Isra’ Mi’raj nan Meneguhkan

Hari ini menjepit hari Jumat kemarin dengan Hari Raya Kenaikan Tuhan dan ndelalahnya kok hari ini juga hari yang oleh saudara-saudari Muslim dimaknai sebagai peringatan Isra’ Mi’raj. Itu adalah peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem bersamaan dengan perjalanannya dari bumi naik ke langit ketujuh dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha (akhir penggapaian) untuk menerima perintah Allah. Jadi, hari Jumat kemarin itu dijepit oleh dua hari kenaikan ke Surga.

Apa bedanya kenaikan Yesus Kristus dan Nabi Muhammad? Jika sumber yang saya baca benar dan saya membandingkannya dengan tradisi Injil Yohanes, perbedaannya terletak pada arah gerak kenaikannya. Loh, piye to iki, yang namanya naik ya ke atas! Turun ke bawah! Begini, Brow. Dalam teks Injil hari ini dituliskan: Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa (Yoh 16,28). Ini adalah rangkuman Injil Yohanes, yaitu karir duniawi dari Sabda-yang-menjadi-daging (Yesus dari Nazaret) untuk menyelamatkan dunia, memulainya dengan inkarnasi dan menutupnya dengan kenaikan ke surga, kembali kepada Allah.

Apakah ia kembali lagi ke dunia? Tidak! Ya bisa dibilang kembali sih, tetapi dalam pribadi yang berbeda: Roh Kudus. Akan tetapi, prinsipnya Yesus dari Nazaret itu setelah naik ke surga ya tidak balik lagi ke dunia. Sedangkan Nabi Muhammad dalam kisah Isra’ Mi’raj dikatakan naik ke surga tertinggi, berjumpa dengan Allah dan mendapat mandat dari-Nya. Apakah ia kembali ke dunia lagi? Iya! Kalau tidak, mungkin gak akan muncul agama Islam.

Jadi, arah gerak peristiwa kenaikan itu bisa diletakkan dengan skema berikut (skema yang tentu hanya bisa diterima dengan kepercayaan yang bersangkutan). Yesus: dari atas, turun ke bawah, lalu naik ke atas (kembali ke tempat asalnya). Nabi Muhammad: dari bawah, naik ke atas, lalu turun ke bawah lagi. Apa relevansi pembedaan itu? Silakan dipikir sendiri ya, saya cuma mau berbagi apa yang saya petik dari Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad: peristiwa itu terjadi ketika Nabi Muhammad dalam titik nadir pergumulannya di bumi memperjuangkan hidup yang bersandar pada Allah. Terlalu banyak tentangan yang diperolehnya dari orang-orang kafir saat itu sehingga dalam arti tertentu ia kehilangan raison d’être sebagai nabi. Kenaikannya ke surga memberi Roh yang menguatkannya kembali untuk menegakkan semangat Islam.

Kenaikan Yesus ke surga tidak dimaksudkan untuk memberi motivasi kepada Yesus, tetapi untuk memberi harapan sejati, yaitu Roh Kudus yang akan menguatkan umat beriman. Kinerja Roh Kudus itu juga terlihat dalam kisah bacaan pertama. Apolos, orang yang berpengetahuan luas mengenai Kitab Suci (Yahudi), kiranya bukan murid Yesus, tetapi ia memegang teguh ajaran-ajaran Yesus. Satu hal yang tampaknya tak masuk dalam pemahaman Apolos: ia hanya mengenal baptisan Yohanes Pemandi (yang membaptis Yesus). Priscilla dan Aquila bicara dari hati ke hati dengan Apolos untuk memperkenalkan Roh Kristus yang diutus setelah kenaikan Yesus ke Surga.

Isra’ Mi’raj bisa dimaknai sebagai suatu hidup dalam Roh. Betul bahwa orang senantiasa berjibaku dengan hidup duniawi ini, tetapi kisah Nabi Muhammad menunjukkan bahwa umat beriman bisa mendapat terang Roh Kudus sendiri untuk menghadapi krisis atau kesulitan hidupnya. Memang begitulah: we are spiritual beings with human experiences.


SABTU PASKA VI
16 Mei 2015

Kis 18,23-28
Yoh 16,23b-28

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s