Happiness: Inventing The Meaning

Ada banyak cara ditempuh orang untuk membahagiakan dirinya. Kebanyakan menempuhnya dengan cara konyol: bikin syarat sendiri dan mencoba memenuhi syarat itu. Orang bikin suatu shopping list dan membeli atau mengusahakan apa saja yang masuk dalam daftar itu. Kalau semua atau sebagian besar terpenuhi, barulah orang merasa happy. Bacaan Injil hari ini menyodorkan suatu kebahagiaan tanpa syarat, yang jarang dimasukkan dalam daftar belanja tadi. Apakah itu? Makna Kitab Suci! Dua murid Emaus yang gak ngeh bahwa Kristus, Sang Raja Blusukan, berjalan bersama mereka, sebenarnya sudah mulai merasakan kebahagiaan itu: hati mereka berkobar-kobar ketika ‘orang asing’ itu menjelaskan makna Kitab Suci.

Entah ada berapa ton Kitab Suci dicetak bagi sekian milyar orang beragama, tetapi rupanya dari sekian ton itu hanya sebagian kecil saja yang memenuhi tujuannya dicetak. Jauh lebih banyak Kitab Suci, saking sucinya barangkali, malah disimpan di lemari dan tak terbaca. Bayangkan, dengan membacanya saja belum tentu orang bisa menemukan makna bacaan, apalagi kalau orang tidak membacanya! Kedegilan dua murid Emaus itu sebetulnya juga ada kedegilan orang zaman sekarang yang meskipun mendengar atau membaca tetapi belum juga menangkap maksud apa yang didengar atau dibacanya. Orang sibuk dengan pikirannya sendiri dan kurang mau membuka diri pada perspektif lain.

Barangkali kebanyakan umat datang ke gereja untuk mendengarkan kotbah imamnya. Ini tentu sudah motivasi meleset dari maksud perayaan Ekaristi. Celakanya, bisa jadi imamnya sendiri tidak siap dengan kotbahnya sehingga umat menilai kotbahnya membosankan, gak inspiratif, gak mencerahkan, dan sejenisnya. Padahal, inspirasi gak bergantung pada kotbah semata, melainkan juga pada relasi pendengar dengan sumber pewartaan kotbah sendiri. Ketika dua murid Emaus itu mendengar penjelasan Yesus, mereka sendiri sudah akrab dengan pokok yang dijelaskan oleh Yesus itu: mereka sudah mendengarnya, bahkan tidak hanya sekali. Hanya saja, karena tidak memahami makna Kitab Suci yang mereka dengar, mereka tidak mengalami kobaran hati. Baru setelah mulai memahami maknanya, mereka mengalami kegembiraan batin itu.

Loh, berarti kebahagiaan ini juga kebahagiaan bersyarat dong?! Lha iya betul, tetapi syarat yang disodorkan tidak mengarah pada pemenuhan kebutuhan narcisistik belaka: memahami Kitab Suci supaya orang lain tahu bahwa aku pandai, membaca Kitab Suci supaya aku dapat hadiah dari lomba cerdas cermat, dan sebagainya. Ini soal memahami Kitab Suci demi pemahaman itu sendiri yang pada gilirannya membantu orang untuk secara kreatif menerapkannya pada hidup sehari-hari. Bukankah seorang pelajar akan gembira ketika ia berhasil memecahkan soal rumit yang disodorkan kepadanya? Ia tak perlu hadiah untuk menjadi bahagia: memecahkan persoalan itu sendiri sudah merupakan suatu kebahagiaan…. mungkin, bagi banyak orang, membaca Kitab Suci itu sendiri sudah suatu kebahagiaan…

HARI MINGGU PASKA III A/2
4 Mei 2014

Kis 2,14.22-33
1Ptr 1,17-21
Luk 24,13-35

4 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s