DPR: DaPuRmu….

Seorang anggota DPR, entah siapa yang memilih, bisa sedemikian antusias dengan prosedur hukum semata untuk mengkritik presiden, bahkan meskipun presidennya sedang mengupayakan peringanan beban hidup rakyatnya. Barangkali memang untuk itulah DPR diciptakan… di Indonesia: omong apa saja supaya kelihatan kritis terhadap presiden dan para menterinya.

Perumpamaan bacaan Injil hari ini rentan kesalahpahaman karena pembacanya toh bisa gagal fokus, sebagaimana orang-orang muda mengelu-elukan kinerja Robin Hood (yang penting niatnya baik, gak peduli caranya!). Dikisahkan seorang bendahara yang tak jujur, tapi malah dipuji: ia sudah akan dipecat, lalu mengundang orang-orang yang punya hutang kepada tuannya dan membuat catatan hutang yang meringankan beban mereka. Tentu pujian tidak diberikan pada ketidakjujuran bendahara ini, tetapi pada kecerdikannya. Kecerdikan bagaimana?

Bendahara ini mengerti betul bahwa ia bakal berhenti bekerja dan ada baiknya ia menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang berhutang pada tuannya. Menarik bahwa ia tidak memukul rata pemangkasan hutang orang-orang itu. Ia tidak memotong 50% hutang begitu saja, apalagi menghapus hutang. Itu di luar kewenangannya untuk menjaga harta tuannya. Maka, sesungguhnya ia bertindak dalam batas-batas kewajaran: meringankan beban hidup mereka yang berhutang, tanpa menghancurkan kepemilikan harta tuannya. Tindakan itu dinilai cerdik karena merepresentasikan keadilan sekaligus amal kasih.

Loh, kok isa dibilang cerdik? Bisa jadi prosedur hutang-hutangan ala kapitalisme itu sendiri tak begitu adil secara sosial dan tuannya malah jadi rentenir penumpuk modal. Tindakan bendahara ini malah bisa memotong lingkaran kapitalis itu dan memberikan ‘keuntungan’ kepada mereka yang berhutang. Cerdik, bukan?

Lah, kok isa cerdik begitu ya? Karena pikirannya tidak semata-mata tertuju pada hartanya sendiri. Keadilan Tuhan dan cinta kasih-Nya bukanlah terutama soal harta dan hutang. Ini adalah roh keadilan yang menuntun sikap orang. Maka dari itu, orang tak perlu berfokus pada perkara-perkara duniawinya sendiri, tetapi pada prinsip-prinsip nilai yang melatarbelakangi perkara duniawi itu. Betul bahwa tidak sopanlah orang melompati pagar, akan tetapi cinta pada kemanusiaan yang tertindas tak mungkin terus menerus dikungkung oleh basa-basi sopan santun.


JUMAT BIASA XXXI
7 November 2014

Flp 3,17-4,1
Luk 16,1-8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s