Cipi Kaki Kudus

Menarik perhatian saya bahwa pada bacaan pertama hari ini disisipkan ayat 16 yang berbunyi: Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Apa ya perlu disisipkan sih? Wong tanpa ayat itu ya pesan bacaannya tidak hilang dan sayangnya saya tak menemukan tafsir atau komentar dari sumber yang biasa saya pakai. Yang masuk dalam benak saya malah memori sewaktu ikut ibadat dan di sebelah saya ada anak gadis dari Eropa Timur yang mulusnyaaaa setengah mati. Cantik pula. Tapi itu baru saya ketahui saat ibadat sampai pada Salam Damai.

Ceritanya begini. Sewaktu imam mengajak umat untuk memberikan salam kepada kanan kiri, saya memang menyodorkan tangan kanan ke sebelah saya ini. Aduh mak, canteknya (kenapa sampai tak tahu sejak sebelum ibadat ya?). Yang membuat saya kikuk ialah bahwa gadis ini tidak menyambut tangan kanan saya (cintaku bertepuk sebelah tangan dong) tetapi menyodorkan pipi kanannya! Waduh… apa saya harus berkata ‘sakitnya tuh di sini’? Agak ragu-ragu saya mendekatkan pipi kanan saya ke pipi gadis yang tebar senyum ini. Saya ikut tersenyum dan karena teringat teks “siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Mat 5,39 ITB), setelah adu pipi kanan itu saya juga hendak cipiki. Akan tetapi, ketika selesai cipika dan mau cipiki itu, gadis cantik ini malah tertawa seolah berkata “Loh kok malah mau nambah alias tanduk?”. Untunglah akhirnya ya tetap cipiki sih!

Saya kemudian sadar bahwa itulah benturan budaya yang saya alami. Saya tak biasa cipika cipiki, apalagi kepada orang yang tidak saya kenal secara dekat. Maka dari itu, saat Salam Damai saya sodorkan tangan kanan terlebih dahulu, tetapi karena gadis itu sudah terlanjur menyodorkan pipi kanannya, rasanya tak etis juga memaksakan kultur saya (ah yang bener, Romo, gak etis atau….). Tetapi dasar kultur ya, saat itu saya tak tahu bahwa ada kultur yang cuma akrab dengan cipika TANPA cipiki. Alhasil, gadis itu tertawa, tetapi juga akhirnya tidak memaksakan kulturnya dan terjadilah cipika cipiki. Nah, persoalannya, kultur manakah cipika cipiki itu? Bukan kultur saya, bukan pula kultur gadis itu!

Apapun penjelasannya, atribut kudus untuk cium itu tak bisa dimengerti tanpa perspektif teks Injil hari ini: Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Luk 16,13 ITB). Kesucian cipika cipiki tidak terletak pada tindakan cipikakinya sendiri, tetapi pada orientasi murni cinta orang kepada Si Pencipta. Betapa menjijikkannya sajian cipikaki orang-orang yang hidupnya narsis dan menginjak-injak martabat hidup sesamanya. Paulus meletakkan cium kudus dalam konteks salam persaudaraan iman, yang tak mungkin bisa diterima oleh orang-orang yang menganggap Tuhannya berbeda. Orang-orang seperti ini bisa mempertuhankan agama, kultur, seks, harta, dan sebagainya. Itu takkan compatible dengan cium kudus.

Tuhan, berilah keluhuran hati supaya orientasi hidupku senantiasa terjaga untuk memuliakan Diri-Mu dalam pelayanan kepada sesama. Amin.


HARI SABTU BIASA XXXI B/1
7 November 2015

Rm 16,3-9.16.22-27
Luk 16,9-15

Posting Tahun Lalu: Ayo Bebenah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s