Ketularan Cinta

Kalau dalam satu mobil seseorang menguap karena ngantuk, bisa jadi yang lainnya menguap ikutan ngantuk. Konon itu terjadi karena pasokan oksigen atau apanyalah berkurang sehingga menguap jadi menular. Begitu juga kasus kesurupan massal yang kali lalu saya singgung (eaaa… belum move on juga), tular menular. Heran saya, kenapa yang begituan itu lebih cepat menularnya daripada kerasukan roh baik ya?

Kalau kemarin Gereja Katolik merayakan pertobatan Paulus, hari ini dirayakan dua murid Paulus: Timotius dan Titus, seakan-akan Gereja Katolik hendak mengingatkan bagaimana kesaksian iman seseorang bersifat generatif, menumbuhkan iman orang lainnya. Pertobatan seseorang akan menyebabkan orang lainnya berpikir dan mawas diri, mempertanyakan apa yang mereka sendiri jalani. Repotnya, mereka yang hidup beragamanya dangkal itu justru lebih berfokus pada populasi daripada literasi iman, yang adalah hidayah Allah. Tak mengherankan, di negeri ini artis pindah agama bikin heboh, mantan pemuka agama menyeberang ke agama lain dan menjelek-jelekkan agama sebelumnya malah diterima dengan antusiasnya. Adakah hidayah Allah diturunkan untuk menjelek-jelekkan suatu agama?

Tapi sudahlah, itu penyakit mental masyarakat. Anda yang tercerahkan bahwa iman autentik kepada Allah YME mengatasi agama, perlu juga memperluas wacana sedikit agak keluar dari omongan soal agama. Misalnya soal pembinaan atau pendidikan. Sebagian pemain sepak bola hijrah ke klub lain. Ada klub-klub yang memang melepas pemainnya ke klub yang dianggap lebih prestisius dengan harga jual yang fantastis. Apakah pemilik klub lama bersedih hati dengan kepergian pemainnya ke klub lain? Bisa ya, bisa tidak; tetapi jelas itu cuma persoalan bisnis. Lu pergi gua bisa beli dua pemain penting.

Lha Romo ki piye, katanya kasih contoh pembinaan kok yang dibahas malah bisnis sepak bola. Oh iya ya, maaf. Romo katanya juga bisa khilaf. Saya kasih cerita senior saya aja deh. Dia ini beberapa kali mengambil tenaga muda untuk dibina jadi pustakawan. Gak main-main nih pembinaannya. Ada investasi waktu dan uang saku. Setelah sekian lama, akhirnya anak muda ini pamit dan memilih bekerja di tempat lain. Apa yang dibuatnya? Menaikkan gaji (yang bukan perkara sulit) supaya ia tidak jadi pindah haluan? Tidak! Ia mempersilakannya pergi dan bahkan memberi sangu! Dia tahu, ada karakter tertentu dalam diri anak muda itu yang akan jauh lebih berkembang dan membahagiakannya jika ia tidak tinggal bekerja di perpustakaan, meskipun investasi sudah sedemikian besar ditanamkan!

Begitulah yang diharapkan Paulus dari Timotius dalam bacaan hari ini. Tidak dibicarakannya soal agama, tetapi soal roh yang membangkitkan kekuatan, cinta dan ketertiban.
Betapa naifnya orang beragama yang senang orang lain join dengan agamanya karena populasi, karena sentimen ikatan emosional, lebih dari alasan soal koneksinya dengan Sang Pemberi Hidayah.
Betapa mulianya orang beragama yang ikut bergembira orang lain join dengan agama lain karena menemukan panggilan pribadi Allah. Kalau saya, jujur saja, belum percaya sepenuhnya bahwa kebanyakan orang berpindah agama karena panggilan atau hidayah Allah sendiri. Saya curiga bahwa itu lebih bernuansa politis, ekonomis, kalau bukan erotis. Kalau begitu halnya, memang memprihatinkan, juga karena saya tak sanggup menularkan hidayah Allah.

Ya Allah, berilah kekuatan untuk mempersaksikan hidayah-Mu kepada orang di sekeliling kami. Amin.


PERINGATAN WAJIB S. TIMOTIUS DAN TITUS
Jumat Biasa III B/2
26 Januari 2018

2Tim 1,1-8
Luk 10,1-9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s