Ada Rahmat Malu?

Orang yang kepercayaan dirinya minim biasanya menaruh kecurigaan terhadap pihak lain, seakan-akan mereka hendak menerkamnya, mempermalukannya, menghinanya, menghancurkannya, dan seterusnya. Dalam logika orang seperti ini bisa berlaku jargon “bunuh atau dibunuh”, “serang atau diserang”, dan sejenisnya. Ketika paradigma itu ditarik ke wilayah agama, hasilnya ya kurang lebih sama saja. Orang yang dangkal hidup agamanya, biasanya justru mereka yang paling lantang meneriakkan agama sebagai dewa dari segala dewa, lupa bahwa agama hanyalah ciptaan yang diharapkan membantu orang untuk kembali kepada Allah yang sesungguhnya, Allah yang bersemayam dalam hati orang. Bukan agamanya yang kurang kepercayaan diri, melainkan orangnya itulah yang bikin agama seolah-olah rapuh.

Tendensi orang yang kurang percaya diri itu ialah mencari dukungan dari orang yang kurang lebih mirip dengannya, satu alur pikiran, satu hobi, satu ideologi, satu keyakinan. Celakanya, orang yang mendukungnya itu, bisa jadi juga orang yang kurang percaya diri, dan jadilah kaum fundamentalis, kumpulan orang-orang yang kurang pede karena tak mau atau tak bisa membuka wawasan terhadap kenyataan yang begitu plural dan luas.

Saran orang gila hari ini rada sableng juga: kalo’ ente mau pesta, undanglah orang-orang terlantar, jangan undang mereka yang berduit, yang nantinya bakal melakukan hal yang sama terhadapmu. Sableng kan? Di mana-mana ya kalau orang membuat daftar undangan, dia akan memberi prioritas pada keluarga, sahabat, orang-orang yang dianggapnya berjasa! Lha kok itu malah dicoret?! Dasar wong edan!

Tentu saran sablengnya itu tak perlu ditangkap mentah-mentah (meskipun kalau ditangkap mentah-mentah pun niscaya memberikan kebahagiaan tak terperikan: mari lihat orang-orang muda yang membaktikan hidupnya untuk membantu rakyat miskin; kebahagiaan mereka takkan tergantikan oleh kesuksesan menjadi top manajer dan sejenisnya). Prinsipnya: kebaikan akan jadi korup jika digerakkan oleh kompleks orang kurang percaya diri tadi (do ut des, baikin orang dulu biar ntar kita juga dibaikin, atau sebaliknya “hancurkan sebelum dihancurkan”, “bully duluan sebelum dibully“, dan sebagainya). Kebaikan sejati itu seperti kasih ibu yang katanya seperti sang surya menyinari dunia: hanya memberi, tak harap kembali.

Dengan demikian, tentu bukan maksud wong edan itu melarang orang mengundang saudara dan sahabatnya dalam pesta meriah! Piye jal kalau saudara dan sahabat saya itu orang-orang kere, mosok saya gak boleh mengundang mereka?!

Dalam surat Paulus, diberikan wejangan supaya orang sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, tetapi ini bukan persekongkolan orang-orang kurang pede tadi, yang cuma mencari kesamaan kepentingan. Ada tambahan penting dalam wejangan: tak mencari kepentingan diri dan puji-pujian yang sia-sia. Dumeh sama-sama mantan manajer njuk sepakat menerima tunjangan mantan gitu po? Mentang-mentang berasal dari satu suku njuk memelihara solidaritas negatif gitu? Mentang-mentang seagama njuk mati-matian membela cecunguk yang label agamanya sama gitu po?

Semoga Tuhan memberikan rahmat (ke)malu(an) kepada bangsa ini supaya tak sibuk dengan kepentingan sendiri. Amin.


SENIN BIASA XXXI
(Pesta Wajib S. Alfonsus Rodriguez SJ)
31 Oktober 2016

Flp 2,1-4
Luk 14,12-14

Posting Senin Biasa XXXI Tahun 2014: Pilih Kinerja DPR Apa Menteri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s