Doa Arwah, Hiii…

Hari ini Gereja Katolik mengenangkan arwah semua orang beriman. Nah, arwah siapa itu ya? Arwah orang Katolik doang? Atau arwah leluhur orang Katolik? Atau arwah tetangga orang Katolik? Arwah orang ateis termasuk gak ya? Ungkapan bahasa Inggris All Souls’ Day tak mengizinkan pertanyaan seperti itu. Mau tanya apa coba wong sudah jelas: semua (atau seluruh?) jiwa! Entah ateis (baik Katolik maupun agama lainnya) atau teis (entah yang main poli atau yang monoton), sejauh berjiwa, ya itulah yang dikenangkan. Akan tetapi, ada ungkapan bahasa Inggris lain yang paralel dengan bahasa Indonesia juga: All the Faithful Departed. Jadi, pertanyaan tadi tetap berlaku. Ini arwah siapa yang dikenangkan… Nah lo…

Saya seorang imam Katolik yang hampir setiap hari mengucapkan Doa Syukur Agung dalam Perayaan Ekaristi dan sadar betul bahwa di dalamnya ada pembedaan antara orang beriman dan orang tak beriman sewaktu mendoakan mereka yang sudah meninggal dunia. Rumusannya kira-kira begini: Ingatlah pula akan saudara-saudari kami, kaum beriman, yang telah meninggal dengan harapan akan bangkit, dan akan semua orang yang telah berpulang dalam kerahiman-Mu. Terimalah mereka dalam cahaya wajah-Mu.

Mengapa tidak langsung saja didoakan “Ingatlah semua orang yang telah berpulang dalam kerahiman-Mu”? Bukankah “semua orang” itu sudah mencakup saudara atau tetangga atau kenalan di medsos, entah beriman atau tidak, entah percaya pada kebangkitan atau tidak? Lagipula, bukankah iman itu sangat dinamis dan tak mungkin dibuat batas pemisah hitam putih?

Tentu jawabannya gampang: lha itu kan memang doa dalam ibadat orang Katolik, bukan doa bersama untuk kerukunan agama (yang lebih bernuansa politis)! Jadi ya wajar saja jika rumusannya dimaksudkan supaya pengikutnya menangkap faktor pembeda (harapan akan kebangkitan). Pun orang lain yang tak memiliki harapan akan kebangkitan itu ya didoakan supaya diterima Allah sendiri. Rumusan Doa Syukur Agung mengingatkan perspektif iman Katolik yang distingtif, tidak dengan agenda membuat pemisahan dan evaluasi mengenai perspektif mana yang lebih baik.

Dalam Gereja Protestan tidak dirayakan pengenangan arwah umat beriman dan itu bisa dimengerti dari perspektif sejarah juga. Dulu Luther protes habis-habisan terhadap penyelewengan Gereja Katolik dengan bisnis indulgensinya (pengampunan dosa mereka yang sudah meninggal). Protes itu benar-benar tepat, dan Gereja Katolik mengevaluasi dirinya, tetapi dampaknya tak terelakkan. Luther sudah telanjur menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Jerman dan ia tak menerjemahkan Kitab yang jadi landasan Gereja Katolik untuk menyokong gagasan mengenai indulgensi itu (salah satunya ya yang dibacakan sebagai bacaan pertama hari ini). Itulah yang dipakai saudara-saudari Protestan.

Janjane ya cukup disayangkan, tetapi begitulah sejarah. Praktik mendoakan arwah tidak eksklusif milik Gereja Katolik. Sebelum kristianitas meluas, sudah ada praktik macam itu dalam tradisi lain juga. Semoga semua makhluk berbahagia dalam Tuhan. Amin.


HR PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN
(Hari Rabu Biasa XXXI B/1)
2 November 2016

2Mak 12,43-46
1Kor 15,12-34

Yoh 6,37-40

Posting Tahun Lalu: Cuci Jiwa Gratis
Posting Tahun 2014: Di Mana Arwah Umat Beriman Itu?

1 reply

  1. Indahnya iman Katolik, yang selalu mengajarkan kita untuk mendoakan arwah leluhur/keluarga atau orang orang yg kita kenal. Saya selalu ke Pantai waktu peringatan peringatan tertentu seperti Cheng Beng, berdoa dan menaburkan bunga di laut meskipun banyak teman saya yg selalu mengecam tindakan mendoakan arwah. Mereka selalu bilang mendoakan arwah adalah sesat. Saya bangga menjadi Katolik.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s