Tatapan Jumanji

Kalau menonton film Welcome to the Jungle di akhir tahun lalu, mungkin Anda masih ingat istilah smoldering intensity yang diterjemahkan sebagai tatapan membara, kekuatan yang dimiliki karakter Dr. Smolder Bravestone yang diperankan oleh Dwayne Johnson. Sekarang mari alihkan sejenak tatapan membara itu kepada tatapan yang diarahkan seseorang kepada orang lainnya yang dia benci. Atau peragakanlah tatapan penuh kebencian kepada orang lain itu. Silakan pakai cermin untuk membantu meyakinkan apakah Anda sudah punya tatapan kebencian ala sinetron.

Kalau itu susah, coba ingat-ingat apakah Anda pernah ditatap seseorang dan dari tatapan itu Anda menyimpulkan orang itu benci atau tak suka kepada Anda. Kalau Anda tak ingat lagi pengalaman itu, Anda boleh berbahagia karena mungkin memang Anda tak punya pengalaman dibenci, tetapi boleh prihatin juga mungkin Anda sudah amnesia.

Lewi yang dikisahkan dalam teks bacaan hari ini tentu sudah akrab dengan tatapan membara penuh kebencian, ketidaksukaan, terhadap dirinya dari orang-orang yang terpaksa berurusan dengannya. Warga kota yang sebel karena dia kolaborator bangsa penjajah, garong, koruptor yang tak kunjung kena OTT, dan sebagainya. Lewi sudah biasa dengan pergunjingan dan judgment terhadap dirinya yang ancur ya ancur

Apakah tatapan warga kota, pemuka agama, ahli Kitab Suci, dan orang-orang lain yang mencibirnya itu mengubah Lewi? Apakah kejengkelan mereka mempertobatkan Lewi? Apakah pengetahuan para ahli mengenai moralitas agama mentransformasi hidup Lewi? Rupanya tidak. Sudah ratusan, ribuan tatapan macam itu yang hinggap pada sosok Lewi tapi ia toh enjoy-enjoy aja dengan cara dia mencari nafkah. Sudah biasalah yang namanya bayar mahar itu, 40 miliar, 108 miliar? Biasa, gak usah banyak cingcong, ini politik brow! Banyak orang juga begitu!

Orang-orang macam Lewi ini, semakin dihakimi dengan penilaian moral, apalagi penilainya juga sebetulnya sama-sama munafik, malah akan semakin mengeraskan hatinya, menganggap bahwa semua orang lainnya ya munafik. Mosok politik, ekonomi gak pake’ gratifikasi, hahaha… gimana bisa idup loe?
Tatapan yang mengubah Lewi justru datang dari sosok Yesus dari Nazaret yang kemarin sudah saya analogikan untuk Allah yang berbelas kasih, begitu rahim, dalam sosok ‘bapakku’. Lewi menemukan tatapan yang berbeda: begitu intens, tulus, setia, bagai cinta tak terduga. Lagi, tatapan ini menelusup ke dalam dan memantik hati Lewi, tatapan yang transparan tanpa kepentingan ideologis, mungkin naif, tapi membebaskan.

Dengan tatapan macam itu, orang tak terbebani oleh masa lalu, tak tertambat pada bentuk hidup yang jamak, dan bisa melihat alternatif yang kiranya lebih memberi harapan dan cinta. Memang sih, kata dokter cinta, kalau orang itu merasa dicintai, dia akan tumbuh dan mampu mencinta. Sayangnya tak sedikit orang lebih senang merasakan yang lain daripada cinta itu: nafsu mengejar gengsi, harta, wanita (dan pria). Ujung-ujungnya, lebih gampang memupuk kepercayaan nobody loves me.

Jangan-jangan, Allah itu sebetulnya adalah sosok nobody. Masih ingat The Humble God, bukan?
Semoga tatapan membara kita adalah tatapan seperti tatapan Allah yang Maharahim itu. Amin.


HARI SABTU PEKAN BIASA B/2
13 Januari 2018

1Sam 9,1-4.17-19;10,1a
Mrk 2,13-17

Posting Tahun A/1 2017: Kerja Miapah 
Posting Tahun C/2 2016: Batu Sandungan
Posting Tahun B/1 2015: Bukan Karena Rupamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s