Produsen Kebahagiaan

Blog ini tak memberi tempat pada konsep kebahagiaan sebagai perasaan sentimental. Maklum, penulisnya juga gak percaya bahwa orang yang hidupnya begitu mudah, menyenangkan dan banyak tawa itu sungguh-sungguh bahagia (meskipun percaya bahwa kebahagiaan sejati memantik kegembiraan yang bisa terwujud dalam senyum dan tawa). Sudah ada posting mengenai kebahagiaan yang lebih dari sekadar sentimental-sentimentil itu. Kebahagiaan senantiasa dipahami dalam ruang lingkup iman, apa pun rumusan bahasa atau agamanya.

Bagaimana toh menjelaskan sukacita yang datang dari iman itu? Ini adalah persahabatan dengan Tuhan yang dianalogikan Yesus dengan proses kelahiran, yang kiranya menimbulkan bukan hanya sensasi kesenangan, melainkan juga ketakutan, kekhawatiran, kesakitan, dan sebagainya. Seorang perempuan takkan melahirkan makhluk fisik baru jika tak tunduk pada ketidaknyamanan kehamilan dan persalinan. Dalam beberapa kasus, ketidaknyamanan itu bahkan sudah dimulai sebelum kehamilan: dengan diet, misalnya. Kebahagiaan bukan soal sensasi, melainkan soal kesadaran akan panggilan hidup seseorang. Terang Kristus yang bangkit mengubah perspektif hidup kita sehingga lahir sebuah dimensi baru yang bahkan tak terduga.

Hidup kita ini adalah hidup sejati dalam Kristus, sebagaimana hidup janin ada dalam konteks hidup manusia yang lahir dan bertumbuh. Janin dan manusia (dari janin itu) adalah sosok yang sama tetapi beda ruang lingkup: janin dalam lingkup rahim, dan manusia di luar lingkup rahim itu. Dengan kata lain, rahim kehidupan manusia jauh lebih luas dari ruang lingkup janin. Janin menjadi pusat hidup dalam rahim: seluruh kinerja dalam rahim (bahkan di luar rahim, dalam tubuh perempuan yang mengandungnya) terorientasi untuk menyokong kehidupan janin. Begitu janin keluar dari rahim, kinerja semesta tidak begitu saja berpusat pada manusia baru itu. Ia masuk dalam semesta dan bertumbuh untuk memberi kontribusi pada semesta yang lebih luas daripada rahim ibunya.

Kebahagiaan sejati terletak pada gerak kontributif manusia terhadap semesta hidupnya, bukan pada gerak konsumtif. Orang beriman dewasa pun adalah produsen kebahagiaan, bukan melulu konsumen.


JUMAT PASKA VI
15 Mei 2015

Kis 18,9-18
Yoh 16,20-23a

Posting Tahun Lalu: Demi Kebaikan, Jangan Takut!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s