Mengikuti Jejak Susi

Suatu long distance relationship, entah pada pasangan yang sudah menikah atau belum, kiranya menuntut trust yang tinggi demi kelanggengan relasinya. Kondisi ini bahkan juga penting bagi aneka jenis relasi. Paulus memiliki trik yang baik dalam relasi jarak jauhnya dengan jemaat: ia secara berkala mengunjungi umatnya dan karena kunjungan itu tak bisa dibuat cukup sering, ia berkirim surat kepada mereka.

Paulus mengingatkan umatnya bahwa mereka adalah instrumen bagi kehendak dan pekerjaan Allah sendiri. Ini memerlukan sikap dan perilaku yang cocok: ketaatan kepada kehendak Allah sendiri, damai dan kasih terhadap umat lain, percakapan yang santun dengan semua orang. Pada kenyataannya, itu bukanlah hal yang mudah dilakukan karena mengandaikan kualitas ingkar-diri (selfnegation) yang besar.

Taat kepada kehendak Allah sudah dengan sendirinya menuntut orang berfokus pada kepentingan bersama yang mengatasi kepentingan egoistik. Ini bisa bikin orang bermuram durja atau bersungut-sungut dalam melakukannya, apalagi kalau tidak cocok dengan selera, kesenangan, atau hobinya. Tidak hanya itu, orang bisa berhenti di tengah jalan untuk menjadi instrumen Allah.

Belakangan ini diekspos kinerja aparat negara yang mengharukan untuk menjaga kedaulatan wilayah NKRI, juga sepak terjang Ibu Menteri Susi yang menarik perhatian (yang sebenarnya ya begitu sewajarnya). Sudah ada beberapa tokoh yang tidak mengambil gajinya untuk kepentingan sendiri karena mereka tercukupi oleh pendapatan lain. Ini merupakan indikator adanya niat baik bagi pelayanan publik dan beda jauh dari mereka yang bercita-cita menjadi PNS karena menginginkan besaran gaji dan jaminan pensiun.

Tentu saja tidak semua jejak Susi perlu diikuti. Jika gaji PNS memang hanya cukup untuk kehidupan normal, seorang PNS tak perlu menjadi abnormal dengan memberikan gajinya bagi kepentingan publik. Seorang dewasa dalam kondisi darurat di pesawat tetaplah mesti memasang masker bagi dirinya terlebih dahulu, bukan karena egois, melainkan justru dalam rangka supaya bisa membantu anak-anak lebih baik lagi.

Yang pantas diteladani dari Susi bukanlah soal memberikan gaji (yang hanya sepersekian persen dari pendapatan usahanya), melainkan soal fokus pada pelayanan kepentingan bersama. Kalau tidak mau meneladani juga, sekurang-kurangnya doakanlah semoga Susi tetap diberi kekuatan dan tidak jatuh dalam godaan putus asa dalam melawan sistem dan birokrasi yang sudah terlanjur korup atau tak efisien dan efektif. Maklumlah, bisa saja, kan, lama-lama orang seperti Susi ini berpikir “kagak jadi menteri juga gue masih bisa hidup”?

Memang orang mesti lepas bebas juga terhadap jabatan, tetapi jelas dalam azas dan dasar ditegaskan bahwa setiap orang mesti memilih jabatan yang lebih tepat baginya untuk memuliakan Allah (bukan demi jabatannya sendiri).


RABU BIASA XXXI A/2
5 November 2014

Flp 2,12-18
Luk 14,25-33

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s