Drama Interior

Tak mudah memahami seseorang yang bersahabat dengan orang yang dikritiknya habis-habisan. Bagaimana mungkin orang tidak menyetujui pilihan fundamental orang lain dan toh tetap berteman, apalagi bersahabat dengannya? Ini aneh. Barangkali orang macam ini ya punya split-personality!

Entahlah. Hari ini, Zakheus mencari tahu siapa orang yang mungkin punya split-personality itu. Konon Yesus mengkritik habis-habisan mereka yang kaya, yang dengan segala cara mengumpulkan harta duniawi ini, orang seperti dirinya, tetapi ia dengar juga bahwa Yesus ini ternyata berpesta juga dengan orang-orang yang dikategorikan pendosa itu. Zakheus ini garong kelas kakap karena posisinya yang jadi kaki tangan orang Romawi untuk memungut pajak.

Penasaran terhadap pribadi yang nyentrik itu, Zakheus berusaha menemui Yesus, tetapi dia punya kendala besar: badannya kecil pendek dan Yesus itu dikerumuni banyak orang yang lebih besar darinya, murid-muridnya, pengikut-pengikutnya. Akan tetapi, Zakheus punya akal untuk merealisasikan keinginannya itu dan apa yang dia buat justru sangat inspiratif untuk orang zaman sekarang.

Dia tidak masuk dalam kerumunan orang-orang besar. Ia mesti detach terhadap gerombolan pengikut Yesus yang begitu banyak itu, tetapi ia tahu jalur yang akan dilalui Yesus dan rombongannya. Ia mendahului dan memanjat pohon ara dan bertengger di sana. Pohon ini rimbun daunnya. Zakheus memilih pohon itu seolah mau memantau tanpa ketahuan, tanpa terlihat orang lain. Ini seperti drama interior: orang mau mengetahui sosok Yang Lain dalam interioritasnya yang tak bisa diketahui orang banyak.

Ya, Zakheus yang kecil itu melepaskan diri dari kerumunan orang besar yang kiranya berada di dekat Yesus dan barangkali juga merasa mengerti siapa Yesus. Agama, bisa jadi dalam posisi kerumunan orang besar yang bisa mengklaim diri sebagai pembela Tuhan, tetapi barangkali tak pernah mengambil perspektif seperti yang diambil Zakheus. Akibatnya, justru agama ini sendirilah yang membunuh karakter Tuhan karena inkonsistensi dan kontradiksi yang ada dalam diri mereka sendiri.

Begitulah Kitab Suci bicara mengenai ‘yang kecil’ yang justru ramah terhadap Allah. Hospitalitas tidak muncul dari arogansi, dari rasa puas diri karena punya label halal atau suara mayoritas dan sejenisnya. Hospitalitas muncul dalam kesadaran akan drama batinnya yang membutuhkan Yang Lain.

Allah ingin hadir dan kehadiran-Nya justru terealisir karena orang menyadari kekecilan dirinya dan perlu senantiasa mawas diri terhadap aneka klaim yang sudah dibuatnya sendiri. Bisa jadi orang beragama mesti melakukan detour supaya dapat semangkin mengerti siapa Allah sesungguhnya bagi hidup manusia. Detour tak mungkin dilakukan tanpa orang keluar dari kemapanan ideologisnya tentang kebenaran. 

Tuhan, semoga kami dapat mengambil jarak dari aneka kelekatan ideologis kami tentang agama, tentang diri-Mu, tentang cinta, dan sebagainya. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXXI C/2
30 Oktober 2016

Keb 11,22-12,2
2Tes 1,11-2,2
Luk 19,1-10

2 replies

  1. Sangat menginspirasi Rom. Saya sedang mencari pohon saya sendiri dan belum ketemu juga pohon yang cocok untuk saya. Saya tetap membutuhkan kehadiran Yang Lain, yang Transenden, Yang Melampaui Nalar. Ada saran untuk saya Rom?

    Like

    • Terus move on saja, membuka perspektif dng pegangan Kitab Suci yang kita yakini. Toh akhirnya di manapun pohon itu, Tuhan juga yg berinisiatif melihat dan memanggil kita. Salam,

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s