Kenalan dong….

Dalam Kitab Suci dimandatkan supaya kabar gembira dari Yesus Kristus itu diwartakan: pasti bukan dengan media sosial tertulis dan tergambar, melainkan dengan pewartaan lisan. Pada masa itu pewartaan lisan tentu lebih cepat daripada pewartaan tertulis. Akan tetapi, ini bukan soal kecepatan pewartaan lisan semata, ini adalah soal pengetahuan akan Yesus Kristus yang pada saat itu jelas hanya bisa disandarkan pada pengenalan orang-orang terdekat-Nya yang punya pengalaman perjumpaan langsung dengan-Nya.

Tradisi lisan jelas mendahului tradisi tertulis. Baik pewartaan Injil maupun surat-surat para rasul dibuat jauh lebih kemudian daripada tradisi lisan yang rupanya bertumpu pada pewartaan Petrus dan Yohanes. Setelah Pentakosta pewartaan ini tersebarkan secara lebih luas lagi karena seluruh rasul Kristus bergerak keluar dari Yerusalem, dan Paulus yang punya pengalaman istimewa dengan Yesus Kristus menjadi pewarta ulung bagi orang-orang non-Yahudi. Syukur ada warisan tulisan sehingga bisa didokumentasikan apa yang diwartakan oleh para rasul itu, dan dokumentasi itulah yang kelak dipertimbangkan sebagai bagian dari Kitab Suci yang sudah mereka miliki.

Dengan demikian, di samping tradisi Kitab Suci, umat beriman tak bisa mengesampingkan tradisi lisan yang lahir jauh hari sebelum Kitab Suci ditetapkan. Pewartaan lisan dari saksi langsung kebangkitan Kristus menjadi jaminan autentisitas pewartaan tertulis. Itu mengapa Gereja Katolik memberi tempat pada tradisi Para Rasul, selain Kitab Suci. Para Rasul menyebar keluar dari Yerusalem, bahkan keluar dari tanah bangsa Yahudi untuk mewartakan peristiwa Yesus kepada siapapun yang mereka jumpai.

Tradisi lisan ini mengingatkan umat beriman bahwa lebih penting suatu pengenalan akan Kristus daripada sekadar pengetahuan mengenai Kristus. Tanggapan Yesus terhadap permohonan Filipus sejalan dengan kebutuhan umat beriman untuk mengenal Yesus Kristus. Sebagaimana pengenalan Bapa bisa dilakukan para rasul dengan pengenalan Kristus, demikian juga pengenalan kita akan Yesus Kristus bisa dilakukan dengan pengenalan para rasul-Nya, yang pada masanya bisa dibuat secara langsung.

Pada masa sekarang ini, pengenalan akan Yesus Kristus masih dimungkinkan dengan bantuan Kitab Suci, sebagai warisan para rasul juga selain tradisi lisan yang mereka sampaikan kepada jemaat perdana. Maka, dari pihak manusia tak ada jalan lain untuk kenalan dengan Kristus: ia mesti membaca Kitab Suci dan melakukan cross-check dengan mereka yang punya pengalaman akan tradisi, yaitu mereka yang sudah membatinkan pesan Injil dalam hidup mereka. Paus dan para pendahulunya adalah salah satu dari sekian orang yang membatinkan Kitab Suci itu…terlepas dari fakta bahwa dalam sejarah toh beberapa Paus itu hidupnya mengerikan! Itu pertanda bahwa mengikuti Kristus tidak berarti otomatis begitu saja terjadi karena posisi atau status hidup seseorang.

Entah Paus, Uskup atau pembantu-pembantunya tetaplah mesti membaca Kitab Suci, menafsirkannya dengan bantuan Tradisi, dan menghayatinya dalam hidup sehari-hari. Hanya ini satu-satunya cara, dari pihak manusia, untuk berkenalan dengan Kristus… Aneka pengetahuan mengenai Kristus tentu sangat penting, tetapi kepentingannya sirna jika pengetahuan itu tidak membawa orang pada pengenalan pribadi terhadap sosok Yesus Kristus. Ini seperti orang tahu informasi sedemikian banyak mengenai orang yang ditaksirnya, tetapi ia sendiri tak pernah menjumpainya dan mengungkapkan,”Kenalan dong…”

Dear cewek

(Hari Sabtu Paska II)
SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS
3 Mei 2014

1Kor 15,1-8
Yoh 14,6-14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s