Allah Jaga Jarak

Dalam tradisi Yahudi dulu diyakini bahwa orang beriman mesti menjaga jarak aman dari kaum pendosa, orang-orang yang dianggap haram. Dalilnya sederhana: yang dianggap haram itu bisa menularkan infeksi dosa yang menajiskan mereka. Maka dari itu, orang-orang yang dinajiskan ini semakin sulit mengakses tempat ibadat, tak bisa berpartisipasi dalam ritual agama. Padahal, untuk pembersihan diri diperlukan ritual keagamaan. Lah, jadi gimana dong, orang najis itu seperti terkutuk seumur hidup karena masuk dalam lingkaran genderuwo alias vicious circle!

Dalam Tradisi Katolik hal itu bisa diterangkan secara lebih detil. Misalnya ada seorang perempuan yang punya skandal publik, punya suami dua misalnya, dikucilkan oleh umat lainnya. Ia tidak dilibatkan dalam kegiatan di lingkungan atau Gerejanya. Semakin lama ia pun semakin tak karuan dan sampai pada titik tertentu ia melakukan aborsi. Aborsi ini sudah membuat dirinya otomatis memisahkan diri dari persekutuannya dengan Gereja, yang sepenuhnya membela kehidupan. Pemisahan diri ini menghilangkan haknya untuk bisa aktif berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi, misalnya. Ia tak bisa ‘komuni’ karena halangan skandal publik yang telah dilakukannya.

Ada saja umat yang tak suka dengan mereka yang jatuh terperosok dalam dosa itu dan bahkan mungkin akan memata-matainya supaya tidak sampai komuni, misalnya. Akan tetapi, bisa terjadi hal yang lebih parah: karena dosa beratnya, ia tak boleh mengaku dosa. Horotoyoh… lha kalau orang sudah sadar akan dosanya lantas mau mengaku dosa lalu ditolak karena dosa beratnya, njuk bagaimana dia bisa bertobat dong?! Bagaimana dia bisa memperbaiki relasinya dengan Allah kalau tidak boleh menerima Sakramen Tobat?

Yang dibuat Yesus memutus lingkaran genderuwo tadi: ia makan bersama para pendosa. Bukan makan-makannya yang penting, melainkan kenyataan bahwa Allah senantiasa hendak menjaga jarak dengan manusia, juga pendosa: menjaga jarak dekat, bukan malah menjauhinya. Pertobatan senantiasa lebih menggembirakan daripada arogansi kerohanian yang semu. Coba bayangkan betapa menggelikannya orang yang membuat excuse sebagai orang bodoh tetapi kemudian mencoba memberi aneka macam wejangan, seolah-olah malah mengesankan orang yang diberinya wejangan itu lebih bodoh lagi.

Allah senantiasa menjaga jarak dekat-Nya dengan manusia. Manusialah yang ja’im dan paling banter menggembar-gemborkan kerapuhan, kelemahan atau dosanya. Orang bisa lupa atau tak sadar bahwa gembar-gembor kerapuhan dan dosa itu justru merupakan wujud arogansi kerohanian semunya jika ia tak beritikad baik untuk bertobat.

Tuhan, semoga aku semakin Kaumampukan untuk senantiasa bertobat. Amin.


HARI KAMIS BIASA XXXI B/1
5 November 2015

Rm 14,7-12
Luk 15,1-10

Posting Tahun Lalu: Untung Rugi, Aku Tahu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s