Cinta Kok Wajib

Bendahara atau administrator yang diceritakan dalam perumpamaan hari ini kiranya bukan orang yang dibayar dengan gaji tertentu untuk mengurus harta pemilik perusahaan. Ia hidup dari komisi yang diterimanya dari mekanisme hutang orang-orang kepada tuannya. Artinya, ia memang punya hak untuk memberikan pinjaman barang milik tuannya kepada orang yang membutuhkan. Ia mendapat komisi dari mekanisme hutang piutang itu. Berapa besarnya? Bergantung dari besarnya pinjaman, yang memang bisa jadi arbitrer, suka-suka si bendahara ini mengkalkulasikannya.

Bayangkanlah penjual bensin eceran atau penjual uang receh yang tentu saja butuh cara untuk mendapatkan keuntungan. Bisa jadi yang dijual tidak persis satu liter atau tidak persis seratus ribu tetapi ia mendapat uang seharga satu liter dan uang seratus ribu. Trik itu tentu sudah ada sejak zaman batu, meskipun tidak perlu memakai jargon ‘discount’. Pokoknya cerdiklah bendahara itu. Ketika tahu akan dipecat, ia mendekati orang-orang yang berhutang dan ia melepaskan komisinya. Piye ceritanya? Yang pinjam 100 tempayan itu sebetulnya cuma pinjam 50 tempayan. Maka dia buat surat hutang baru yang sesuai dengan kenyataannya, sehingga ia tak dapat komisi dari situ. Begitu juga yang berhutang 100 pikul gandum; sebenarnya ia hanya mengambil 80 pikul dan si bendahara membuat surat hutang baru yang menyebut 80 pikul gandum.

Bendahara ini kehilangan potensi komisi yang diperolehnya dari mekanisme hutang piutang itu, tetapi jelas ia mendapat simpati dari orang-orang yang telah berhutang. Relasi dengan orang-orang inilah yang kiranya bisa membantu dia setelah kelak jadi pengangguran. Maka, pujian terhadapnya tidak tertuju pada ketidakjujurannya, tetapi pada upaya kreatifnya menjalin relasi yang bisa menyokong hidupnya kelak. Yesus seolah mewanti-wanti supaya ‘anak-anak terang’ belajar dari ‘anak-anak dunia ini’ yang senantiasa waspada dan berjaga-jaga (sementara ‘anak-anak terang’ malah tidur dengan damainya).

Dunia terbagi antara mereka yang mencinta dan mereka yang tak mencinta! Orang yang penuh cinta itu kreatif dalam menyalurkan energi cintanya; tak pernah tinggal diam dan mesti saja menemukan hal-hal baru yang dilihatnya sebagai saluran energi cintanya yang kreatif. Sebaliknya, mereka yang tak mencinta, meskipun mengklaim beriman, hidupnya pasif, menunggu perintah, menunggu hari atau jam ibadat. Persis karena hidup beragama diterimanya sebagai kewajiban belaka, yang mengalir dari luar, turun dari langit. Aneh aja orang cinta kok wajib. Mereka tampaknya menikmati hidup yang ceria dan menggembirakan tetapi tak menghasilkan apapun yang memancarkan cinta ilahi. Cinta mengalir dari kedalaman, bukan dari kedangkalan atau keseragaman.

Tuhan, bantulah aku supaya semakin peka dan kreatif untuk menyalurkan kekuatan cinta-Mu dalam hidup sehari-hari. Amin.


HARI JUMAT BIASA XXXI B/1
6 November 2015

Rm 15,14-21
Luk 16,1-8

Posting Tahun Lalu: DPR: DaPuRmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s