Untung Rugi, Aku Tahu…

Orang itu, kalau dah cinta mati, banyak melakukan hal ‘gila’ yang sulit ditangkap rasionalitasnya, baik dalam hal yang besar maupun hal yang kecil. Pokoknya tindakan itu konyol dan lucu-lucu kalau dipikir-pikir; saya jarang memikir-mikirkannya; silakan cari sendiri contohnya. Halnya jadi lebih serius kalau yang dicinta-matii itu sesuatu atau seseorang yang identitasnya terkait dengan hajat hidup orang banyak. Kenapa sirius? Karena pola perilakunya memang bisa memengaruhi hajat hidup orang banyak.

Paulus, misalnya, ditengarai sebagai biang pengubah status Yesus, ‘orang gila’ dari Nazaret itu, sebagai Tuhan bagi orang Kristen. Ia yang semula getol mengejar dan menganiaya pengikut “orang gila” itu, malah menjadi tokoh kunci yang mempromosikan ‘orang gila’ itu. Ini tentu tak terpahami oleh kebanyakan orang Yahudi, yang tak memiliki cinta sedikit pun kepada sosok ‘orang gila’ itu. Apa yang dulu dianggap Paulus sebagai keuntungan kemudian dianggapnya sebagai kerugian. Ini adalah roh pertobatan yang membawa Paulus berfokus pada penyelamatan jiwa orang lain. Pertobatan Paulus itu bisa dipahami dengan kerangka teks Injil yang menyodorkan perumpamaan mengenai kegembiraan yang tak terlukiskan atas penemuan jati diri mereka yang hilang atau tersesat.

Ini bukan soal murtad-murtadan pemeluk agama. Saya juga tidak sedang bicara mengenai Paulus yang murtad dari agama Yahudi ke agama Kristen. Ini soal kecintaannya pada sosok Yesus Kristus yang mengubah semuanya. Praktik meditasi buddhis, sebagai contoh, tidak mensyaratkan orang untuk memeluk agama Buddha. Mereka diajak untuk mengenal misteri Allah dalam diri manusia sendiri. Tidak juga mengherankan bahwa praktik yoga diminati oleh aneka lapisan masyarakat, demi kesehatan, misalnya. Poinnya, pertobatan Paulus tak perlu dipersempit dalam soal agama. Ia berjumpa dengan Tuhan dan jatuh cinta pada-Nya. Selebihnya, tindak-tanduknya mengalir dari cinta itu.

Paulus menegaskan: Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan (Rm 14,8). Karena itu, untung rugi tak ada artinya lagi bagi Paulus. Yang dulu keuntungan menjadi kerugian, dan yang dulu kerugian menjadi keuntungan. Poinnya: tolok ukur apa yang kita pakai untuk menilai sesuatu sebagai keuntungan atau kerugian?
Duit? Pasti ada untung rugi.
Popularitas? Pasti juga ada untung ruginya.
Relasi? Relasi dengan siapa… Dengan yang dicinta-matii… siapa yang dicinta-matii itu? Hmmm…..
mestinya ada yang kita cinta-matii dan relasinya tak bakal memuat lensa untung rugi. Siapa itu? Tahu sendirilah… tapi kalau gak fokus ya pasti orang terseret pada hitung-hitungan untung rugi. Ehmmm…


KAMIS BIASA XXXI
6 November 2014

Flp 3,3-8a
Luk 15,1-10

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s