Bapakku

Curcol lagi deh, tapi kalau tak mau baca juga gak apa, bisa tonton video parodi ini lagi. Ini bukan demi pilpres 2019, tapi kalau mau dua periode juga saya no problem kok:

Dari teks bacaan hari ini saya dapati sosok Allah pengampun, yang menyembuhkan dari kedalaman diri orang, dan itu saya mengerti juga dari sosok bapak. Bapak Anda mungkin juga begitu, tetapi karena ini curcol saya ya biarlah saya cerita tentang “bapakku” itu.

Jadi ceritanya gini [belum apa-apa kok sudah kesimpulan]. Kalau Anda tanya kenapa saya jadi imam Katolik, saya cuma bisa jawab ikut-ikutan aja. Sudah sejak SD saya ikut-ikutan masuk kelompok ini itu sampai akhirnya ndaftar ke seminari dan kok ya ndelalahnya diterima. Sebelum masuk seminari itu (SMA empat tahun, berasrama, cowok semua, di Magelang, 10% siswanya kelak jadi imam Katolik) saya kepikiran untuk masuk SMA negeri di bilangan Jakarta Selatan saja dulu. Ntar-ntar ajalah kalau mau jadi imam. Tapi toh akhirnya saya tetap masuk seminari juga.

Setelah selesai, saya bingung antara jadi imam di Jakarta dan jadi imam biarawan (internasional). Akhirnya ndaftar ke institusi internasional. Ndelalahnya diterima, tetapi belum sebulan di tempat pembinaan saya sudah bergejolak dan mengambil langkah konkret untuk pindah ke Jakarta, jadi imam di Jakarta. Saya tak tahu apakah bapak saya mendengar soal ini. Singkat cerita, setelah lulus pembinaan selama dua tahun, saya kuliah filsafat di Jakarta dan kontak dengan bapak relatif lebih terbuka daripada tahun-tahun sebelumnya. Selepas studi filsafat saya bekerja di lembaga pendidikan di kota gudheg dan di situlah saya mulai menimbang kembali niat untuk jadi imam di Jakarta.

Pada masa-masa itu bapak saya ini, meskipun tidak pernah mengenyam pembinaan rohani ala pertapa, pernah mengingatkan saya bahwa kerja Roh Jahat itu bisa sangat lembut. [Buset jangan-jangan bapak saya ini dulunya pertapa.] Katanya, Roh Jahat itu bisa bersuara baik. Wuiiih bapakku pancèn kêrèn!

Nota bene, bapak simbok saya paling anti kalau saya mundur gara-gara perempuan sehingga saya bernazar takkan mundur hanya gara-gara perempuan. Tapi apa daya, pada saat saya bekerja itu, memang ada problem yang terkait dengan wanita [oh wanita], dan bersamaan dengan itu saya hendak mempertimbangkan kembali untuk jadi imam di Jakarta. Berat rasanya untuk mengutarakan hal itu kepada bapak. Bapak simbok saya sangat antusias saya jadi imam, dan kalau saya bilang saya mau mundur (apalagi karena wanita oh wanita), itu pasti akan melukai mereka. Apa yang terjadi?

Sewaktu saya tiba di rumah, langsung duduk berhadapan dengan bapak saya. Saya ingin mengungkapkan isi hati saya, minta maaf karena tak bisa memenuhi harapan bapak simbok, tetapi kelu rasanya. Mungkin bapak saya membaca raut wajah, tahu-tahu dia bilang,”Ya wis Lé, bapakmu ora popo kalau kamu memang tidak bisa terus.”

Pada momen itu tiba-tiba malah saya jadi merasa bebas alias plong. Harapan bapak simbok tak lagi saya terima sebagai beban, dan akhirnya malah saya tidak jadi mundur. Pemahaman bapak saya membebaskan saya untuk move on. Kiranya Allah juga begitu.


HARI JUMAT PEKAN BIASA B/2
12 Januari 2018

1Sam 8,4-7.10-22a
Mrk 2,1-12

Posting Tahun A/1 2017: Markide atawa Markibo
Posting Tahun C/2 2016: Bergunakah Gagal Fokus?
Posting Tahun B/1 2015: Hari Gini Tuhan Masih Menghukum?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s