikanlah Anda mau makan tiramisu dan otomatis sebongkah tiramisu tersaji. Menyenangkan, bukan? Otomatisasi memang memudahkan dan bisa menyenangkan, dan blog ini menyodorkan keyakinan bahwa kemudahan itu memang menyenangkan, tetapi kurang mengembangkan.

Itu juga berlaku untuk hidup beragama. Wajar bahwa dari keluarga Kristen muncul anak-anak Kristen, dari orang tua Islam muncul anak-anak Islam, dan seterusnya. Orang tua tentu ingin memilihkan yang terbaik, menurut mereka, bagi anak yang mereka didik sendiri. Itu panggilan mulia yang direstui oleh agama manapun. Akan tetapi, memang bisa juga terjadi bahwa ‘restu’ itu ditangkap sebagai sarana otomatisasi ala modernisme yang bisa mencederai hidup manusia sendiri. Ambillah contoh orang yang cedera karena eskalator, pesawat terbang, reaktor nuklir, dan sebagainya. Orang tak bisa mengontrol secara penuh otomatisasi yang dirancang dan dibuatnya sendiri.

Dalam hidup beriman, agama bisa juga taken for granted. Sejak kecil dibaptis Katolik kok, ya sampai mati Katolik. Sejak bayi sudah diislamkan kok, ya sampai mati Islam. Dari keluarga Yahudi kok, jadi sampai mati Yahudi!

Teks hari ini memberi perspektif berbeda. Yesus memilih rasulnya, orang-orang Yahudi. Mereka ini orang-orang yang akrab dengan tradisi Yahudi sejak kecil. Angka dua belas jelas simbolik sebagai keseluruhan suku Israel. Simbol yang tak kalah penting: ini adalah momen pembeda antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dulu orang otomatis mendapat status anggota umat Allah karena kelahiran sebagai orang Yahudi, sebagai anak-anak Yakub. Sekarang, dengan momen panggilan para murid ini, status itu tidak didasarkan pada kelahiran fisik sebagai orang Yahudi. Status umat Allah diperoleh dari hidayah dan tanggapan orang untuk mengikuti hidayah itu.

Karena itu, ini bukan soal proselitisme, soal pindah-pindahan agama. Saya tak pernah tertarik pada proselitisme justru sejak beberapa saat sebelum saya jadi imam. Alasan saya sederhana: karena Yesus pun tidak melakukan proselitisme. Dia memilih para murid bukan untuk mengkristenkan mereka, wong belum ada agama Kristen! Dari sepak terjangnya bersama orang-orang pilihannya itu bisa dipahami bahwa Yesus memaknai agama Yahudi secara baru. Ia tidak menginginkan klaim eksklusif terhadap Allah yang diyakini orang Yahudi: Allah orang Yahudi itu ya Bapa untuk semua orang!

Artinya, momen panggilan murid ini justru menjadi undangan bagi mereka untuk memberi isi pada agama yang sudah mereka jalankan sejak lahir. Jadi, sebetulnya juga tak ada masalah dengan ‘lahir Katolik mati ya Katolik’ atau ‘sekali Islam tetap Islam’. Pe eR besarnya: bagaimana ungkapan itu direalisasikan supaya tidak cuma jadi slogan! Dengan kata lain, agama tidak bersifat otomatis lantaran unsur genetis (by birth): ini soal pilihan (by choice). Akan tetapi, ini bukan pilihan politis (takut kena sweeping, demi tunjangan) atau pilihan selera (supaya bisa makan babi, aborsi) atau pakaian: ini pilihan fundamental yang menentukan cara menghidupi identitas autentik.

Untuk pilihan fundamental, orang beranjak dari hidayah, dan hidayah datang dari Allah, bukan dari gen orang tua atau kebiasaan masa lalu.

Semoga kami senantiasa hidup dalam hidayah. Amin.


PESTA S. SIMON DAN YUDAS
(Jumat Biasa XXX)
28 Oktober 2016

Ef 2,19-22
Luk 6,12-19

Posting Tahun Lalu: Sumpah Pelupa
Posting Tahun 2014: Sedikit Yang Dipilih? Gombal!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s