Cuci Jiwa Gratis

Dalam tradisi iman Katolik, peziarahan orang tak berakhir dengan kematian. Kematian hanya berarti usainya status biologis. Setelah status biologis ini usai, ia masih berkesempatan memurnikan jiwanya dalam tegangan surga dan neraka. Dengan kata lain, arwah umat beriman belum secara definitif masuk surga atau neraka. Artinya, tak ada dalam keyakinan iman Katolik bahwa setelah seseorang meninggal, ia lalu tinggal masuk surga atau neraka abadi. Kalau ia berkeyakinan bahwa karena dosa-dosanya ia akan masuk neraka abadi setelah mati, ia malah tersesat. Sebaliknya, jika hidup baik membuatnya jemawa dan merasa pantas langsung masuk surga abadi, ia pun bisa terkaget-kaget setelah status biologisnya usai seperti dituturkan A.A. Navis dalam cerpen Robohnya Surau Kami.

Semakin lama saya semakin percaya bahwa pada akhirnya takkan ada penghuni neraka abadi. Siksaan jiwa memang bisa terus berlangsung setelah hidup biologis ini usai, tetapi siksaan itu takkan pernah menjadi abadi jika orang tidak memilih bersekongkol dengan boss besar neraka abadi. Persis karena Allah adalah Cinta, Dia akan mencintai semua saja di manapun mereka berada. Di surga, Dia mencintai penghuninya. Di neraka pun, Dia mencintai penghuninya. Bedanya terletak pada tanggapan orang yang ada di neraka: selama mereka tak menanggapi cinta Allah itu, mereka akan tetap menikmati siksaan jiwa.

Tak mengherankan bahwa Gereja Katolik memakai teks dari Kitab Makabe (yang tidak masuk dalam kanon Kitab Suci non-Katolik) untuk meneguhkan iman umat bahwa adalah berguna berdoa bagi jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal dunia. Kenapa? Karena mereka butuh dukungan juga, sebagaimana pemain profesional sepak bola pun memerlukan dukungan suporternya. Dukungan untuk apa? Supaya jiwa itu semakin murni untuk memilih hidup abadi bersama Allah.

Gampangnya begini deh. Pada banyak kesempatan, orang tidak sungguh-sungguh mengalami pertobatan sejati dan seperti harus menunggu sampai kapok dulu. Kalau kakinya diamputasi baru kapok kebut-kebutan di jalan, kalau gak naik kelas baru sadar apa artinya belajar, kalau sudah bunuh-bunuhan barulah…. terlambat dong! Tidak, tak ada kata terlambat untuk pertobatan. Mungkin sebagian orang baru ‘mengerti’ pertobatan sejati setelah hidup biologisnya selesai. Bisa jadi orang belum bisa lepas bebas dari uang meskipun ia sudah tak punya uang sama sekali (entah cash atau bukan). Bisa jadi orang belum kapok kalau cuma diamputasi kaki dan tangannya dan baru kapok setelah lehernya diamputasi! Lha… karena pertobatan itu lebih dari kapok, kiranya juga masih diteruskan setelah yang biologis ini hancur berkeping-keping. Tahap itulah yang dimengerti Gereja Katolik sebagai api pencucian.

Maka dari itu, api pencucian pasti bukan tempat, sebagaimana surga-neraka pun bukan tempat; ini adalah status jiwa yang belum sungguh murni terdisposisi untuk hidup bersama Allah secara penuh. Kalau begitu, tak perlu membayangkan arwah umat beriman seperti kumpulan hantu yang sedang antri. Status mereka sama seperti kita yang berfisik ini. Peringatan arwah semua orang beriman mengundang kita untuk semakin memahami realitas fundamental kemanusiaan kita: senantiasa dalam ziarah untuk mengalami perjumpaan dengan-Nya, entah dengan fisik yang masih utuh atau tidak. Gratis.

Tuhan, semoga jiwa-jiwa umat beriman, termasuk jiwaku, semakin berlabuh dekat dengan-Mu. Amin.


PERINGATAN MULIA ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN
Hari Senin Biasa XXXI B/1
2 November 2015

2Mak 12,43-46
1Kor 15,12-34

Yoh 6,37-40

Posting Tahun Lalu: Di Mana Arwah Umat Beriman Itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s