Sudah Happy?

Ini ilustrasi yang dicuplik dari publikasi A Theory of Love: Konon ada seorang anak yang kaya raya disenangi banyak teman (sebetulnya bukan cuma konon ya). Warisan ortunya. Ia begitu senangnya sehingga bisa berfoya-foya dengan teman-temannya. Tak mengherankan, semua teman menyanjungnya. Lama kelamaan, ia kehabisan uang dan jatuh melarat. Teman-temannya satu per satu mlipir meninggalkannya karena dia sudah gak asik lagi. Anak ini lalu datang kepada Nasruddin untuk minta diramal. “Uangku habis dan teman-teman meninggalkan aku. Tolong ramalkan apa yang akan terjadi padaku!”
“Oh, jangan khawatir,” Nasruddin berpikir sejenak, “Segalanya akan beres.”
“Maksudmu?” tanya anak yang penuh arwah penasaran itu.
“Tunggulah beberapa minggu. Kau akan senang dan bahagia melebihi yang pernah kau alami kemarin-kemarin ini.”
Spontan anak itu melonjak kegirangan. Nasruddin heran, tetapi anak itu terus melonjak senang. “Jadi aku akan lebih kaya dari kemarin ya?”
Nasruddin berusah menghentikan lonjakan anak itu. “Bukan, bukan begitu, Nak. Maksudku, tak lama lagi kau akan terbiasa jadi miskin dan tak punya teman.”

Begitulah juga Sabda Bahagia yang dikutip teks hari ini. Berbahagialah mereka yang miskin, bukan karena mereka kelak akan menjadi kaya! Berbahagialah mereka yang berdukacita, bukan karena mereka akan cekakakan!

Itu mengapa orang beragama bisa tersesat juga menangkap ajaran agamanya; mereka mengira bahwa nasihat rohani (mentang-mentang yang rohani itu juga material) bisa dipakai untuk memberikan justifikasi pada kepentingan pembangunan ekonomi sehingga makin gemar ideologi bahwa berkat Allah tampak pada kota yang semakin modern, semakin bersih, semakin rapi, semakin terbebaskan dari gelandangan, dan sejenisnya. Lah, bukannya berkat Allah itu paling nyata dalam suatu bonum commune, Mo? Iya, dan justru karena itu tak pernah bisa dikorup sebagai tafsiran pemerintah, tafsiran segelintir orang: semua mesti punya suara, diberdayakan, bukan diperdaya dengan uang dan kuasa! Walah…. ya susah dong! Mosok menata kota mesti minta persetujuan gelandangan? Lha iya pancen, sudah sejak dulu dibilang namanya beriman secara konsekuen itu tak pernah gampang.

Itu mengapa Sabda Bahagia dilontarkan kepada mereka yang miskin. Dalam diri merekalah ada parameter, tolok ukur yang disebut Kerajaan Allah. Kuncinya? Jelas, wong namanya Sabda Bahagia, kuncinya ya happiness. Bahagia gak orang miskin itu dalam perjuangan membela martabatnya? Kalau dipenuhi hawa nafsu, gelojoh, haus kuasa, ya ujung-ujungnya sama saja dengan penguasa.

Augustinus pernah omong: Tuhan bukan cuma cinta, bukan cuma belas kasih, tetapi Ia juga adalah kebahagiaan. Hari Raya Semua Orang Kudus yang dirayakan Gereja Katolik hari ini menunjuk pada perkumpulan orang-orang kudus itu: yaitu mereka yang hidupnya happy dalam relasi pribadi dengan Allah di tengah-tengah dunia yang tercabik-cabik ini.

Tuhan, mohon rahmat kebahagiaan dalam meletakkan harapanku pada penyelenggaraan ilahi-Mu.


HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS
Hari Selasa Biasa XXXI C/2
1 November 2016

Why 7,2-4.9-14
1Yoh 3,1-3
Mat 5,1-12a

Posting Tahun Lalu: Tragedi Orang Kudus
Posting Tahun 2014: Menteri-menteri Nan Suci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s