Islamisasi? Wajib! Arabisasi? Hmmm…

A faith that does not find cultural expression will remain immature. When the problem is cultural, the response has to be communal, not just personal.
Santo Yohanes Paulus II.

Seorang penjual swikee ngakunya gak pernah mau makan swikee (apalagi yang gak dibuatnya sendiri) karena tidak semua pemasak daging katak piawai membuat seluruh bagiannya matang. Biasanya di dekat tulang tidak matang. Betul tidaknya, silakan diperiksa sendiri.
Lha, iman yang gak matang itu mungkin bisa digambarkan seperti swikee yang matang bagian luarannya doang: kelihatannya mantap, jebulnya perangkap. Iman boleh saja awalnya dari luar (karena orang tua, teman, tetangga, dan lain-lainnya; bdk. Rm 10:17), tetapi iman yang matang pada suatu tahap mestilah bergerak dari dalam ke luar. Gampangnya, kalo orang sungguh beriman, ia pastinya mau mewujudkan imannya dong, bukan cuma NATO atau omdo. Lha wujudnya kan perbuatan yang mestilah berurusan dengan budaya pada saat dan tempat ia hidup.

Misalnya, umat Muslim punya rukun Islam berpuasa pada bulan Ramadhan. Umat Muslim yang baik tentulah ingin menjalankan ibadah puasa, tetapi jika berada di tempat yang durasi siang harinya lebih dari 18 jam, tentu ia tidak perlu memakai patokan fajar-senja! Apalagi kalau di tempat yang fajar-senjanya gak jelas (ini habis siang atau habis malam, sama aja). Mestinya ada patokan lain karena poin pentingnya bukan fajar-senjanya. Poinnya adalah berpuasa, menata diri (bukan ditata orang lain!) dari aneka nafsu yang mengganggu fokus orang beriman kepada Allah sendiri. Ini adalah roh yang membawa perhatian orang kepada Allah Penciptanya.

Ibadah puasa seperti ini bisa mencerahkan juga kepada orang lain yang tidak memeluk agama Islam. Mereka diingatkan bahwa makhluk ciptaan Allah perlu melakukan penataan diri supaya hidupnya tak dikuasai aneka nafsu yang menjauhkan hidupnya dari Tuhan.

Memang bisa terjadi konflik budaya. Taruhlah 99,99% penduduk Uni Emirat Arab memeluk agama Islam dan 0,01% bukan Islam. Karena yang 99,99% itu semua menjalankan ibadah puasa dengan tekun, kultur yang mereka hasilkan ialah absennya aktivitas kuliner di siang hari. Aneh dong kalau orang tetap buka warung makan siang hari, siapa mau beli? Ini konsekuensi iman yang dijalankan secara kolektif di tempat yang kurang lebih 99,99% berpenduduk Muslim. Bisa jadi lalu dibuat undang-undang, misalnya, bahwa warung-warung tidak diizinkan buka pada jam 10 pagi sampai jam 5 sore. Hukum itu tentu bisa diterima sebagai kultur yang dihidupi penduduk Uni Emirat Arab itu.

Akan tetapi, gak tepatlah jika kultur itu diadopsi oleh, misalnya, Jerman. Kenapa gak tepat?  Ya jelas karena di negara itu ada beberapa juta lainnya yang beragama Yahudi dan Buddha, dan selebihnya Kristen (Protestan dan Katolik). Tetapi apakah umat Muslim di Jerman yang tak punya kultur kuliner tutup siang hari pada bulan Ramadhan itu lantas gak puasa? Ya tetap puasalah! Poin Ramadhan adalah orang berpuasa, entah warung kuliner buka atau tidak! Rasa saya, inilah penghayatan iman yang matang, dari dalam keluar.

Islam indonesia

Iman yang matang seperti itu, yang terwujud dalam tindakan orang, jauh lebih berbicara, bergema bahkan juga kepada orang yang berbeda agama daripada aneka kotbah mengenai agama.

Dari makna Islam yang saya tangkap, saya terbantu untuk menghayati kaul (nazar?) kemiskinan saya karena kata Islam selalu mengingatkan saya untuk berserah total kepada Allah. Itulah inti kemiskinan: bukan pertama-tama soal gak punya atau gak boleh punya harta, melainkan soal menggantungkan hidup kepada Tuhan sendiri. Maka, sesuai azas dan dasar, orang gak perlu maksa mengejar harta, apalagi yang tidak membantu dia untuk mengabdi Allah, malah bisa mengkhianati kerahiman Allah: eksploitasi alam yang merugikan ekosistem dan kemanusiaan, penumpukan harta yang diperoleh dari hasil pelayanan (atau penipuan berkedok) rohani, dll.

Dengan begitu, roh Islam adalah roh universal yang berlaku bagi semua umat beriman, apapun agama dan kulturnya, sehingga justru mesti diwartakan. Dalam arti itulah Islamisasi kiranya perlu dipahami. Sayang bahwa kemudian praktiknya bisa meleset jadi pewartaan kultur (seperti swikee yang matang di kulit dan mentah di dekat tulang).

Setiap orang yang berdakwah, melakukan misi atau zending, perlu bertanya secara serius apakah ia sedang mempropagandakan kultur atau mewartakan roh di balik kultur itu. Yang menimbulkan konflik adalah propaganda kultur yang dilandasi roh chauvinistik, arogansi superioritas ras atau kultur tertentu. Orang tentu mesti mengupayakan supaya semakin banyak orang berpasrah kepada Tuhan, tetapi ia juga perlu sungguh memahami bahwa kepasrahan kepada Tuhan itu memiliki aneka wujud sebagaimana Tuhan mewahyukan diri-Nya melalui aneka cara.

Adalah berbahaya jika orang memutlakkan suatu cara yang justru akan menjungkirbalikkan azas dan dasar. Orang Katolik boleh saja mengajak semua orang berdoa, tetapi tak perlu ia memahami bahwa doa itu baru sah jika dilakukan dengan tanda salib, bukan? Kalau ia memaksakan tanda salib, ia memaksakan kultur, dan dijamin itu akan menimbulkan konflik yang naif.

Maka dari itu, pantas dipertanyakan imajinasi yang melatarbelakangi gerakan entah Islamisasi atau Kristenisasi misalnya: satu kultur untuk seluruh dunia atau satu iman untuk dunia multikultur? Menurut saya, satu iman untuk seluruh dunia itu lebih feasible, sedangkan satu kultur untuk seluruh dunia itu…nanti aja deh setelah kiamat.

Kalau di sana sini terjadi penolakan, entah Islamisasi atau Kristenisasi, hampir bisa dipastikan bahwa yang diprotes adalah upaya perwujudan satu kultur itu!

2 replies

  1. Menggagas Gerakan Pencerahan & Pembebasan Nasional Indonesia

    Mengenang 70 tahun (1945-2015) Proklamasi 1945 yang merupakan pernyataan kehendak bangsa Indonesia menentukan nasib sendiri, antara lain membentuk negara untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan: berdaulat dibidang politik, berdikari dibidang ekonomi dan berkepribadian dibidang budaya.
    Tulisan ini saya persembahkan sebagai bakti saya pada para pahlawan – KHUSUSNYA DARI ANGGOTA KELUARGA SAYA.

    Sebagaimana yang pernah penulis sampaikan pada sejumlah kesempatan bahwa, sejak sekitar awal tarikh Masehi, wilayah yang kini disebut “Negara Kesatuan Republik Indonesia” telah terdapat sejumlah bangsa asing. Wilayah luas, alam kaya, letak strategis dan pribumi yang masih bersahaja telah mengundang sejumlah bangsa asing untuk singgah – bahkan menetap – di wilayah tersebut, semisal Tionghoa, India, Arabia, Persia dan Eropa.

    Diawali dengan kehadiran bangsa leluhur penulis yaitu India / Hindustan, bangsa pribumi Nusantara berangsur-angsur mengenal peradaban – yang biasanya diawali dengan pembentukan negara / pemerintah / kerajaan. Dengan tata tertib yang diberlakukan oleh kerajaan, berangsur-angsur berbagai macam peradaban tersebar ke seantero negeri. Maka hubungan antara India dengan Indonesia boleh dibilang hubungan antara guru (India) dengan murid (Indonesia). leluhur bangsa pribumi relatif menerima pengaruh India dengan senang hati. kelak hubungan yang punya rentang waktu lama mewariskan pengaruh, antara lain penamaan bangsa (Sumpah Pemuda 1928) dan negara (Proklamasi 1945) dengan istilah “Indonesia”. istilah ini berasal dari kata “Indus” (India) dan “Nesos” (Kepulauan). Istilah ini dapat bermakna bahwa Indonesia pernah menjadi bagian dari India.

    Hubungan yang lama dan relatif nyaman ini terusik oleh kehadiran sejumlah bangsa lain dengan motif bukan sekadar berdagang, namun ujung-ujungnya ingin berkuasa. Perioda ini umumnya dianggap berawal dari abad-16, yaitu dengan kehadiran bangsa Portugis dari Eropa. Umumnya perioda ini dianggap sebagai awal penjajahan, imperialisme, kolonialisme – atau hal semacam itu di negeri ini, yang kelak berakhir secara fisik pada tahun 1962 / 3, ketika bangsa Eropa lain yaitu Belanda harus melepas Pulau Papua untuk diserahkan kepada Republik Indonesia, yaitu negara bentukan pribumi negeri ini dengan pernyataan yang disebut dengan “Proklamasi 1945”.

    Namun beberapa waktu terakhir ini, penetapan perioda awal penjajahan tersebut di atas pelan-pelan dipertanyakan oleh sejumlah anak bangsa. Mereka menganggap bahwa perioda awal penjajahan di negeri ini bukanlah abad-16 oleh bangsa Eropa, namun berawal dari abad-7 oleh imperialisme / kolonialisme Arab.
    Pada abad-7 imperialisme Arab bergerak ke berbagai penjuru dengan pesat. Dalam waktu sekitar 100 tahun terwujudlah imperium Arab yang luas dan tahan lama – dengan relatif sedikit perubahan. Imperium tersebut pada abad-8 membentang dari Iberia di sisi barat hingga Turkistan / perbatasan Tiongkok di sisi timur. Dari Pegunungan Kaukasus di sisi utara hingga pesisir Afrika Timur jauh di selatan. Di luar wilayah itu, mereka menguasai perairan Laut Tengah, Laut Merah, teluk Persia, Samudera Hindia, Selat Malaka hingga Laut Cina Selatan. Mereka membentuk sejumlah koloni di sepanjang jalur tersebut.

    Seiring berjalan waktu, imperium tersebut sempat mengalami masa surut, antara lain dengan kehadiran sejumlah bangsa Eropa. Namun perngaruh mereka tidak pernah sungguh hilang – termasuk di negeri ini.
    Kelak imperialisme Arab berangsur-angsur bangkit – sebagaimana pada masa lalu – menggunakan kedok agama. Walaupun kini dunia Arab terbagi-bagi menjadi sejumlah negara – bahkan ada yang saling bermusuhan, mimpi mereka relatif sama: membangkitkan kembali imperialisme Arab dengan (masih) menggunakan jargon agama “Kebangkitan Islam Abad-15 Hijriyyah” sejak awal 1980-an. Masuk abad-21, pengaruh mereka makin terasa -secara langsung / terang-terangan maupun secara tidak langsung / dibalik panggung. Cara demikian pernah dilaksanakan pada kebangkitan pertama imperialisme Arab. Pada awalnya Arab berkuasa langsung sekian lama di suatu negeri, kemudian berangsur-angsur tanpa terasa ditampilkan bangsa lain semisal Turki, Mongol – serta Melayu di Asia Tenggara.

    Pada abad ini, oleh sejumlah anak bangsa makin terasa bahwa Indonesia kembali atau masih menjadi lahan pertarungan berbagai pengaruh asing – dalam berbagai bidang. Dan umumnya masih dilakukan oleh pemain lama : Barat dan Arab. Oh ya, perlu disebut juga imperilaisme Jepang yang mulai muncul pada abad-19. Walaupun kebangkitan dan perluasan imperialisme Jepang sempat terhenti oleh kekalahannya pada Perang Dunia-2 (1939-45), secara berangsur Jepang bangkit kembali – berawal dari bidang ekonomi – yang kemudian dibidang militer, yang justru mendapat restu diam-diam dari Amerika Serikat – mantan musuhnya pada Perang Dunia-2.

    Terkait dengan Indonesia, Jepang sekian lama menjadi negara donor dan investor terbesar. Jepang butuh rekan / kawan sebanyak mungkin karena terlibat sengketa perbatasan dengan RRT, Uni Soviet (kini Rusia) sekaligus tegang dengan Korea Utara. Strategi Jepang yang sedapat mungkin bermurah hati dengan sejumlah negara Asia-Pasifik – termasuk Indonesia – sekaligus ingin menebus kesalahan masa lalunya pada Perang Dunia-2. Sejumlah negara Asia-Pasifik pernah mengalami derita luar biasa pada perioda penjajahan Jepang.

    Masuk abad-21, RRT tampil menjadi raksasa ekonomi yang menggeser Jepang. Pertumbuhan ekonomi ujung-ujungnya mengarah pada pertumbuhan militer. Anggaran militer RRT menunjukkan peningkatan. hal tersebut membuat cemas AS, Jepang, Taiwan dan sejumlah negara ASEAN. Terlebih lagi sejumlah negara ASEAN terlibat sengketa wilayah dengan RRT di Laut Cina Selatan. Di perairan tersebut terdapat gugusan kepulauan yang (konon) kaya migas, yaitu Kepulauan Spratley. Dan diam-diam RRT menganggap Kepulauan Natuna – juga kaya denga migas – yang nota bene wilayah NKRI, sebagai wilayahnya.

    Dari uraian singkat di atas, dapatlah difahami bahwa wilayah Asia Tenggara – khususnya Indonesia – tetap atau masih dianggap strategis bagi fihak luar kawasan. Maka mungkin muncul pertanyaan: apakah bangsa Indonesia – tanpa kecuali – menyadari bahwa negaranya bernilai strategis & menjadi lahan perebutan pengaruh asing?

    Setelah sekian lama mencermati bangsa ini, penulis menilai bahwa hampir semua anak bangsa tidak menyadari. Mereka menjalani hidupnya sehari-hari sebagaimana biasanya: bersekolah, bekerja, belanja, bercinta, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Tanpa disadari bangsa ini kembali terperangkap oleh “penjajahan gaya baru” (neo imperialism / colonialism), padahal Pahlawan Proklamator Bung Karno telah mengingatkan hal tersebut pada tahun 1960-an.

    Masuk abad-21, Indonesia beberapa kali dikejutkan oleh sejumlah peristiwa teror yang dilakukan oleh sejumlah anak bangsa. Motif mereka relatif sama: melawan hegemoni Barat, perlawanan yang mereka anggap “perang suci”, perang sabil” atau “perang jihad”. Artinya, mereka menganut faham atau ideologi dari luar – tepatnya dunia Arab. Bahkan disinyalir mereka dapat dana dari sana. penulis melihat, inilah bagian dari kebangkitan imperialisme Arab jilid-2.

    Tanpa terasa oleh hampir semua anak bangsa, imperialisme Arab – dengan frontal maupun gerilya – berusaha memasukkan pengaruh ke Indonesia semisal ekstrimisme, fanatisme, radikalisme, anarkisme, vandalisme dan terorisme. Hingga kini ormas berfaham demikian semisal “Front Pembela Islam” tidak kunjung dapat dibekukan – apalagi dibubarkan. Kenapa pemerintah seakan tak kuasa bertindak tegas terhadap ormas yang meresahkan tersebut? Siapa penyandang dananya? Siapa sosok kuatnya?

    Menghadapi berbagai fihak asing yang menjadikan Indonesia sebagai lahan pengaruhnya – jika perlu bertarung dengan fihak asing lainnya maupun lokal, tak ada pilihan selain melaksanakan apa yang disebut “Gerakan Pencerahan & Pembebasan Nasional Indonesia”. Gerakan tersebut berangkat dari pencerahan yang mengarah pada penyadaran bahwa Indonesia terlalu berharga untuk dipengaruhi -apalagi dikuasai – dalam bentuk apapun oleh fihak asing. Indonesia adalah untuk orang Indonesia! Jika seluruh anak bangsa mendapat pencerahan, maka langkah berikutnya adlah pembebasan. Pembebasan apa? Pembebasan dari segala usaha fihak asing mencengkeramkan atau menancapkan pengaruhnya di Indonesia!

    Langkah-langkah pencerahan tersebut antara lain:

    1. Penyadaran bahwa apa yang disebut dengan “Indonesia” adalah hasil usaha / perjuangan / pengorbanan / penderitaan bersama, tanpa memandang latar belakang suku, ras, agama dan golongan.
    2. Penyadaran bahwa apa yang disebut dengan “Indonesia” bukan ada dari hasil sulap atau sekejap, tetapi merupakan hasil dari proses yang panjang dan kejam. Indonesia berawal dari mimpi besar sekaligus kerja besar: mempersatukan dari perpecahan sekaligus membebaskan dari penjajahan. Inilah yang mungkin pantas disebut “mission impossible”.
    3. Menyepakati bahwa syarat menjadi orang Indonesia adalah bermental Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Nilai-nilai tersebut telah ada sebelum hadir pengaruh asing, kemudian dirumuskan untuk menjadi filsafat bangsa oleh para aktivis kemerdekaan dengan susah payah, ditengah-tengah kesibukan mewujudkan apa yang disebut dengan “Indonesia”.
    4. Hidupkan kembali pelajaran Pancasila dan sejarah – terutama sejarah nasional – dengan format atau metoda pembelajaran yang dapat menjawab zaman, memperkuat rasa identitas bangsa. Dimulai dari SD hingga SMA.
    5. Penyadaran bahwa keragaman dapat menjadi kekayaan bangsa sekaligus bukan kerawanan bangsa. Berbeda bukan alasan saling membenci, memusuhi, meniadakan satu sama lain.
    6. Segala dinamika atau gejolak dalam masyarakat harus segera dicari solusinya. Buktikan bahwa bangsa ini sanggup menyelesaikan masalahnya sendirian, tanpa perlu bantuan asing.
    7. Perlu penyadaran bahwa bantuan asing adalah pilihan terakhir, untuk mencegah peluang masuk pengaruh asing, yang belum tentu bermanfaat bagi Indonesia. Jelas, perlu hindari saling tuduh, tuding antar anak bangsa, yang rawan intervensi fihak asing.
    8. Berikan dukungan – terutama oleh para elit politik dan ekonomi – berbagai usaha menciptakan / menghasilkan sendiri barang kebutuhan. jadikanlah impor sebagai pilihan terakhir.

    Adapun sejumlah langkah pembebasan dapat dilakukan antara lain:

    1. Untuk barang yang tidak / belum dihasilkan sendiri, ajak fihak asing membangun pabrik di negeri ini. Buat perjanjian alih teknologi.
    2. Runding ulang berbagai perjanjian / kontrak terkait penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam di negeri ini. Dasarnya adalah kepentingan nasional harus diutamakan terlebih dahulu.
    3. Dukung setiap anak bangsa yang punya skill untuk berkarya di negeri ini. Jangan sampai mereka bekerja di luar negeri karena merasa lebih dihargai bangsa asing dibanding bangsa sendiri.
    4. Mengirim sebanyak-banyak mungkin anak bangsa belajar di luar negeri untuk kelak berguna di dalam negeri.
    5. Utamakan tenaga pengajar lokal, kurangi tenaga pengajar asing di berbagai lembaga pendidikan di negeri ini.
    6. Anggaran militer perlu ditambah sesuai kebutuhan karakteristik wilayah Indonesia, antara lain mencakup penambahan gaji, personil dan alutsista. Juga perlu warga negara dilatih kemiliteran dasar untuk bela negara.

    Point-point tersebut di atas bukanlah kebenaran mutlak, masih terbuka untuk perbaikan menuju penyempurnaan.

    Salam “MERDEKA” dari anggota keluarga Pejuang 1945!

    Like

    • Bapak Indra Ganie yang baik, delapan enam, terima kasih sudi mampir; juga atas perjuangan dan keprihatinan yang Bapak sampaikan (jadi ‘artikel’ sendiri ya? hehe). Memang dibutuhkan pencerahan dan pembebasan jika orang bicara mengenai agama dan sayangnya sampai sekarang ini kiranya baru sebagian kecil saja penduduk yang mengalami cerah budi itu). Semoga para pemimpin bangsa ini punya keprihatinan yang senada. Salam kemerdekaan!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s