Agama Sesat

Anda pernah mendengar ungkapan seperti “berpakaianlah yang pantas untuk berdoa di rumah Tuhan” atau “kita menyanyikan lagu pujian sebaik mungkin demi Tuhan”. Ungkapan-ungkapan seperti itu memuat keyakinan bahwa untuk Tuhan, semua-muanya mesti diusahakan sebaik-baiknya. Ada yang salah dengan keyakinan itu? Saya kira tidak, cuma aplikasinya bisa saja kemudian bergeser.

Apakah Tuhan butuh pakaian pantas pakai dan lagu-lagu pujian yang memukau telinga-Nya? Mari realistis: siapa yang paling terganggu dengan pakaian tak pantas pakai dalam ibadat dan nyanyian lagu-lagu pujian yang tak karuan? Apakah Tuhan akan sewot dengan umat yang beribadat dengan pakaian compang-camping? Dalam Kitab Suci memang disodorkan kisah mengenai Tuan pesta yang menginginkan semua orang berpakaian pesta (Mat 22,1-14). Akan tetapi, itu adalah metafora. Artinya, teks Injil itu tak bicara soal pakaian pesta dalam perbandingan dengan pakaian tidur, pakaian macul, pakaian renang, dan sebagainya. Pun itu tak bicara soal mantilla misalnya.

Bahkan, kalaupun mesti masuk wacana pakaian liturgi, pertanyaan tadi masih berlaku: memangnya Tuhan butuh mantilla-mu? Emangnya kalau posisi stola terbalik trus Tuhan pencak silat gituh? Ini bukan pertanyaan untuk meremehkan pakaian liturgi, melainkan pertanyaan untuk menempatkan di mana posisi pakaian liturgi dan aneka pernak-pernik ibadat lainnya. Semua itu adalah ulah manusia yang kalau tak disikapi secara hati-hati malah jadi ilah yang mengeliminasi Allah yang sesungguhnya.

Maka, Allah sendiri, dalam logika ilahi, tidak membutuhkan aneka puji-pujian (yang bisa jadi malah muncul dari kemunafikan). Pakaian liturgi, percayalah, tak pernah menjadi keprihatinan Allah sendiri. Itu adalah wilayah horisontal yang mesti dipecahkan dalam level horisontal juga. Kalau keliru posisinya ya dibetulkan, kalau tidak mau dibetulkan ya tak perlu sampai memvonisnya dengan embel-embel suci Allah. Kalau kelompok paduan suaranya ancur, ya tidak perlu dimengerti bahwa Allah ikut ancur. Kor perlu berlatih menyanyi bukan supaya pada saat ibadat bisa tampil sempurna dan dengan demikian menyenangkan Allah. Itu omong kosong!

Tuhan dipuji dalam proses manusia menampilkan yang baik, dan tak perlu diukur dari hasilnya yang mungkin tak sempurna dalam kriteria manusiawi.  Maka, adalah lebih jujur mengatakan bahwa paduan suara berlatih keras supaya pada saat ibadat bisa tampil baik dan membantu umat lain untuk berdoa dengan baik. Kriteria baik buruk tetaplah ada pada level horisontal, tak perlu diberi embel-embel bahwa Allah mengutuk petugas liturgi yang membaca pating plethot atau menyanyi tak karuan atau mengenakan pakaian yang tak pantas. Sederhana saja: umat lain terganggu.

Ada seorang artis yang merumuskan tradisi secara menarik: tradisi (baca: agama) berfungsi untuk menjaga api, bukan menyembah abu (yang diakibatkan oleh api itu).
Wacana Yesus dan orang Farisi hari ini jadi contohnya. Yesus mempertahankan api yang dulu memunculkan Hukum Taurat, sementara orang Farisi cenderung ‘menyembah abu’ dengan sikap kaku terhadap detil Hukum Taurat. Tidak lucu dong berbuat baik saja mesti menunggu usai hari Sabat!
Tapi memang agama (baca: penganutnya) sesat memang akan melakukan hal yang tidak lucu itu: menyembah abu; tidak melihat api yang menjiwai hidup agama. Ini sama saja dengan yang antiagama: mereka melihat abunya dan mengolok-olok agama, tetapi tak melihat apinya.

Tuhan, semoga aku dapat mempertahankan api yang Kausulut dalam hidupku. Amin.


HARI JUMAT BIASA XXX B/1
30 Oktober 2015

Rm 9,1-5
Luk 14,1-6

Posting Tahun Lalu: Ganti Fokusnya, Bray!

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s