Benci Dosa Cinta Pendosa

Dalam film Ben Hur edisi lama, yang jauh lebih laris dan durasinya lebih panjang, ada dialog menarik antara Messala dan Sextus, pendahulunya. Sextus mengalami kesulitan menumpas pemberontak, dan lebih sulit lagi memusnahkan pengaruh ‘ideologi’ yang ditanamkan oleh sosok yang disebut mesias oleh sebagian orang Yahudi. Messala yakin dengan solusinya: sodorkan saja ideologi lainnya.

Pada kenyataannya sejarah membuktikan bahwa ideologi tergantikan oleh ideologi lainnya jika ideologi lama itu tak cocok dengan pemaknaan kenyataan hidup konkret manusia. Orang membangun ideologi baru, tetapi yang meruntuhkan ideologi lama adalah kenyataan hidup manusia sendiri, bukan ideologi baru. Seseorang yang sangat idealis dan perfeksionis lama-lama mengalami perubahan dalam dirinya karena idealisme dan sikap perfeksionisnya ternyata terus menerus tidak klop dengan kenyataan dirinya. Ideologi komunisme hancur bukan karena ideologi kapitalisme lebih baik darinya, melainkan karena komunisme tak mampu mempertahankan dirinya di hadapan kenyataan hidup manusia.

Paulus mengingatkan pendengarnya bahwa perjuangan kita bukanlah perjuangan melawan darah dan daging, melainkan pergumulan menaklukkan kekuatan-kekuatan iblis yang menguasai darah dan daging itu. Ia tidak sedang mengajak orang untuk melawan pemerintah, tetapi mengundang orang untuk mengkritisi prinsip dan nilai yang dianut pemerintah itu. Memang de facto orang akan melihat bagaimana gubernur didemo, presiden dicaci maki, dan pemuka agama dihujat. Akan tetapi, kalau mau lebih jeli sedikit, akan terlihat bahwa yang ditentang orang sebenarnya adalah aktualisasi prinsip atau nilai yang berlawanan dengan ekspektasi dari kenyataan hidup ini. 

Distingsi macam ini memungkinkan orang seperti Yesus tak gentar berhadapan dengan ancaman pembunuhan. Artinya, dia concern pada prinsip dan nilai yang ditanamkan oleh kekuatan baik dari roh-roh yang baik. Prinsip dan nilai ini takkan hilang hanya dengan terbunuhnya seorang pejuang prinsip dan nilai itu. Ini terbukti juga dalam kasus kontemporer. Orang boleh lupa kasus wartawan Udin atau aktivis Munir, tetapi prinsip dan nilai kebenaran yang sungguh berasal dari Roh Kebenaran itu senantiasa mencari jalur untuk menguakkan dirinya.

Maka dari itu, jenis pewartaan Kerajaan Allah seperti ini tak bergantung pada kekuasaan politik. Ah, mana mungkin, Rom? Membangun rumah ibadat saja runyam! Sudah berdiri saja dibakar!

Ya persis di situlah problem cara memandang Kerajaan Allah yang mereduksinya sebagai rumah ibadat, dan rumah ibadat sendiri direduksi sebagai tembok genteng mimbar dan sebagainya. Kerajaan Allah, kalau itu sungguh-sungguh Kerajaan Allah, tak akan pernah dapat dikungkung oleh agama, bangunan, orang, kepentingan politik dan sebagainya. Kerajaan Allah mengikuti gerak Roh Allah sendiri yang melampaui segala kepicikan. Itu mengapa Yesus concern pada keserigalaan Herodes lebih daripada kemungkinan yang diakibatkan oleh karakter keserigalaannya itu. Itu mengapa Yesus meratapi Yerusalem yang membunuh nabi-nabi mereka sendiri meskipun ia tetap rindu merengkuh anak-anak Yerusalem dalam cintanya.

Barangkali begitulah orang bijak: menentang kekuatan dosa yang merasuki orang, tetapi mencintai pendosanya supaya bertobat. Eaaaaa.. susah keleus. Ya ember, kalau gampang mah dari dulu sudah banyak orang bertobat karena punya pengalaman dicintai.


KAMIS BIASA XXX
27 Oktober 2016

Ef 6,10-20
Luk 13,31-35

Posting Kamis Biasa XXX B/1 Tahun 2015: Hati-hati dengan Pusat Agama
Posting Kamis Biasa XXX Tahun 2014: Apa Sih Yang Ditakutkan?