R.S.V.P.: Bales Dong

Pada jejaring sosial Facebook tersedia fasilitas undangan untuk acara tertentu dan mereka yang diberi info itu bisa memberikan konfirmasi untuk datang atau tidak datang atau masih ragu-ragu. Dalam korespondensi sebelum era medsos dulu dikenal singkatan R.S.V.P.: répondez s’il vous plaît, permintaan sopan dalam bahasa Perancis kepada seseorang untuk menjawab undangan.

Teks Injil hari ini bicara soal menjawab undangan kepada Kerajaan Allah, yang lagi-lagi diumpamakan sebagai suatu pesta. Pada masa hidup Yesus, konon mereka yang diundang pesta itu disodori R.S.V.P. tadi dan menjawab dengan pernyataan niat untuk datang (atau tidak datang). Tampaknya dalam undangan itu belum ada keterangan detail mengenai jam penyelenggaraan pesta (bahkan mungkin juga hari persis pestanya). Menyatakan niat untuk hadir berarti orang yang diundang itu memberi prioritas penting bagi pesta dan penyelenggaranya. Nah, mereka yang sudah bersedia datang itu kemudian menunggu info detail mengenai kapan persisnya pesta dimulai.

Membuat excuse dan membatalkan niat kedatangan pada saat orang diberi info detail pesta itu pada zaman Yesus dianggap sebagai penghinaan. Maklum, itu berarti mengganti prioritas, seolah-olah menyatakan secara tersirat bahwa pestanya itu tak penting. Semua excuse itu bukannya tak masuk akal. Akan tetapi, justru itulah persoalannya: perjamuan pesta Kerajaan Allah itu dikebawahkan oleh apa saja yang masuk akal tadi, seolah-olah perjamuan pesta itu sendiri jadi tak masuk akal.

Orang pertama jelas memberi prioritas pada bisnisnya. Orang yang kedua juga pasti bukan orang miskin (karena umumnya orang membeli satu atau dua pasang lembu). Orang ketiga tidak membuat excuse, tapi menolak saja. Di balik excuse dan penolakan itu tersirat keputusan jelas dari tamu undangan bahwa mereka memilih proyek pribadi mereka sendiri daripada perjamuan pesta. Alasan mereka serius, tapi urusan perjamuan pesta yang jadi analogi Kerajaan Allah ini tentu jauh lebih serius, lebih esensial.

Kata Injil hari ini: orang yang diundang pertama kali tak otomatis punya akses pada berkat pesta itu. Orang mesti konsekuen dengan R.S.V.P. perjamuan pesta Kerajaan Allah. Itu mengapa orang kristiani tak pernah bisa arogan dengan baptisan yang diterimanya (meskipun diyakini bahwa baptisan itu menyelamatkan). Baptisan memang membuka peluang orang untuk terlibat dalam proyek keselamatan Allah yang dimodelkan oleh Yesus Kristus dan dilanjutkan oleh Roh Kudus, tetapi jika yang dibaptis berlagak seperti ketiga orang yang diundang tadi, ya sama saja sami mawon!

Supaya tak berlagak seperti mereka, umat beriman perlu terus menerus melihat prioritas hidupnya. Ini bukan soal bahwa orang mesti mengabaikan urusan duniawinya. Ini justru soal mengurus yang duniawi itu dalam terang R.S.V.P. atas undangan Allah. Dalam mengurus yang duniawi itu, di manakah bisa ditunjukkan bahwa Kerajaan Allah mendapat tempat pentingnya? Kata bacaan pertama: ketulusan cinta (alamak, kata-kata klise lagi!) seturut disposisi masing-masing orang. Tak perlu muluk-muluk. Yang penting orang menemukan peran hidupnya dan menjalankannya secara tulus dan gembira hati. Ketidaktulusan dan ketidakgembiraan dalam peran itu mengindikasikan bahwa ia memenangkan proyek pribadinya dalam tegangan dengan proyek perjamuan pesta Kerajaan Allah.

Tuhan, semoga aku semakin tulus mencintai-Mu dalam setiap tugas dan pelayanan yang kuemban. Amin.


HARI SELASA BIASA XXXI B/1
Peringatan Beato Rupert Mayer (SJ)
3 November 2015

Rm 12,5-16a
Luk 14,15-24

Posting Tahun Lalu: Merpati Tak Pernah Ingkar Janji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s