Hati-hati dengan Pusat Agama

Orang yang mempertuhankan Yesus mungkin akan kerap terkejut jika sungguh-sungguh hidup pada zaman Yesus itu di tempat Herodes Antipas berkuasa. Kenapa? Karena kata dan tindakannya bisa jadi benar-benar di luar bayangan mereka mengenai orang suci, mengenai Tuhan. Yesus ini diwanti-wanti oleh orang Farisi supaya mengurungkan niatnya untuk pergi ke Yerusalem karena Herodes hendak membunuhya.

Apa jawaban Yesus? Dia katakan: bilang ke serigala itu ya, I do what I do, hari ini dan seterusnya!
Yang mencengangkan adalah atribut serigala bagi Herodes. Memang tidak sekasar makian dalam bahasa Indonesia atau Jawa, tetapi memang Yesus tak bermaksud memaki. Atribut serigala lebih tepat dimengerti sebagai gambaran sikap Yesus terhadap kekuasaan Herodes: kagak signifikan alias tak penting-penting amat. Serigala saat itu tidak merujuk pada kecerdikan, tetapi pada sifat destruktif, merusak, dan malah menunjukkan bahwa ia tak punya kekuatan nyata dan martabat sejati karena pencapaian tujuannya ditempuh dengan tipu penuh kelicikan.

Yesus pun menyimpan keyakinan bahwa nabi memang tidak dibunuh di luar Yerusalem. Menarik bahwa Yesus menempatkan peran dirinya sebagai nabi. Keyakinannya bahwa nabi tak mungkin dibunuh di luar Yerusalem itu memuat ironi. Yang menakutkan dia bukan kuasa Herodes. Yang mengancam hidup Yesus terutama ialah justru orang-orang Yahudi sendiri yang hidup di jantung keagamaan dan ibadat kepada Allah. Yerusalem, meskipun merupakan pusat peribadatan kepada Allah, seringkali membunuh nabi-nabi utusan Allah. Herodes, dengan demikian, cuma jadi secuil ancaman saja dibandingkan dengan Yerusalem.

Orang-orang seperti Herodes punya cara yang mirip dalam menyelesaikan persoalan: dengan kuasa, dengan kekerasan. Wujudnya mungkin bisa berbeda, tapi arogansi kekuasaannya sama. Yesus meyakini logika ilahi: mereka yang merasa diri begitu punya kuasa dan mengira punya kendali atas segala situasi pada kenyataannya hanyalah orang-orang kerdil yang tak signifikan. Pendekatan kekuasaan melanggengkan kultur kekerasan, siapapun pelakunya, entah orang miskin atau kaya, entah orang muda atau tua, entah orang bodoh atau pandai, entah orang punya jabatan tinggi atau rendah: semua orang bisa berpikir dan bertindak dengan paradigma kekuasaan seperti Herodes.

Paradigma kekuasaan tak bisa memutuskan ikatan cinta yang tulus antara Kristus dan umat-Nya. Kalau ikatan cinta itu putus oleh paradigma kekuasaan, berarti cintanya gak tulus: yang satu memperalat yang lain. Itu mengapa Yerusalem jauh lebih membahayakan daripada Herodes: kekuasaannya tak semata atas hal yang fisik, tetapi juga korupsi terhadap hidup batiniah orang dengan jargon pusat agama, pusat ibadat, pusat spiritualitas, dan sebagainya…

Tuhan, mohon bantuan supaya aku mampu menerapkan hukum cinta lebih daripada hukum kekuasaan. Amin.


HARI KAMIS BIASA XXX B/1
29 Oktober 2015

Rm 8,31b-39
Luk 13,31-35

Posting Tahun Lalu: Apa Sih Yang Ditakutkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s