Agama Bebek

Bagi sebagian besar orang, memeluk agama merupakan fenomena kultural lebih daripada tindak bebas memilih suatu style of life. Beragama itu seakan-akan otomatis seperti orang lahir sebagai orang Jawa, Batak, Papua, dan sebagainya. Karena ortu Katolik ya anak-anaknya dibaptis sejak bayi dan sampai tua mati sebagai orang Katolik. Karena ortu Islam ya anak-anak perempuannya dikerudungi sejak kecil dan sampai tua jadi orang Islam. Apakah itu keliru? Tidak otomatis keliru. Orang tua muslim wajib mendidik anak-anaknya sesuai dengan kaidah agama Islam dan orang tua Katolik pun punya tanggung jawab membesarkan anak-anak dengan nilai-nilai tradisi iman Katolik.

Problemnya bukan bahwa anak orang Katolik tetap jadi Katolik dan anak orang Islam tetap jadi Islam. Problem yang disoroti Yesus dalam teks hari ini ialah bahwa untuk beriman sungguh-sungguh, seseorang mesti memilih dari kedalaman dirinya, bukan pasrah pada conditioning kultural yang mengelilinginya. Beriman adalah soal pilihan personal, entah privat atau publik. Orang ikut pemilu dan mencontreng pilihannya secara privat, tetapi belum tentu ia memilih secara personal. Bisa jadi ia punya beban moral atas uang yang diterimanya dari calon anggota DPRD tertentu. Ada kekuatan impersonal yang mengikat pilihannya: uang, pekerjaan, jabatan, atau yang lainnya. Pilihannya tak lagi personal meskipun dilakukan secara privat.

Pilihan personal lebih menantang daripada sekadar mengikuti conditioning kultur sekeliling, yang jadi zona nyaman. Pilihan personal dalam beriman tak selalu mengubah atribut seseorang (agamanya tetap sama), tetapi mentransformasi penghayatan atribut itu. Dalam konteks mengikuti Kristus, pilihan personal itu mengandaikan dua hal. Pertama, orang mesti kritis terhadap kulturnya sendiri, bahkan jika perlu, melepaskan diri dari kepicikan kulturnya. Frase ‘membenci ayah ibu’ bernuansa seperti itu: orang beriman tak bisa mengungkung diri pada kepentingan narsis keluarga; ia mesti melakukan konstruksi atas suatu imagined community yang lebih luas daripada relasi darah. Kedua, orang mesti siap menanggung risiko penolakan. Tanpa dua hal ini, tak mungkin orang mengikuti Kristus: ia mengikuti agama, agama untuk para ‘bebek’.

Supaya orang beriman tak jadi bebek, ia mesti senantiasa berhitung dan melihat kekuatan yang lebih besar dari dirinya sendiri dan menjalin relasi dengan sosok yang lebih kuat itu, yaitu Allah sendiri. Relasi lain mesti direlativir terhadap relasi dengan Tuhan. Sifat relatif tidak serta merta berarti tak penting. Relasi itu tetap penting, tetapi sejauh terkait dengan relasinya dengan Tuhan. Lagi-lagi, menurut bacaan pertama, relasi dengan sosok yang lebih kuat itu hanya bisa diakses dengan cinta kepada sesama.

Tuhan, semoga api cinta pada-Mulah yang membakar cintaku dan sesama. Amin.


HARI RABU BIASA XXXI B/1
Peringatan Wajib St. Carolus Borromeus
4 November 2015

Rm 13,8-10
Luk 14,25-33

Posting Tahun Lalu: Mengikuti Jejak Susi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s