Cinta Itu Rendah Hati

Hanya yang rendah hatilah yang tahu bagaimana sesungguhnya mencinta. Ini bukan kata-kata saya, melainkan kata-kata seorang yang pakar dalam kedosaan sejak masa kecilnya dan bertobat setelah umur 30 tahun. Namanya Augustinus. Saya tak tahu kenapa ia mengatakan itu. Barangkali karena tindakan mencinta adalah tindakan ilahi seperti disinggung dalam posting yang lalu, tetapi pokoknya saya tahu yang disampaikannya adalah suatu kebenaran.

Semoga pembaca tidak gagal fokus melihat teks yang dibacakan dalam liturgi hari ini karena konteks wacananya memang soal etiket sopan santun. Andaikan Yesus mengamati bagaimana orang menghindari baris pertama dalam seminar atau ceramah (karena takut), mungkin ia akan membahas etiket yang lain lagi. Pokoknya, bukan etiketnya yang dibidik Yesus. Kalimat terakhir yang disodorkannya bukan prinsip karma pada dimensi sosial: pada kenyataannya, tak sedikit orang yang meninggikan diri malah diagung-agungkan pengikutnya, sementara yang merendahkan dirinya ya sekalian dibunuh saja karakternya.

Kalimat itu lebih mengungkap suatu kenyataan rohani, suatu cara hidup yang membawa kebahagiaan yang utuh. Yesus menjelaskan bahwa Tuhanlah yang memberikan martabat dan kehormatan kepada manusia, bukan manusianya sendiri. Manusia tinggal menentukan sikap: mau menerima atau menolaknya, mau mengambil konsekuensi atau melanggarnya. Seperti dalam Sabda Bahagia, Yesus menjungkirbalikkan tata nilai dan perilaku dunia ini: mereka yang berdosa dan dengan kerendahan hati mengakuinya justru dihargai oleh Allah. 

Kerendahan hati jelas tidak mengakomodasi kekerasan hati. Maka, mengakui keberdosaan dalam kerendahan hati sama sekali berbeda dengan persistensi: dah tau salah, masih aja ngotot dan terus membiarkan diri sendiri berkubang dalam keberdosaan itu. Dalam metafora yang lain dicontohkan bagaimana orang diundang dalam pesta bagi para pendosa yang bertobat: mau join dalam pesta atau tidak. Anak sulung mengalami kesulitan untuk join karena merasa diri benar dan tak pantas berkumpul bersama para pendosa. Memang dibutuhkan suatu kerendahan hati untuk merealisasikan cinta yang senantiasa inklusif.

Begitulah, barangsiapa meninggikan diri justru mengeksklusi dirinya sendiri dari persekutuan dengan Allah yang senantiasa bersedia mengampuni orang-orang yang bertobat.

Tuhan, ajarilah kami rendah hati seperti Engkau rendah hati.


HARI SABTU BIASA XXX
29 Oktober 2016

Flp 1,18b-26
Luk 14,1.7-11

Posting Sabtu Biasa XXX B/1 Tahun 2015: Bukan Ilmu Padi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s