Bukan Ilmu Padi

Beberapa waktu lalu sudah dikatakan bahwa Yesus bukan pertama-tama guru moral meskipun ia menyokong sepenuhnya moralitas hidup manusia. Kalau begitu, ia pasti juga bukan pertama-tama pengajar etiket sopan santun meskipun dalam kutipan teks Injil hari ini ia menyodorkan suatu ‘trik’ menghadiri undangan. Trik diajarkannya lantaran ia melihat ada banyak tamu undangan yang berusaha menduduki tempat-tempat terhormat. Kesannya sih malah seperti “merendahkan diri menaikkan mutu”. Akan tetapi, kalau dilihat keseluruhan teks, tampaklah bahwa yang dibidiknya bukan trik etiket sopan santunnya sendiri. Ia menawarkan semangat kerendahan hati yang autentik yang menjadi dasar kerohanian yang kokoh.

Mengenai kerendahan hati, mungkin kerap kita dengar ilmu padi: semakin berisi, semakin merunduk. Tentu saja maksud ungkapan itu jelas: orang yang ‘berisi’ diharapkan supaya tidak semakin tinggi hati. Akan tetapi, ungkapan ilmu padi itu, rasa saya juga agak susah disambungkan dengan hidup manusia justru karena hati manusia lebih dekat dengan ‘balon gas’: semakin berisi semakin ringan, maka semakin tinggilah posisinya jika tak terhalang sesuatu di atasnya. Tapi ya namanya utak atik gathuk, ya begitulah. Pokoknya jelas orang diharapkan untuk tetap merendahkan diri meskipun semakin ‘berisi’.

Konon Santo Augustinus menyinggung soal ini dengan analogi fondasi bangunan fisik. Meskipun ia bicara soal bangunan rohani, ia menawarkan analogi bangunan fisik: semakin tinggi bangunan yang hendak didirikan, semakin dalamlah fondasi yang mesti ditanam. Demikian halnya bangunan rohani: orang yang hendak menggapai kerohanian yang tinggi, ia mesti terlebih dahulu menggali ke dalam kerendahan hati. Semakin dalam kerendahan hatinya, semakin tinggi pula kualitas kerohaniannya.

Kalau begitu, kerendahan hati bukanlah ‘trik’ untuk menaikkan mutu, melainkan fondasi autentik bagi kerohanian seseorang. Fondasi autentik ini tidak akan memberi kesan ‘dibuat buat’. Orang rendah hati yang menguasai matematika atau ilmu apapun mestilah mengakui kepiawaiannya tanpa berupaya merendah-rendah ‘tak bisa apa-apa’. Orang rendah hati mengenal diri sendiri apa adanya (tidak kurang, tidak lebih) dan tiada henti menggali kedalaman dengan ‘modal’ yang dimilikinya, tiada henti mengembangkan hidupnya.

Tuhan, semoga aku semakin mengenal kekuatan dan kelemahanku, serta dengan bimbingan-Mu memperkaya hidupku bagi hidup bersama. Amin.


HARI SABTU BIASA XXX B/1
Pesta St. Alfonsus Rodriguez (SJ)
31 Oktober 2015

Rm 11,1-2a.11-12.25-29
Luk 14,1.7-11

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s