Tragedi Orang Kudus

Seorang artis Perancis, Léon Bloy, pernah menulis kurang lebih begini: satu-satunya kesedihan, satu-satunya kegagalan, satu-satunya tragedi besar dalam hidup manusia ialah bahwa ia tidak jadi orang kudus! Orang yang membiarkan dirinya tak mengarah pada kesucian, tidak mengaktualisasikan potensi dirinya, jalannya tak sinkron dengan prinsip AMDG. Orang yang merasa risih dengan atribut ‘menjadi kudus’, merasa diri tak bisa suci, pelan-pelan akan menentukan hidupnya sendiri sungguhan sebagai tragedi.

Andaikanlah seorang anak senang dengan reaksi yang ditimbulkan air soda; ia mendapati akuarium dengan terumbu karang tanpa air di dalamnya, lalu ia mengisi akuarium ini dengan air soda (siapa juga yang kurang kerjaan nyimpen air soda untuk ditaruh di akuarium?!). Ia senang bukan kepalang melihat terumbu karang dengan gelembung air soda, tetapi kemudian ia tahu bahwa keindahan terumbu karang itu rusak justru karena air soda yang diisikannya ke dalam akuarium! Memang hal-hal yang menyenangkan dalam hidup ini bisa jadi awal tragedi.

Sabda bahagia yang disodorkan Yesus pada Hari Raya Semua Orang Kudus ini menyodorkan aneka macam paradoks yang susah dinalar dengan logika manusiawi. Tak ada orang yang happy karena lapar, dianiaya, difitnah, diteror, dan sebagainya. Memang, Sabda Bahagia bukan suatu deskripsi kebahagiaan. Ini adalah ajakan bagi pengikut Kristus untuk meletakkan harapan kepada Si Pemberi Hidup. Oleh orang tak beriman, harapan macam ini berujung pada tragedi.

Perayaan Semua Orang Kudus dalam Gereja Katolik kiranya sudah dimulai sejak abad ke-4 ketika begitu banyak martir berjatuhan, meskipun secara formal baru dibakukan beberapa ratus tahun kemudian. Salah satu adegan yang menarik dalam film Quo Vadis ialah keheranan Kaisar Nero karena orang-orang Kristen yang dibantainya mati dalam keadaan senyum, saat mereka dijadikan pakan hewan buas pun malah mereka menyanyi. Kesucian mereka capai bukan dengan menyangkal hiruk pikuk hidup harian, menolak kesenangan apa saja dalam hidup duniawi.

Sebaliknya, mereka menangkap hal-hal esensial dalam hidup duniawi ini. Orang kudus ialah mereka yang mengambil substansi dari keindahan hidup yang remeh temeh untuk dimaknai dengan hal yang jauh lebih indah lagi dengan harapan akan Allah yang bertindak. Para Kudus menjadi perantara bagi kita bukan dalam arti bahwa antara kita dan Allah ada sosok orang kudus itu yang berfungsi sebagai tukang pos atau office boy!

Memang bisa saja, dan tidak keliru juga, kita berdoa mohon bantuan Bunda Teresa ketika kita mengalami krisis dalam kegiatan karitatif membantu orang-orang terlantar. Bisa saja orang krisis iman dan berdoa kepada Santo Petrus untuk minta peneguhan. Akan tetapi, pun kalau mereka membantu kita, bukan dalam arti permintaan kita dicatat lantas disodorkan kepada Allah Bapa, lalu hari kesekian permintaan itu dikabulkan dengan ketok palu. Bantuan dari Para Kudus kita terima melalui Roh yang mendorong, menggerakkan kita untuk menghidupi Sabda Bahagia yang dihidupi Para Kudus yang telah mendahului kita itu. Artinya, di situ pun ada peran kita untuk mengupayakan kekudusan.

Ya Tuhan, mohon kekuatan untuk meletakkan harapanku pada penyelenggaraan ilahi-Mu. Amin.


HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS
Hari Minggu Pekan Biasa XXXI B/1
1 November 2015

Why 7,2-4.9-14
1Yoh 3,1-3
Mat 5,1-12a

Posting Tahun Lalu: Menteri-menteri Nan Suci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s