Muter-muter Yuk

Kata seorang temin fesbuk: kalau jatuh cinta, jatuh cintalah dengan hati, bukan dengan jiwa, supaya kalau ujung-ujungnya sakit ya cukup sakit hati aja… Tapi, omong-omong, mana ada orang jatuh cinta pakai hati ya? Orang jatuh cinta ya pakai jiwa… halah, dibahas.

Karena cinta itu mendengarkan, ungkapan bijak itu bisa juga dipakai untuk mengerti dua sikap dasar yang disodorkan teks hari ini. Yang satu ialah mereka yang datang untuk mendengarkan, dan yang kedua ialah mereka yang datang untuk mengeluarkan sungut-sungut dan demo. Yang pertama itu para pemungut cukai dan pendosa. Yang kedua adalah orang-orang Farisi dan Ahli Taurat, para pemuka agama.

Sikap pendengar itu memang sikap fundamental bagi para pendosa yang hendak move on, tetapi dinajiskan orang yang tak mau move on dalam peziarahan on going conversion. Sebaliknya, sikap sirik bersungut, penuh kritik terhadap orang lain, jadi skandal bagi perjalanan hidup rohani. Wong semestinya gembira kalau orang lain bertobat ke jalan yang benar, ini kok malah bersungut-sungut.

Dari mana datangnya sungut itu?
Tadi saya naik taksi yang sopirnya sudah tahu daerahnya (Duren Sawit) dan nama jalannya (rahasia). Saya rada buta dengan perubahan di Ibukota ini, jadi ketika ditanya mau lewat mana, saya cuma bilang pokoknya mana yang paling cepat sampai saja. Sampai persimpangan dia menyodorkan pilihan lagi: Prumpung atau Kalimalang. Ya Kalimalang aja deh, Pak.

Saya beri toleransi dia belok ke sana-sini sampai menyodorkan pilihan lagi mau ke kanan atau lurus. Saya tanya yang ke kanan itu macet atau tidak, dia tak menjawab dan malah ngantri ke arah lurus yang jelas-jelas macet. Saya bilang sepertinya yang ke kanan lebih lancar. Oh, ini robot ding ya, lalu saya beri perintah: ambil kanan aja, Pak!

Tampaknya perintah itu tak begitu menyenangkan karena itu ke arah yang benar (meskipun sudah kelewatan daristadi). Persis sebelum ada persimpangan supaya bisa menyeberang Banjir Kanal timur saya bertanya,”Ini belok kanannya di mana ya, Pak?” Nah, sayangnya dia menjawab,”Ya nanti Bapak yang kasih komando aja!”

Eeeeladalah! Sopir ini gak tau dia lagi ada di Ibukota kali‘ ya? “Bapak tadi bilang tahu tempatnya dan sekarang malah minta saya kasih tunjuk. Berhenti sini aja, Pak!” Eaaaahahaha… mulai dah sungutnya keluar. Bukan sungut saya, sungut sopirnya itu. Tapi syukurlah dia menghentikan mobil. Saya turun, ambil bagasi, saya bayar seturut apa yang tertera di argo.

Dia lihat uang saya, sungutnya tambah panjang,”Ini kena charge, Pak.” “Charge apaan?Charge hape? Berapa?” tanya saya sambil buka dompet. Sungutnya memendek sedikit. “Lima belas ribu.”
Buset dah, jangan-jangan sungut saya keluar nih.
 “Mana buktinya ada charge?” “Bapak mestinya tadi minta di bandara.”
Haaaahahaha…. ngapain saya mengemis supaya boleh membayar charge 15 ribu?

Sungut si bapak ini mentok,”Saya gak mau caranya gini!” “Terserah, Bapak!” Saya pergi menarik tas cari ojek dan saya tidak pasang sikap pendengar karena mestinya sungutnya berubah jadi caci maki. Ngapain mendengarkan caci maki? Wong happy day kok, eaaaaaa.

Ya Tuhan, mohon rahmat supaya kami pendosa dapat turut bergembira bersama-Mu.


KAMIS BIASA XXXI
3 November 2016

Fil 3,3-8a
Luk 15,1-10

Posting Kamis Biasa XXXI B/1 Tahun 2015: Allah Jaga Jarak
Posting Kamis Biasa XXXI Tahun 2014: Untung Rugi, Aku Tahu

2 replies

    • Soal cara, saya kira kok akan bergantung pada konteks tiap orang yang keras kepala (?) itu. Saya tak tahu, tapi mungkin prinsipnya cara itu kiranya perlu memenuhi kaidah ‘compassionate love’… kalau sudah sampai situ, uraiannya bisa jadi bahan tesis, hehe…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s